Mantra: Jangan Merindu

20 September 2014 § 1 Komentar

Malam selalu memberi ruang. Ketika buku yang dibaca kausudahi, saat film yang kautonton berakhir, sewaktu pekerjaan yang kaukira tak kunjung habis pun bertemu ujung. Kau diam. Sekitarmu sunyi. Kau dipaksa mendengar suara-suara malam yang seringkali kau abaikan. Jangkrik yang bernyanyi, cicak yang menyelinap di balik rak buku, angin yang berembus di luar jendelamu, dan banyak lagi, mungkin salah satunya suara yang tak kau inginkan tahu dari mana asalnya.

Kau membisu. Memangku tangan. Di bawah cahaya remang-remang yang tersisa di kamar, pandanganmu terpaku ke dinding. Mengikuti retakan cat. Mengamati pola coretan yang entah kapan kaubuat. Yang jelas, bukan semua itu yang hinggap dalam pikiranmu. Saat itu, ketika kau menyadari rindu yang kau punya hanyalah burung dalam sangkar. Indah dan terkurung.

Atau lebih tepat, rindu yang cantik yang tak pernah tersampaikan. Milikmu sendiri. Kausimpan sendiri.

Hari demi hari, jam ke jam, kau berusaha menenggelamkannya. Berpura-pura lupa memilikinya. Akan tetapi, malam begini dia kembali muncul. Berenang di permukaan. Minta diperhatikan.

Lalu kau teringat surat-surat di dalam kotak. Lembaran-lembaran penuh kalimat yang kaukarang sehari semalam. Di antaranya, tersimpan potret-potret yang bernoda dan menguning, tiket-tiket bioskop yang kaukumpulkan bertahun-tahun, dan sebuah buku tua pemberiannya.

Kamu masih duduk di kursimu dengan tatapan mengawang. Kotak itu ada dalam laci di bawah mejamu. Tidak butuh banyak usaha untuk mengambilnya. Akan tetapi, ada bagian dirimu yang berontak. Coba untuk menahan diri untuk tak melakukan itu. Jangan merindu. Jangan merindu. Rengeknya serupa balita.

Sekarang kamu mulai mengenang. Sepasang mata yang pernah menatapmu. Tangan yang pernah menggenggam jari-jarimu. Tawa renyah yang masih jelas terngiang dalam telingamu. Semua seperti baru kemarin. Apakah dia merasakan hal yang sama?

Momen-momen yang kini kauanggap klise membanjir. Proyektor dimainkan dalam kepalamu, memperlihatkan sederetan memori. Satu per satu. Hari demi hari yang pernah kalian lalui. Semuanya masih sejelas langit biru di siang hari.

Jangan merindu. Jangan merindu.

Sejenak kamu terkesiap. Menghentikan semua yang mengalir dalam kepalamu. Mencari pengalihan, buku-buku yang terlalu berat dibaca selepas dini hari, film-film yang tak bisa kauikuti lagi alurnya, dan suara-suara malam yang perlahan makin habis. Hanya tinggal angin yang mengetuk-ketukan ranting ke jendela kayumu.

Kenangan-kenangan itu mulai berdatangan kembali. Menari-nari dalam hatimu. Kamu pilu. Kamu sendu. Kamu merasakan hangat dan hentakan di dada. Sesuatu berdesir di perutmu karena rindu. Rindu yang kausuka dan menyiksa.

Jangan merindu. Jangan merindu.

Mantra itu tak lagi berlaku. Sekuat apa kamu mengingatnya. Sekeras apa kamu mengucapkannya. Tak ada yang bisa menghentikan rindu yang menyerbu.

Kamu masih duduk di kursimu. Tatapanmu berkilau bagai berlian. Surat-surat lama bertebaran di mejamu, menutupi buku yang ingin kau baca. Setumpuk tiket bioskop duduk di salah satu sudut meja. Kaueja satu demi satu judul di sana. Pada saat itu, kau tahu tak pernah lupa film-film yang pernah kalian saksikan bersama.

Kau baru berhenti saat malam makin habis. Lelah mengenang. Menyisakan ngilu hati dan sedikit rasa riang. Kamu tidur nyenyak setelah sebelumnya merapal doa agar dia bahagia.

Jangan merindu. Sekarang kautahu kalau mantra itu palsu.

§ One Response to Mantra: Jangan Merindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mantra: Jangan Merindu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: