Selamat ulang tahun, Eve (bagian 2)

9 November 2014 § 1 Komentar

Baca ‘Selamat ulang tahun, Eve’ (bagian 1 dari 3) 


Tubuhku terguncang saat mendengar suara letusan senjata. Kedua mataku terbuka, menerima terlalu banyak sinar matahari, dan terpejam lagi. Telingaku menangkap lagi suara itu, beruntun, yang akhirnya memaksaku untuk bangun. Dengan hati-hati aku turun dari ranjang agar tidak membangunkan anak perempuan yang masih terlelap di sampingku. Aku menarik foto yang sudah kumal dari tangan anak itu, menaruhnya di nakas. Di sana, aku menemukan sebuah cincin keperakan. Bukan tempat cincin itu di sini. Aku meraihnya, merasakan berat dan halusnya di tanganku.

Dari ambang pintu, aku melihat pria yang kukenal baik berdiri di balik jendela dan melakukan ritual paginya. Aku menghampirinya, bersandar di birai dan menyeruput teh yang dalam cangkirnya.

“Kamu melupakan ini,” kataku, mengulurkan cincin itu padanya.

Sesaat, dia hanya membisu. Mengambil cincin itu dari tanganku dan menggunakannya. Sekarang cincin itu terlihat longgar. Seperti cincin itu memang bukan dibuat untuk ukuran jarinya kini.

“Apa yang kaulakukan?” tanyaku, mencoba mengalihkan pikiran dari cincin tersebut. “Kamu tidak bisa menonaktifkan mereka dengan peluru biasa.”

Dia tidak langsung menjawab. Melepaskan tembakan ke arah jalan di depan benteng kecilku. Sosok yang ditembaknya terjatuh, tapi masih bisa berdiri lagi dan berjalan menjauh. Kadang-kadang aku seolah melihat reaksi ketakutan terpancar pada air muka mereka. Namun, kuanggap itu ilusi, mereka sudah mati dan dikendalikan oleh robot-robot.

“Ini sangat menghibur, Eve. Seperti kompetisi tembak bebek plastik yang pernah kudatangi bersama Samantha,” jawabnya terkekeh, mengambil cangkir dari tanganku.  “Kamu mau mencobanya?”

“Aku harus bersiap kembali ke lab,” kukembalikan mug itu kepadanya.

Chris tidak membalas. Saat aku hendak beranjak dari sana, panggilan ‘papa’ membuatku menoleh. Samantha, gadis kecil yang tadi tidur di sampingku berdiri di birai.

“Pagi, sayang.” Lelaki di sebelahku tersenyum lebar dan menyambut Samantha dalam pelukannya.

Chris menaikkan Samantha dalam gendongannya. “Kamu bersiaplah. Aku buatkan sarapan.”

Kami berpandangan sekilas, sebelum dia beranjak menuju dapur dan aku ke kamar mandi. Samantha menoleh dan menjulurkan lidahnya padaku. Aku masih ingat reaksi ketakutannya semalam saat kuceritakan tentang hantu yang keluar dari televisi. Aku tertawa kecil, lalu meninggalkan ruangan itu.

Chris sedang menjelaskan tentang tata surya kepada Samantha saat aku kembali ke ruang makan. Di layar tablet tampil video tentang perjalanan roket Orion ke Mars. Aku duduk di sebelahnya, langsung menyantap panekuk dan sirup yang sudah disediakan. Status mereka membuat keduanya harus mau terkurung di rumah ini. Sesekali bersembunyi lama di basemen untuk menghindari kecurigaan. Mau tidak mau mereka harus begitu, meskipun seringkali Chris mengalami stres.

Selesai dengan Samantha, Chris langsung menghadapku dengan serius. Dia meneguk tehnya banyak-banyak. Memberiku beberapa lembar hasil cetak dari komputernya. Ini ritual lain kami setiap pagi. Setiap kali itu juga Chris mendadak kelihatan tegang.

Chris menjelaskanku tentang rekonstruksi untuk microbot, setelah kegagalan-kegagalan yang kualami. Setelah bereksperimen dengan nanotubes dan nikel, kali ini Chris memberiku desain yang keseluruhannya dari bahan-bahan organik.

“Mereka akan membungkus CL dan menghancurkan dinding pelapis. Setelah itu, dengan asam amino akan merusak inti CL. Membuatnya tidak lagi berbahaya.”

“Kedengaran berisiko. Dan apa harus dihadapi satu-satu? Membuat microbot masal akan makan waktu. Kau menyelipkan kode juga untuk proses replikasinya?”

“DNA-nya. Kodenya ada di sana.”

Aku menghela napas. Bukan sekali dua kali, Chris memaksaku membawa desainnya ke laboratorium dan menyuruhku mengujinya. Yang Ben tahu jelas kalau itu adalah desain-desainku. Semua aman-aman saja.

Chris mengeluh padaku rindu kembali ke laboratorium, mengerjakan simulasi di komputer tak sebanding dengan berdiri di laboratorium. Bahkan dengan laboratorium sederhana di bawah basemen kami. Katanya, dia sekarang seperti mundur tiga puluh tahun ke belakang. Aku hanya tertawa menanggapinya.

Chris mengantarkanku sampai depan pintu. Samantha ada di dalam gendongannya. “Lakukan itu, Eve. Tolong aku,” katanya memohon.

Aku mengangguk. Dia mencium pipiku. Aku mengecup pipi menggemaskan Samantha.

“Daaa, Mama,” ujar Chris.

“Daaa, tante Eve,” ujar Samantha.

Aku tertegun sejenak. Menoleh pada Samantha dan Chris, lalu tersenyum. Aku memang bukan mamanya.

**

“Chris?” Kening Ben berkerut.

Aku bersandar di dinding. Kami ditemani beberapa tentara militer, dengan alasan mencari spesimen bisa keluar dari laboratorium yang sekaligus terletak di daerah pemerintahan dan militer. Sekarang, aku dan dia berada di pojokan sepi yang kami anggap aman. Ya, tak kelihatan para tomate dan tentara dalam jarak pandang kami.

“Dia ada di rumahku.”

“Selama ini?”

“Beberapa bulan kurasa.”

Ben mengumpat. Mengusap rambut ikalnya yang berantakan. Matanya yang hijau biru melotot padaku. “Kamu tahu berapa besar risiko yang kamu tanggung? Kamu gila, Eve.” Dia menggeleng-gelengan kepalanya.

Aku menundukkan kepala. Menarik napas panjang. Kalau ketahuan mungkin aku akan ikut dianugerahi hukuman setelah menyembunyikan orang paling dicari-cari itu.

“Aku nggak bisa membiarkannya,” kataku menatap Ben.

Pria itu terdiam. Seperti kehilangan kata-kata. Dia tahu. Sedikit orang yang tahu kedekatanku dengan Chris. “Aku coba mengerti. Kamu membahayakan dirimu sendiri. Ada orang lain yang tahu?”

“Chris mencoba mengamankan rumah kami….”

“Kami?” Ben terperanjat.

“Ya, membuat keberadaannya di rumahku tak terdeteksi, Ben. Aku tidak bisa membiarkannya luntang-lantung di jalanan. Dia… dia terlalu berharga. Aku percaya dia mampu mengatasi ini. Tak ada yang tahu selain kamu, Ben.” Aku tak bisa menahan kegelisahan yang membanjir bersama kata-kata yang keluar dari mulutku. “Tolong aku, Ben. Aku yakin kamu mengerti. Jangan, jangan sampai dia ditangkap. Dia masih ingin menyelesaikan semua yang sudah dia awali. Dia ingin membantu kita.”

Ben mondar-mandir di depanku. Aku menjatuhkan satu tomate di ujung jalan.

“Apa dia baik-baik saja?” tanya Ben.

“PTSD. Selain itu, dia masih cemerlang seperti dulu. Dia benar-benar ingin membantu kita, Ben. Tetapi, dia tidak bisa keluar dari tempat itu. Itulah mengapa aku membawamu bicara di sini agar tak seorang pun mendengar.”

“Aku tahu dia seorang genius. Akan tetapi, apa yang sudah terjadi… apakah dia masih bisa dipercaya, Eve. Pikirkan itu? Apa yang sudah dia lakukan….”

“Itu bukan salahnya. Dia tidak mungkin melakukan itu. Dia tidak mungkin membuat dunia yang buruk bagi putrinya sendiri…. Tuduhanmu sangat nggak masuk akal.”

“Apapun itu…. Dunia ini menginginkannya mati lebih dari siapapun, Eve. Kamu harus tahu itu. kamu tidak bisa menyembunyikan dia selamanya tanpa membahayakan jiwamu sendiri.”

**

Chris sedang duduk membaca di ruang tengah ketika aku kembali. Dia menurunkan buku yang menutupi wajahnya, memperhatikanku yang menyeret langkah ke sana-sini. Hujan deras sudah mereda sekarang. Jendela yang kupastikan tidak tertutup semalaman itu menampakkan langit subuh.

“Kamu ingin teh? Kopi? Biar aku jerang air panas untukmu,” Chris bangkit dan melewatiku.

“Teh saja,” kataku duduk di kitchen island. Semua bawaanku kutaruh di sana. Kukeluarkan tabletku dari dalam tas. “Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu.”

“Dari ekspresi wajahmu, aku yakin kali ini bot itu kembali kalah oleh CL?”

Selepas itu sunyi sejenak. Jariku membeku di atas layar tablet. Kupandangi Chris yang membelakangiku, bukan hanya merebus air, tapi juga menyiapkan sarapan. Dia tak pernah menyebut nanobot itu dengan CL. Dia benci itu.

“Semua baik-baik saja?” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Dia tidak segera menjawab. Melihatku saja tidak. Aku menghela napas panjang. Diamnya bertahan sampai teh dan sarapan bikinannya siap.

“Aku rasa nama itu bagus juga,” katanya sambil membawa piring dan cangkir. “Benar, kan? Mereka memilih itu karena menghormatiku.” Dia berdiri di belakangku, membungkuk dan memperhatikan video yang sedang diputar di layar tablet.

Aku menyesap tehku. Sulit untuk sepenuhnya fokus ketika lelah seperti sekarang.

“Itu fase awal. Mereka punya struktur yang berbeda.” Setelah komentar itu, Chris menutup mulutnya.

Yang kuperlihatkan padanya adalah spesimen terbaru yang kami dapatkan. Otak dari seorang pemuda yang menolak mati sebagai tomate. Tahu tak ada yang bisa menyelamatkannya. Akhirnya pemuda itu bunuh diri dan menulis pesan kalau otaknya didonasikan kepada laboratorium.

Sekarang adalah bulan kesembilan sejak kali pertama prajurit yang lari dari tempat penelitian itu menyerang beberapa orang di jalanan ramai. Insting menggigit itu muncul karena CL sudah mengolonisasi otaknya dan butuh inang baru. Sampai di situ, mereka masih hidup, menggunakan energi dari ATP yang dihasilkan tubuh. Mereka butuh makanan, alasan lain untuk menyerang orang.

CL tahap awal dalam strukturnya mengandung ferioksida yang menghasilkan medan magnet sehingga gerakannya dapat dikendalikan lewat kontrol luar. Setelah itu, CL dibiarkan memodifikasi fungsi sinapsis, memberi informasi baru dan menghapus yang diperlukan. Semua itu untuk membangun prajurit militer super.

Videonya usai, aku menoleh pada Chris yang terlihat terkejut. Dia mengusap-usap dagunya dengan kening berkerut. “Itu tidak seharusnya terjadi,” katanya dengan mimik pias. Seluruh warna mendadak lenyap dari wajahnya. Matanya memandang takut. “Aku akan menyelesaikan semua kekacauan ini, Eve. Aku harus menyelesaikannya. Ini semua salahku,” ucapnya panik.

Kuletakkan cangkirku dan memeluknya. Aku pernah melihatnya dalam kondisi lebih buruk daripada ini. “Bukan salahmu. Aku akan membantumu.”

Chris terpaku di tempatnya. Pipiku menggesek permukaan kaus yang digunakannya. Merasakan serat-seratnya menyentuh kulitku tiap kali dia menarik napas. Aku mengeratkan rengkuhanku. “Bukan salahmu, Chris. Tenanglah. Aku di sini.”

Tak ada balasan dari Chris. hingga aku merasakan jari-jemarinya menyusuri rambutku. Mengelusnya dengan halus.

“Aku kira kamu lelah. Ada baiknya kamu istirahat. Oke?” Aku melonggarkan pelukan dan mendongak, mengamati muka pria itu. Ada kenangan yang menyelinap. Wajahnya di masa lalu yang bercahaya dan rupawan. Kini, rambutnya yang pirang keemasan diikat sembarangan dan berantakan, sementara rahangnya yang kokoh itu kini kasar karena jarang bercukur. Hanya mata birunya yang tak berubah. Tajam dan dingin.

Chris menghela napas panjang. “Aku akan minum obatku lagi, Eve. Maafkan aku.”

“Nggak apa-apa,” ujarku berdiri dan menarik tangannya. Kugandeng dia sampai ke kamarnya. “Aku akan tidur di sebelah, bersama Samantha.”

“Selamat pagi, Eve.”

“Istirahat yang nyenyak, Chris. Dan jangan tutup pintunya, oke?”

Chris tersenyum dan berbalik meninggalkanku. Aku bersandar ke dinding, mengamati langit-langit. Kadangkala aku lelah dengan perilakunya. Akan tetapi, aku berkeras menolongnya. Aku masih mencintainya. Dan dia adalah satu-satunya jalan keluar kami dari masalah ini.

**

“Papa, bikin robot lagi?” Samantha muncul di samping meja. Berjinjit dan berusaha mengintip apa yang sedang dikerjakan Chris.

“Ya, sayang.”

“Robot kecil? Apa dia ada di sini?”

Chris menggeleng. “Papa cuma bikin resepnya aja. Mama Eve yang bikin untuk papa.”

“Tante Eve memang keren.”

“Makasih, sayang,” sahutku.

“Kapan papa bawa Dru ke sini lagi? Papa bilang mau dikasih tubuh.”

Aku mengerutkan alis.

Chris mengalihkan tatapan dari layar laptopnya. “Kita nggak bisa bawa Dru ke sini, sayang. Nanti papa bikinin yang baru….”

“Robot besar? Semalam Tante Eve cerita kalau di kantornya banyak robot. Boleh Samantha main ke sana, Pa?”

Chris memandangku sebelum menjawab pertanyaan Samantha. Aku mengangkat alis. “Ya, nanti papa bikinin,” jawabnya kemudian. “Tapi, main ke sananya mungkin besok-besok ya, sayang.”

Samantha mengerucutkan bibir mendengar kalimat terakhir Chris.

“Samantha, nanti kapan-kapan aku janji buat ajak main ke kantor untuk ngeliat robot besar ya?” kataku, “Dan nanti malam aku ceritain dongeng favoritmu, oke?”

Aku menatapnya sungguh-sungguh. Anak perempuan itu sungguh manis. Kedua bola matanya bulat besar dan biru gelap. Rambutnya ikal kecokelatan dan begitu halus.

“Timun mas!” serunya.

“Timun mas?” sahut Chris. “Bukan Rapunzel?”

Anak kecil berumur enam tahun itu menggeleng keras-keras. “Timun mas, papa! Tante Eve punya lebih banyak cerita daripada papa,” katanya menjulurkan lidahnya.

Aku dan Samantha melakukan toss. Setelah itu, Samantha menjerit girang. Dia berlari ke seberang ruangan. Memainkan lagi boneka dan mainan robot plastiknya. Bercuap-cuap gembira tentang Dru.

Aku dan Chris bertukar senyuman. Hangat sekali melihat Samantha seriang itu. Serasa semua suram yang terjadi sekarang terusir. Kekacauan yang menimpa dunia seolah tidak berefek pada anak itu. Kini, aku tahu mengapa dulu Chris memintaku untuk menikah dengannya dan punya anak, sebelum kami berpisah.

Kukerling Chris yang melanjutkan desainnya. “Dru?” sahutku.

“Cuma A.I. sederhana. Temannya belajar di rumah,” ujarnya, hendak meraih cangkir teh yang lebih dulu kurebut hingga kini seluruh perhatiannya tertuju padaku.

Aku menyesap teh bikinannya yang lezat. “Sungguh?”

Chris membisu. Malah mengabaikanku dengan mengetik serangkaian kode lain di laptopnya.

“Jadi, itu benar? Kamu—kalian, membangun nanobot yang terhubung dengan cloud computer dan dikendalikan oleh A.I.? A.I. sederhana?

Aku ternganga. Sudah lama aku mendengar rumor tersebut. Akan tetapi, penelitian pemerintah yang begitu ketat, tak membiarkan informasi sampai bocor ke luar. Beberapa kenalanku pernah mencoba, namun pemerintah segera memberi larangan—pembatasan untuk membangun nanobot yang dikendalikan A.I.. Sama seperti, mereka membuat larangan untuk menghasilkan nanobot yang dapat mereplikasi dirinya sendiri.

“Beri mereka perintah untuk menghentikan CL. Tapi tidak sesederhana itu, kan?”

Dru milik Samantha benar-benar versi sederhananya, Eve,” jelasnya, coba meyakinkanku. “Tapi, ya, sejak aku jadi buruan mereka mencabut aksesku ke Dru. Aku tidak bisa apa-apa.”

“Retas? Pintu belakang?”

“Bisa saja. Tapi, mereka bisa membaui keberadaan kita,” ujar Chris, “Jadi, cuma ini yang bisa aku lakukan, Eve. Lewat tanganmu.”

Chris menunjukkan salah satu desain nanobot kepadaku. Menjelaskannya mengapa yang ini mungkin akan berhasil. Akan tetapi, aku tidak begitu menangkapnya, karena aku menyadari seharusnya pemerintah bisa menonaktifkan A.I. tersebut dan semua CL yang bersarang dalam kepala mayat hidup di luar sana bisa langsung mati.

**

“Eve, kamu kelihatan benar-benar capek. Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat.”

Aku terdiam. Menoleh sedikit dari layar di depanku. Aku dan Ben bertukar posisi, kali ini dia yang memegang joystick.

“Aku tidak ingin pulang,” kataku meneguk kopi dingin dari cangkir plastik.

“Jika, kamu tidak ingin pulang. Hmm… aku baru dikabari kalau kita mendapatkan spesimen baru.”

“Aku hanya nggak tahu bagaimana menghadapi rumah itu. aku terbiasa dengan kehadiran mereka, Ben. Aku tidak tahu lagi ke mana harus mencari. Apa kamu pikir dia sudah mati? Dia terlalu cerdas untuk mati di tangan tomate. Ya bisa saja sih, tetapi itu ironis. Mati di tangan yang kauciptakan sendiri.”

Aku melantur jauh dari perkataan Ben sebelumnya. Dia memang sedang berusaha menghiburku. Satu-satunya orang yang bisa kubagi tentang musibah ini hanya Ben. Tak ada yang lain, dia bahkan mencoba membantuku mencari—lagi-lagi dengan dalih mencari spesimen, tetapi sama sekali tak kami temukan jejak apapun.

“Kita istirahat sebentar lalu melanjutkan spesimen baru, Eve?” tawarnya. Dia memandangku dengan khawatir.

Aku menghela napas panjang. “Baiklah.”

“Ini akan berbeda,” ujar Ben mendekatiku. Kacamata virtual reality tergantung di lehernya. Senyumnya cerah seperti matahari pagi.

Aku menguap. “Apanya yang berbeda? Kita cuma pakai otaknya seperti biasa, kan? Atau aku perlu ke ruang forensik untuk memeriksa bagian lainnya?”

“Kamu tahu mereka bisa melakukannya.”

“Aku cuma butuh sedikit kesibukan, Ben. Kamu tahu….”

“Ya, ya, pergi saja ke sana. Kita ketemu lagi di sini, satu setengah jam lagi. Oke?” Ben meninggalkanku.

Aku langsung menuju ke ruang forensik. Ditemani salah satu dokter, dia membawaku ke mayat yang masih dalam proses. Kepalanya tak lagi ada. Dadanya masih terbuka. Aku bertanya tentang hati dan sampel darahnya.

Kuamati jasad yang terbujur itu. Aku membayangkan kalau itu Chris. Akan tetapi, banyak orang yang punya bentuk tubuh seperti itu. Entah dari mana datang pikiran itu, tetapi aku takut saat memeriksa bagian-bagian tubuhnya yang sudah kaku. Aku tak akan sanggup kalau itu sungguh Chris. Aku menyusuri lengannya, mencari tanda luka di sana. Namun tak kutemukan karena ada luka menganga di sana. Jika itu, Chris aku akan menemukannya.

Dari catatan, aku membaca tentang latar belakang pria itu. Yang sama sekali berbeda dengan Chris. Setelah itu, kuputuskan untuk kembali ke ruanganku lebih cepat. Aku tidak suka berada di sana. Aku tidak ingin tahu siapa orang yang otaknya kuobrak-abrik. Kadang-kadang aku merasa tidak sopan melakukan itu, aku memikirkan memori yang tersimpan di sana. Merasa kalau suatu hari akan datang giliranku dan orang lain yang menggerakkan joystick di luar panel kaca, menyusuri otakku dan menghancurkan kenangan yang aku punya tentang Chris.

**

(bersambung ke bagian 3/final)

Diposting juga di Gramedia Writing Project.

§ One Response to Selamat ulang tahun, Eve (bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Selamat ulang tahun, Eve (bagian 2) at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: