Perpisahan tak pernah mudah

22 Oktober 2014 § Tinggalkan komentar

Bus jemputan yang hanya terisi setengah kapasitas ini melaju tanpa pengemudi. Sunyi dan sepi, tak ada mulut-mulut yang berbicara, bahkan sepasang anak kecil yang duduk di hadapanku. Mereka berlutut di atas kursinya masing-masing, memandang keluar jendela. Di sana, semua abu-abu, salju dan debu yang jadi satu.

Kusunggingkan senyum pada perempuan dengan terusan merah yang tampaknya adalah ibu dari kedua anak itu. Ketika aku melihatnya, aku langsung mengerti mengapa dia ada di sini. Ini kali pertama kunjunganku ke Baikonur Cosmodrome, harusnya aku antusias karena tidak sembarangan orang bisa datang ke sini. Namun, setiap kali memikirkan hari esok, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan bergelung di bawah selimut.

Pelan-pelan, di balik tebalnya kabut, mulai tampak sosok-sosok tinggi besar dalam jarak-jarak tertentu. Kedua anak lelaki dan perempuan tadi kini bersuara, menepuk bahu ibu mereka untuk bisa ikut melihat. Aku ikut memandang ke arah yang sama, sementara bus kami melaju, melewati satu yang paling dekat. Sebuah shuttle dan roket pendorong yang moncongnya menghadap ke langit, tapi kini masih tertutup awan. Bukan hanya satu, sejak tadi dalam hitunganku sudah ada tiga yang tertangkap mata.

Ibu anak-anak itu kembali tersenyum padaku. Pastilah suaminya yang akan jadi penumpang salah satu shuttle itu. aku mendongak, membayangkan apa yang ada di balik langit sana. Seperti apa rasanya menyaksikannya sendiri. Perjalanan ke luar angkasa bukan lagi hal mewah, namun bagi banyak orang berpenghasilan pas-pasan sepertiku, tetap saja menjadi angan-angan.

Bus pun terus melaju, shuttle itu kembali lenyap dari pandangan. Di luar sana pasti sangat dingin. Ini Rusia di penghujung tahun dan aku pun sudah tahu sejak tahun lalu kalau di waktu inilah mereka akan berangkat. Udara pasti membeku, membuat perasaan menyesakkan yang sejak tadi berdiam dalam dadaku makin terasa penat dan berat.

Di lobi sebuah gedung yang tak terlihat ujungnya, bus akhirnya berhenti. Aku menarik napas dalam-dalam dan benar saja betapa menggigitnya udara di situ. Cepat-cepat aku menuju pintu pemeriksaan. Tadi aku sudah mengecek kalau undanganku masih ada, kalau tidak punya itu aku harus terpaksa gigit jari dan keluar dari tempat itu.

Aku mengantre di belakang ibu dua anak yang satu bus denganku tadi. Petugas yang menjaga kelihatan begitu ramah kepadanya dan menyapa hormat. Sementara itu, saat memperlakukanku, petugas perempuan itu hanya tersenyum sedikit, memeriksa bawaanku dan menyuruhku untuk segera. Antrean di belakangku masih panjang dan di atrium gedung ini ternyata lebih banyak orang. Ke mana aku harus menuju?

Kupercepat langkahku dan menghampiri ibu tadi. Sebenarnya, dia belum terlalu tua, masih cantik, segar, dan mungkin umurnya hanya belasan tahun bedanya denganku.

“Maaf, apakah Anda tahu ruang pertemuannya di mana?” tanyaku tanpa basa-basi.

Dia tersenyum kepadaku. “Aku tahu. Ayo, bareng kami saja,” katanya begitu ramah. “Namaku Agripinna, dan ini Abhirama dan Diva.” Dia memperkenalkan juga kedua anaknya.

Kami berjalan tersendat-sendat di atrium yang padat itu. Orang-orang dengan seragam merah dan biru khas Lembaga Penelitian dan Riset Luar Angkasa Internasional berseliweran. Ekspresi-ekspresi yang sibuk dan tegang. Di atas langit-langit atrium terproyeksi hologram dari Majapahit I, starship kebanggaan yang sebentar lagi akan melaksanakan misi perdananya.

Kusadari sesaat setelah terpana melihat betapa besar kapal itu—yang kulihat memang hanya versi miniaturnya, tetapi aku bisa membayangkan megah dan gagahnya jika melihat langsung. Warnanya gelap, panjangnya hampir 300 meter dan berat kotornya mencapai 10000 ton. Dua informasi terakhir, aku membaca dari keterangan yang tertera di dekatku. Warp drive versi terkini dan paling canggih sudah diinstalasikan di kapal tersebut. Dua tahun perjalanan untuk menempuh 27 tahun cahaya, itu luar biasa, meski Pascal bilang untuk masih jauh dari keren. Akan tetapi, itu yang paling mutakhir hasil karya manusia sekarang.

Agripinna berdiri tak jauh dariku, kedua anaknya sama terpana denganku. Mereka mendongak ke langit-langit, menatap dengan mulut ternganga. Aku mendekati Agripinna, nyengir sambil memberitahu kalau ini kali pertama kedatanganku ke sini. Sayangnya, Majapahit I tidak diparkir di Baikonur Cosmodrome sekarang, melainkan di Stasiun Lunar II. Dari sanalah, Pascal akan berangkat, menembus tata surya.

Pascal adalah kekasihku. Dia menjadi bagian dari tim peneliti yang ikut berangkat bersama Majapahit ke Alhazen. Dia satu dari puluhan ribu pelamar yang lolos seleksi dan menjadi bagian dari 200 orang yang akan menjelajahi bintang-bintang demi misi terraforming. Sejak awal aku tahu dia akan bisa bergabung sebab Pascal sudah punya pengalaman ikut dalam tim terraforming Titan, salah satu satelit Saturnus.

Kami masuk ke ruangan lain yang tampaknya adalah kafetaria. Sama seperti Atrium, orang berjejalan di dalam sana. Hari ini waktu terakhir untuk bertemu anggota tim sebelum waktu keberangkatan. Tentu saja, semua ingin mengucapkan perpisahan sebelum shuttle-shuttle di luar tadi membawa mereka ke Bulan. Aku terdiam sejenak, memandang tempat itu sambil menarik napas panjang. Kusuruh Agripinna dan kedua anaknya menunggu sementara aku mencarikan tempat kosong untuk kami.

Setelah menyusup ke sana-sini, akhirnya aku mendapatkan tempat yang cukup untuk kami. Buru-buru aku berlari kembali ke Agripinna. Agar lebih cepat, aku menggandeng tangan Diva ketika menuju ke tempat yang kudapatkan. Kami memisahkan meja dan menunggu sendiri-sendiri. Pascal datang tak lama setelah itu. Dia tampak semringah dalam balutan seragam biru khas bagian sains. Aku berusaha tersenyum senang, namun wajahku serasa baru saja dicelupkan ke es batu.

Aku tidak ingin dia pergi.

Pascal memelukku begitu erat. Membisikkan betapa dia merindukanku dan mencintaiku. Aku menghela napas panjang, melingkarkan tanganku di tubuhnya yang tegap.

“Aku kira kamu benar-benar tidak akan datang,” katanya, menggenggam tanganku. Matanya tak henti menatapku.

Aku tidak ingin dia pergi. Bisakah aku menyetop waktu untuk berhenti di sini?

Kusunggingkan senyumku, mencoba untuk lebih baik dibanding tadi. “Aku ingin melihatmu,” kataku begitu pelan. Bahkan aku tidak yakin dia bisa mendengarku. Namun dia tidak memintaku mengulang kata-kataku barusan.

Aku menundukkan kepala. Tidak sanggup menatapnya lama-lama. Bagaimana kalau aku merindukan sepasang mata cokelat madu itu?

“Kalau begitu lihat aku, Kania.” Genggaman tangannya mengerat.

Lambat-laun kedua mataku terasa memanas. Aku tak bisa menatapnya dengan air mata. Aku tidak ingin dia tahu betapa berat aku melepaskannya. Maka, aku hanya membisu.

“Jadi, kamu cuma mau diem-dieman kayak gini sampai aku berangkat?”

Kupejamkan mataku keras-keras. Kueratkan genggaman tanganku. Justru itu membuat perasaanku makin tak karuan. Bagaimana di lain hari, ketika aku tidak bisa menemukan tangannya untuk kugenggam? Aku sulit membayangkannya.

Kami sudah membicarakan ini berbulan-bulan lalu. Nanti setelah dia pulang dengan uang yang didapatnya dari proyek ini, kami akan menikah dan mungkin pindah ke Venus, meski keadaan di sana tidak lebih baik daripada di sini. Setidaknya, Venus tidak terlalu padat seperti Bumi.

Saat aku mengangkat wajah untuk menatapnya. Pipiku sudah basah oleh air mata. Mukanya yang tampan kini kabur. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi yang keluar malah sesenggukan keras. Aku malu menangis di depan banyak orang, tetapi aku tak bisa menahannya lagi setelah berhari-hari. Pascal menggeser kursinya dan langsung merengkuh tubuhku lagi. Kuhapus cepat-cepat air mataku. Kedua anak Agripinna menatapku dengan heran. Mereka masih duduk bertiga. Padahal, kami tidak punya waktu sepanjang hari untuk mengucapkan perpisahan. Setelah makan siang nanti, Pascal dan siapapun yang ditunggu Agripinna harus sudah berangkat menuju Stasiun Lunar II.

Kira-kira satu setengah jam lagi.

Dan rasanya sekarang detik demi detik terasa begitu cepat.

Perasaan hangat mengalir saat Pascal mengelus punggungku. Dia mengendurkan pelukan, tersenyum padaku. Giginya berbaris rapi mengintip. Lesung pipinya terbentuk. Bentuk wajah yang selalu menciptakan rindu di benakku. Mau tak mau aku ikut tersenyum.

“Aku selalu suka senyum kamu,” katanya. “Jadi, senyum terus ya. Buatku.”

Kulebarkan senyumku mendengar permintaannya.

Kemesraan kami terjeda sejenak saat seorang pria bermantel hitam menyenggol kursi yang kududuki. Aku terlonjak, menoleh ke belakang. Pria itu meminta maaf terburu-buru. Rambut pirang keemasannya berantakan, begitu pula syalnya yang dipasang asal-asalan.

Aku menangkap anggukan segan kekasihku kepada pria itu. Emblem di pakaiannya yang berwarna hitam membuatku tahu kalau dia dalam misi yang sama dengan Pascal. Kutatap Pascal yang langsung disahutinya dengan jawaban, “Bos besar.”

“Ohh… aku tadi kemari bareng dengan istrinya,” tambahku. “Sederhana dan baik banget. Nggak nyangka ternyata istri bos kamu.”

Dengan cepat topik itu berganti. Kami membicarakan banyak hal, macam-macam obrolan yang membuatku berpikir dan tertawa. Pascal selalu bisa melakukan itu dan berhasil untuk mengembalikan mood-ku. Itulah mengapa aku begitu menyayanginya. Aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hari-hari sendirian seperti dulu.

Kupandangi matanya dengan seksama. Garis-garis halus di sudut kelopaknya. Bentuk alis dan tulang pipinya yang tinggi. Entah apa yang keluar dari mulutnya, aku hanya ingin mereka setiap senyum, setiap mimik, setiap lirikan mata yang dia berikan kepadaku. Aku menyentuh pipinya, membuatnya tiba-tiba berhenti bicara.

“Kenapa?” tanyanya, meraih tanganku.

Aku menarik napas panjang. “Aku tidak ingin datang karena tidak ingin melepasmu. Menjadi yang ditinggalkan adalah bagian yang terberat, Pascal.”

“Aku tahu, Kania. Maafkan aku.”

Hatiku mencelus. Aku tidak bermaksud menyalahkannya. “Maafkan aku berkata begitu.”

“Aku mengerti kok. Di ruangan ini bukan cuma kamu yang merasa seperti itu. Tapi, percayalah, aku akan kembali.”

Dan belum pernah ada yang menjelajah sampai ke tujuan Pascal nanti. Dia akan jadi salah satu yang pertama datang ke sana. Meninggalkan jejak sebagai manusia yang pernah mencapai tempat terjauh dalam sejarah. Dia menceritakanku tentang Chris Colombus, Buzz Aldrin, sampai ke Omar Saladin yang jadi orang pertama mencapai luar tata surya. Bagi beberapa orang, termasuk Pascal, menjadi yang pertama dan ter-(isi sendiri dengan kata sifat baik pilihanmu) adalah sebuah kebanggaan. Dia akan menjadi kebanggaanku, kebanggaan keluarga, kebanggaan anak-anak kami kelak.

Itu kalau dia kembali!

“Aku akan kembali. Aku janji,” dia menarikku mendekat dan menciumku. “Aku akan baik-baik saja.”

Dari sudut mataku, aku melihat Agripinna yang ditinggalkan sendiri, sedangkan suaminya mengajak kedua anaknya beranjak dari meja itu.

Aku tersenyum pada Pascal. Mencoba meyakinkan kalau aku percaya padanya.

Aku menoleh pada Agripinna, menanyakan ke mana Abhirama dan Diva.

“Suamiku menjanjikan mereka bisa melihat shuttle dari dekat,”jawab Agripinna.

Aku berharap bisa setegar dia yang tanpa air mata dan semua tampak baik-baik saja! Namun aku tidak bisa mengajak Agripinna mengobrol lebih lama karena Pascal mengajakku untuk makan bekal yang kubawa dan kubuatkan khusus untuknya. Dia memuji masakanku sebagai yang terenak karena beberapa bulan belakangan dia harus mengikuti diet ketat. Tuturnya, bahkan teman setimnya yang datang berbadan besar, sekarang jadi mengagumkan. Ya, tentu saja karena ada pembatasan berat badan bagi mereka yang bergabung ke tim terraforming itu.

Kami belum menyelesaikan makan siang ketika Chief, begitu Pascal menyapa Alexander Leonard, bos besar misinya datang dan mengembalikan Abhirama serta Diva pada Agripinna. Pria itu duduk sebentar mendengarkan kedua anaknya bercerita tentang besarnya shuttle yang baru mereka kunjungi ke ibudanya. Di bawah meja, aku tidak sengaja melihat bagaimana tangan Agripinna dan suaminya saling genggam. Mungkin perpisahanku tak ada apa-apanya dengan yang dialami Agripinna.

Tidak lama kemudian, pria itu beranjak pergi, membawa boneka kelinci dan action figure pemberian kedua anaknya, serta dia meninggalkan sebuah kotak kecil berpita untuk Agripinna. Pelukan singkat untuk kedua anaknya dan ciuman sekilas di bibir Agripinna menandai perpisahan mereka. Sebelum pria itu benar-benar pergi, Agripinna berdiri dari duduknya, membenahi syal suaminya. Hanya seperti itu saja, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa ucapan sampai jumpa kembali. Seakan-akan itu sudah jadi rutinitas dan besok pria itu akan kembali pada istrinya.

Aku mengajak Pascal untuk bergabung bersama Agripinna dan kedua anaknya. Meja kami menjadi ramai kembali. Aku mencari-cari kesedihan di mata Agripinna tetapi tak kutemukan. Apa begitu mudahnya melepaskan? Sedangkan aku sejak tadi bolak-balik melihat jam besar di atas dinding kafetaria. Lima belas menit lagi aku harus berpisah dengan Pascal. Aku masih merasa belum siap. Aku tidak ingin dia pergi.

Di sampingku Pascal asik menceritakan tentang bintang merah Alhazen yang dikelilingi tujuh planet. Dari gawainya, dia memperlihatkan planet yang akan dikunjunginya. Garis-garis hologram kebiruan melayang-layang membentuk sebuah sistem keplanetan dan bintang Alhazen di tengahnya. Majapahit I akan mampir di planet c dan d. Tim perintis yang sudah lebih dulu ke sana dan menjajal warp drive terbaru menemukan bahwa planet itu memiliki kandungan es beku dan lapisan atmosfir. Juga, kondisinya jauh lebih kondusif dibanding Mars yang sampai sekarang masih seperti gurun. Kemungkinan besar terraforming planet c akan berjalan lebih cepat dibanding Mars, dalam jangka waktu beberapa puluh tahun sudah akan dapat ditinggali.

Oleh karena itulah, proyek ini dikerjakan dengan segera.

Abhirama dan Diva mendengarkan dengan antusias, menanyakan ini dan itu yang dijawab Pascal sama bersemangatnya.

Sepuluh menit berlalu sekedipan mata. Terdengar pengumuman yang meminta kru dan staf Majapahit untuk segera berkumpul di aula. Briefing untuk persiapan keberangkatan akan segera dilakukan. Aku dan Pascal berpandangan. Dia meraih tanganku dan menarikku berdiri.

“Jaga dirimu, Kania,” katanya dengan suaranya yang berat dan dalam. “Aku melakukan ini untukmu. Semuanya untukmu. Aku ingin kau, keluargamu, dan semuanya bangga kepadaku. Aku akan membuktikan kepada mereka kalau aku memang pantas untukmu.”

Runtutan kalimat itu membuatku langsung memeluknya. Aku punya segudang kata-kata yang ingin kuucapkan, tetapi semua tertahan di dalam dada. Air mataku tumpah tanpa suara. Rahangku mengencang menahan isak. Saat Pascal mencium puncak kepalaku, aku tahu waktu kami sudah selesai.

Di antara air mata yang turun, aku tersenyum padanya. Matanya kini merah.

“Aku harus pergi, Kania,” ujarnya.

Aku menganggukkan kepala. Dia berbalik, hilang di tengah lautan manusia. Selama beberapa jenak aku masih berdiri di situ. Terpaku dengan pikiran kosong. Aku masih ingin dia ada di sini.

Aku duduk di sisi Agripinna yang tersenyum simpatik padaku.

“Perpisahan tidak pernah mudah, Kania.”

“Kamu nggak menangis,” kataku menghapus air mata.

“Aku sudah melakukannya kemarin-kemarin. Itu cukup menolong juga hari ini,” ujarnya.

Aku tidak tahu itu serius atau bercanda, tetapi aku tertawa kecil dan menerima tisu yang dibagi Agripinna. Dia membuka kota pemberian suaminya, ada kalung mutiara di dalamnya.

“Itu cantik banget,” pujiku.

“Bulan depan ulang tahun ke dua belas pernikahan kami,” kisahnya. Mengangkat kalung itu dengan lembut dan meletakkan kembali. “Alexander menginginkan perjalanan petualangan ini sejak lama. Aku mendukungnya, tidak punya pilihan lain.”

“Tidakkah ini semua terdengar egois?” tanyaku.

“Dia melakukannya untukku, untuk anak-anak kami, dan ini adalah sesuatu yang baik. Aku akan egois kalau sampai melarangnya,” jelas Agripinna, “Mereka akan kembali, Kania.”

Aku menarik napas panjang. “Aku takut.” Kujeda kalimatku sejenak.”Bagaimana jika mereka tersesat? Tidak bisa kembali? Mesin mereka meledak? Warp drive gagal berfungsi? Diserang alien? Kami akan kehilangan kontak beberapa tahun. Kita tidak benar-benar tahu apa yang terjadi kepada mereka sampai mereka kembali. Apapun itu, yang terburuk yang bisa terjadi. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.” Aku penuh histeris sambil mengacak rambut hitam pendekku.

Aku kembali menghela napas, menatap ke sekitarku. Banyak wajah-wajah sepertiku yang layu dan kuyu, yang masih tergenang air mata. Beberapa tampak tertawa pahit. Perpisahan tak pernah mudah, meskipun akan bertemu kembali. Jarak itu nyata, rasa sakitnya serupa pisau tajam yang menggores jarimu.

“Aku pun merasakan hal yang sama. Namun, ketakutan seringkali tak akan membawamu ke mana-mana. Doakan selalu kekasihmu, Kania, untuk enam tahun ke depan. Apapun bisa terjadi, tetapi selalu berharaplah yang terbaik.”

Kami bersitatap. Aku tak bisa menemukan kecemasan di sana karena dia percaya, Agripinna selalu percaya kepada suaminya. Detik itu aku mencoba. Mencoba untuk percaya.

“Aku akan melakukannya.”

Tidak punya pilihan lain.

**

 

Sol III, 22 oktober. Cerita pendek dari draf panjang yang sedang ditulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perpisahan tak pernah mudah at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: