Menyusun Plot Menggunakan ‘Three Act Structure’

12 September 2014 § Tinggalkan komentar

Banyak cara menyusun plot, terakhir kali menulis naskah aku mencoba cara ini, menggunakan metode ‘three act structure’ yang umumnya dipakai untuk menulis skenario. Awalnya sih karena aku suka nonton film dan baca-baca skenario. Menarik banget mengamati gimana screenwriter mengatur tempo cerita sembari menaikkan ketegangan dari satu adegan ke adegan lainnya dan ternyata itu ada rumusnya, contohnya ya metode three act structure ini. Novel yang menggunakan three act structure ini contohnya trilogi The Hunger Games. Pas banget tiga buku dibagi jadi bagiannya masing-masing.

Menggunakan three act structure bisa mempermudah kamu mengatur titik-titik di mana harus nanjak lebih tinggi alias ‘major plot point’. Nggak sulit menggunakan teknik ini. Yang dibutuhkan kamu udah punya tema, karakter, awal serta akhir ceritamu. Meski awal dan akhir ini nanti bisa diganti atau gimana. Intinya kamu tahu bagaimana ceritamu mengalir.  

Caranya mudah, kita ngebagi cerita yang masih dalam gambaran besar di kepala menjadi tiga bagian. Aku juga selipkan contoh, misalnya aku mau bikin cerita tentang balas dendam yang dilakukan kakak adik ke geng mafia.

Act 1 Pemanasan

Di sini kamu nulis perkenalan karakter (dan apa-apa yang dibutuhin di awal), sampai muncul pemicu konflik yang membuat si karakter harus mengambil keputusan/pilihan untuk menghadapi konfliknya atau nggak.

Contoh: Setelah kepulangan si kakak dari menuntut ilmu di luar kota, kota kecil tempat mereka tinggal dihancurkan oleh geng mafia. Si adik kehilangan kakaknya, memutuskan balas dendam.

Act 2 Konfrontasi

Nah, di sini mulai panas. Ketika si karakter mulai perjalanannya ke puncak konflik. Ketika gesekan-gesekan dimulai, si karakter harus berjuang lebih keras hingga akhirnya dia dihadapkan pada pilihan sulit, untuk terus maju atau mundur. Ketika hal-hal yang nggak diinginkan terjadi menghalangi jalannya.

Ini bakal jadi bagian paling panjang, termasuk di sini adalah pengembangan karakter (character development).

Contoh: si adik bersama kelompok yang selamat menuju kota tempat si mafia berada. Mereka dihalangi si mafia dan si adik ini menghadapi hal-hal yang nggak disangka-sangka. Eh, ternyata si kakaknya adalah bagian dari mafia.

Act 3 Resolusi

Di sinilah klimaks cerita terjadi. Saat si karakter akhirnya harus berhadapan dengan konflik itu. Kalau dia protagonis maka harus berhadapan dengan antagonisnya. Sesuatu yang dia nggak punya pilihan harus mundur lagi. Termasuk di bagian ini adalah resolusi, efek setelah dia menghadapi konflik tersebut. Kalau di film pengaruh setelah konflik bisa nggak ada, tapi kalau untuk buku sebaiknya ada. Di bagian ketika ini juga kamu harus ngiket simpul-simpul cerita yang kamu tebar di sepanjang cerita.

Contoh: si adik harus berhadapan dengan kakaknya sendiri sebelum melawan bos mafia. Ternyata si kakak ini masuk ke gerombolan mafia karena juga ingin menghancurkan gerombolan tersebut. Mereka berdua pun melawan bos mafia. Terus ending gitu deh (endingnya rahasia, hahaha). 

Kira-kira kayak gitu sih. Mudah kan? Kebayangkan? Kalau bagian-bagian tersebut dipresentasikan, menurut Janice Hardy, bisa dibagi kayak di bawah ini. Umumnya memang begitu sih, Act 2 dua kali lebih banyak dibanding Act 1 atau 3. Misalkan kamu berencana menulis sepanjang 60 ribu kata dalam 30 bab.

Act 1 25% = sekitar 15.000 kata atau 7/8 bab

Act 2 50% = sekitar 30.000 kata atau 15 bab

Act 3 25% = sekitar 15.000 kata atau 7/8 bab

Ya, nggak harus sama persis jumlah katanya segitu sih.

Nah, kalau udah menentukan awal dan akhir setiap act, kamu akan lebih mudah mengisi antaranya. Apa saja yang harus terjadi di Act 1. Apa yang harus terjadi di Act 2 dan di mana critical point yang menggiring karakter mengambil keputusan yang membuatnya berakhir pada klimaks di Act 3. Setelah itu, kamu bisa mulai tulis menggunakan kartu indeks dari setiap adegan atau outline.

Masih banyak cara yang lain untuk menyusun plot, seperti teknik snowflake. Tapi itu aku jelasin lain kali aja ya. Semoga tulisan ini bisa membantu kamu. Kalau kamu punya pertanyaan, tulis di kolom komentar ya. Selamat menulis!😀

Untuk bacaan lebih lanjut, coba intip tulisan tentang Three Act Structure di blog Janice Hardy ini.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menyusun Plot Menggunakan ‘Three Act Structure’ at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: