Terbang Bersamaku

11 Oktober 2014 § 2 Komentar

tumblr_ncfb18A7IK1qfg9zgo2_500

“T minus tujuh menit dan tiga puluh detik. Lengan akses pesawat ditarik.”

Aku duduk dengan gelisah. Suara itu terdengar jelas dalam kepalaku. Aku tidak mendengar apa-apa lagi. Terlalu riuh. Lama sekali aku menunggu saat-saat itu. Dan aku mendongak, membayangkan langit yang terbentang luas.

“Menurut kamu ini bakal bagus?”

Pertanyaan itu meluruhkan sebagian lamunanku. Aku mendengus. Barusan aku berkhayal duduk satu pesawat bersama Matthew McConaughey dan siap meluncur ke angkasa. Barusan saja, pria di sebelahku ini bertanya. Menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu.

Aku mendengus, menatapnya mengunyah pop corn. Aku tahu pasti kalau dia sesungguhnya tidak ingin sangsi juga, tapi karena pengalamannya dengan film The Dark Knight Rises, memang pantas sih dia bertanya begitu.

“Kan kata review kayak gitu. Kata Paul Thomas Anderson juga gitu. Edgar Wright.”

“Kan kata mereka,” sambungnya dengan nada menyebalkan. Padahal dulu dia yang mengenalkanku begitu gigih pada Christopher Nolan.

“Udah sih. Udah nunggu dua tahun. Kok masih nanya,” kataku kesal. Aku benar-benar antusias menunggu film ini sejak kali pertama mendengar nama Nolan disebut mengepalai proyek ini. Temanya yang tentang perjalanan ke luar angkasa dan lubang cacing benar-benar menyedot seluruh perhatianku.

“Ya, siapa tahu aja. Siap-siap buat yang terburuk,” sahutnya.

“Terserah.”

“Ya ngambek.”

Aku memandang sekeliling. Selain kami berdua, tak ada seorang pun yang masuk ke dalam studio ini. Pemandangan ini membuatku agak sedih. Demi Nolan, harusnya nggak sesepi ini juga sih, meski jam tayang paling larut. Aku menghela napas panjang. Film ini memang bukan dari franchise Batman, tapi ini tentang petualangan ke kosmos!

“Nggak ada orang ya.” Dia berkomentar dengan nada datar.

“Padahal kan Christopher Nolan,” sahutku.

“Mungkin udah kehilangan mantranya, jampi-jampinya.”

“Sayang banget. Padahal kan bakal bagus. Rasa-rasa 2001: A Space Odyssey.”

“Memangnya kamu tahu bakal bagus?”

Sekarang, aku menoyornya, sampai beberapa butir pop corn berjatuhan ke pangkuannya.

“Bukan! Tapi nggak ada yang lihat kita keren-keren gini cosplay pakai EVA* suit!”

Saat itu juga, lampu studio mulai dimatikan. Aku celingak-celinguk, mencari-cari kalau ada orang lain yang mengisi deretan-deretan kosong. Agak ngeri juga sih ngeliat studio seluas ini cuma diisi kami berdua. Untung saja bukan nonton film horor.

“Udah waktunya,” dia berbisik di telingaku, “Selamat terbang.”

“T minus nol. Menyalakan solid rocket booster.”

Kami akan terbang. Berdua saja.

**

Aku membeku di kursiku ketika layar menghitam. Nama Christopher Nolan muncul di sana. Di dalam benakku rasanya hangat. Aku tidak ingin berkata apa-apa. Penantian selama hampir dua tahun ini terbayar sudah.

Kami masih sama-sama dia membeku. Sebagian adegan dari film Interstellar yang kami tonton masih melayang dan melayang dalam ingatan. Aku masih ingat saat Endurace melintasi Saturnus. Aku tak bisa menahan teriakanku. Memekik dan sedikit berkaca-kaca. Aku selalu punya impian menjadi astronaut. Impian yang tak pernah mungkin jadi kenyataan.

Senyumku terus terpasang saat membayangkan Endurance meluncur masuk melewati lubang cacing. Melintasi lubang hitam. Aku terganga. Aku harap suatu hari saat peristiwa seperti itu terjadi, aku masih hidup. Aku bisa ikut menikmati euforia. Bukan sekadar merayakan fiksi, tetapi sesuatu yang nyata.

Aku menghela napas panjang. Menoleh padanya yang sama terpakunya denganku ke layar.

“Ayo, aku nggak mau tinggal sampai credit title-nya selesai. Aku udah nunggu lama dan aku nggak mau selesai,” kataku tercekat.

“Sebentar lagi,” ucapnya cuek.

“Ayo dong, Jonathan. Besok kan mau nonton lagi.”

“Sebentar,” katanya agak keras.

Aku kembali duduk. Menatap baris-baris nama yang tertera di credit title. Bukan kebiasaanku duduk sampai selesai, terlebih jika aku benar-benar menyukai filmnya. Seperti tidak ingin berakhir, jadi akan kusisakan sesuatu.

“Nunggu apa lagi sih?”

“Nunggu credit title-nya selesai.”

“Kan nggak ada easter eggs-nya,” rengekku, tetapi dia bergeming. “Studio ini benar-benar cuma berisi kita berdua ya. Mereka nggak tahu ya kalau yang diputer di sini filmnya Christopher Nolan. Fiksi ilmiah dari Christopher Nolan.”

“Iya, kan spesial dari Christopher Nolan, makannya duduk dulu sampai credit title-nya selesai.”

Dan aku pun duduk diam di sebelahnya. Sampai benar-benar tak ada apa-apa lagi di layar. Namun, bukannya lampu-lampu ruangan itu segera menyala dan layarnya dimatikan, justru diputar ulang trailer dari Interstellar. Ada empat trailer dan kami masih duduk di situ. Meski aku bertanya-tanya maksudnya.

“Bisa minta puter lagi nggak sih? Mau deh di sini semalaman kalau mereka muterin non-stop.”

Aku terbahak. Namun, justru dia tidak menanggapiku. Mukanya terpasang serius. Bahkan pop corn besar yang biasanya selalu dia habiskan, masih setengah tersisa.

Sekarang, layarnya benar-benar menggelap. Ruangan itu perlahan terang. Aku hendak berdiri, namun dia menarik tanganku. Mencengkeramnya malah dengan begitu keras.

“Apa sih?!” Aku hendak menepisnya tetapi pandanganku terpaku ke layar.

HAPPY BIRTHDAY, TIA.

WILL YOU MARRY ME?

Sejenak, aku mematung. Sesungguhnya aku merasa seperti tidak sedang menjejak tanah. Benakku bergemuruh. Astronaut di depanku bangkit berdiri. Karena tidak hati-hati dia menjatuhkan seluruh pop corn-nya. Jonathan nyengir, menepuk-nepuk pop corn yang menempel di EVA suit-nya.

“Terbang bersamaku, ya?”

Dia meraih tanganku. Kali ini dengan lembut.

Aku tersenyum lebar dan memeluknya. “Tentu saja! Kita akan terbang bersama!”

 

H-25 Interstellar. Masih di Bumi.

*EVA: Extra Vehicular Activity, aktivitas yang dilakukan di luar pesawat.

§ 2 Responses to Terbang Bersamaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Terbang Bersamaku at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: