Selamat ulang tahun, Eve (bagian 3)

9 November 2014 § 2 Komentar

Baca ‘Selamat ulang tahun, Eve’ (bagian 2 dari 3).


 

Chris muncul dari basemen, membawa sesuatu di tangannya, seperti sebuah boneka. Dia meletakkannya di depanku. “Berikan ini pada Samantha.”

Aku berhenti membaca. “Dia memintamu untuk membuatnya.”

“Berikan saja padanya. Jangan bilang aku yang merakitnya.”

Kupandangi robot kecil itu. Disusun dari bahan-bahan yang sederhana, bahkan nyaris tak ada bedanya dengan robot plastik milik Samantha.

“Tapi dia bisa bernyanyi,” Chris nyengir lebar, seakan barusan bisa membaca pikiranku. Dia memijit saklar di bagian belakang robot kecil itu. Seketika, terdengar suara Judy Garland dengan lagu legendarisnya, Somewhere Over the Rainbow.

“Seperti kotak musik yang aku punya waktu kecil.”

“Seperti itulah,” sahutnya pendek. “Dia akan menyukai itu, Eve. Dia menyukaimu. Menyayangimu. Hanya saja… dia belum bisa melupakan Emma.”

Aku menelan ludah. “Aku tidak akan pernah bisa menggantikannya, kan? Tidak akan pernah.”

“Eve….” Chris kehilangan kata-kata. Sebelum ini, sejak kali pertama Chris mendarat di rumah ini, kami tak pernah membahas tentang Emma. Aku menghormati Chris yang masih berduka.

Aku tidak pernah bermaksud untuk membangun hubungan kami dulu yang aku hancurkan. Semua terjadi begitu saja. Meski aku tahu, mungkin aku hanya pelarian dari kesedihan dan kehilangan yang dialaminya. Namun, aku tak bisa menahan diri. Aku masih terus menginginkannya. Seperti dulu. Seperti angan-angan yang selalu kuciptakan setelah menyesal meninggalkannya.

Kudengarkan lagu itu dengan seksama. Aku tidak pernah benar-benar selesai menonton filmnya, The Wizard of Oz.

“Eve, aku rasa sudah saatnya untuk pergi. Mereka sudah tahu kalau aku masih hidup, Eve. Mereka akan memburuku.”

Aku masih terpaku. Judy Garland masih bernyanyi. Perkataan Chris seperti angin yang sayup-sayup bertiup. Hilang dan datang. Aku memandangnya. Rambutnya kini terpotong pendek. Di bawah cahaya lampu yang remang, warnanya kelihatan cokelat.

“Sejak awal kita tahu kalau ini akan terjadi, Eve. Aku harus pergi kalau masih ingin hidup,” ujarnya dengan tenang. “Aku tidak ingin kamu mengikuti kami. Di sini lebih aman untukmu.”

Kuhela napas panjang dan menutup buku catatanku. Aku menunggu menyampaikan apa yang sudah ada di ujung mulut hingga Judy Garland selesai bersenandung.

“Aku sudah kehilangan Emma. Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kali.” Chris menarik napas panjang.

Aku mengusap wajahku. Saat rupa Emma terbersit di benakku. Aku menatap Chris, masih merasa dia menyalahkanku karena kejadian itu. Seharusnya tidak terjadi. Seakan-akan aku bisa mendengarnya mengucapkan itu padaku meski kami sama-sama membisu.

Ketika aku mengira, Chris tidak benar-benar mencintai Emma. Rautnya saat aku memberi tahu bahwa Emma tidak bisa selamat, menghancurkan hatiku. Serupa sewaktu aku dulu memutuskan untuk pergi. Aku masih merekam kedua momen itu dengan baik dalam kepalaku.

“Aku akan mencarimu lagi setelah semua kekacauan ini selesai, Eve.”

“Kapan?” Kugenggam tangannya erat-erat. Kupandangi kedua matanya, mencari-cari cinta yang kini kulihat dan kumiliki lagi.

“Aku berjanji padamu, Eve.”

**

Terakhir kali aku melihatnya. Aku tidak pernah tidak menyukainya. Meski tidak tahu banyak tentangnya, dia adalah seorang pelukis dan ilustrator. Aku tidak pernah mau mendengar cerita bagaimana Emma dan Chris berjumpa. Namun, aku bisa merasakan seberapa besar cinta Emma pada Chris.

Dia tak akan pernah melakukan seperti yang pernah kuperbuat dulu. Meninggalkan Chris hanya karena aku menginginkan karir yang lebih cemerlang. Melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi yang tawaran itu pun kudapat dari rekomendasi Chris. Sayangnya, jarang sekali kita bisa mendapatkan dua hal yang sangat kita inginkan di dunia. Kala itu, kesempatan itu pun jadi bagianku. Aku harus memilih. Dan aku pergi.

Malam itu, di motel dekat bandara. Aku saling sengit dengan Chris. Aku mengerti lukanya karena begitu banyak orang yang mati karenanya. Opsi bom EMP yang kuajukan akan menyebabkan bandara ikut lumpuh. Bagaimana jika ada pesawat yang hendak mendarat dan terkena efeknya? Bertambah lagi daftar panjang orang yang mati karenanya.

Emma yang menengahi kami. Akhirnya, dia setuju. Aku tidak pernah berniat menggunakan itu juga. Kami mencoba menarik perhatian para tomate, agar kami bisa lari dari tempat itu sebelum bomnya meledak. Kalau tidak kami akan terkunci di sini dan itu bisa lebih buruk lagi. Pemburu tomate akan menemukan kami karena tertarik dengan bom yang biasa mereka gunakan itu dan nasib Chris tak akan terselamatkan lagi. Chris mengajukan diri untuk mengalihkan perhatian para tomate. Sementara, aku yang sudah mengaktifkan bom itu, akan lari bersama Emma dan Samantha.

Aku dan Emma yang menggendong Samantha berjalan cepat sepanjang lorong, menuju pintu darurat di samping. Rencananya, Chris akan menjemput kami di sini dengan Hummer-ku. Emma bilang padaku jika dialah yang punya ide untuk bersembunyi di motel yang kelihatan masih sangat baik ini. Samantha lelah dan mereka tentu tak bisa ke mana-mana malam-malam begini. Aku hanya membalas kalau itu bukan salahnya.

Mungkin pembicaraan singkat itu yang mendistraksiku. Aku tidak menyadari jika dari salah satu pintu meloncat sesosok tomate ke antara aku dan Emma. Perempuan itu terjatuh bersama Samantha. Aku refleks menghajar kepala tomate dengan pangkal senapan hingga roboh. Lalu, menembaknya hingga kejang-kejang dan mati kedua kali.

Aku segera menarik Samantha. Sambil menembak ke arah pintu yang terbuka. Kusuruh Emma untuk segera, sebentar lagi bomnya akan meledak. Kami mungkin tak akan mati, tapi pintu-pintu otomatis di sini tak akan bekerja. Hujan di luar sudah berhenti. Namun serangan tomate masih terus mengalir. Dari pintu-pintu yang tertutup mereka meloncat dan menerjang. Aku terus menembak sampai kusadari kalau baterai senjata itu habis.

Itu, hanya beberapa saat sebelum bomnya meledak dan pintu keluar di depan kami. Aku berhasil keluar. Pintu itu terbanting dan terkunci sendiri. Memerangkap Emma di belakangku. Aku terdiam sejenak. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tomate itu ada di belakangnya. Emma menggedor pintu kaca. Meneriakkan namaku. Aku menggigil. Air matanya jatuh. Kututupi wajah Samantha. Sampai beberapa sosok tomate menariknya menjauh dari pintu. Hanya sejenak sebelum ledakan terjadi.

Seluruh tempat itu gelap total. Hanya carik-carik sinar bulan yang lewat dari celah awan. Aku tak bisa lagi melihat apa yang ada di balik pintu. Kedua kakiku gemetar keras. Aku menjatuhkan senjataku. Rintik hujan yang turun menyamarkan air yang bergulir dari sudut mata.

Aku benar-benar takut.

Mama mana?”

Pertanyaan Samantha tak pernah lenyap dari ingatanku. Pun, sampai sekarang, aku masih mengingat wajah Emma yang putus asa. Bagaimana aku bisa membaca gerak bibirnya, sebuah pesan untuk Chris. Aku tak bisa lupa. Akan tetapi, malam itu aku lupa jika punya pistol otomatis.

Seharusnya tidak terjadi.

Aku membiarkannya terjadi.

**

Hari-hari berlalu tanpa ada titik terang keberadaan Chris dan Samantha. Tak ada pesan. Tak ada petunjuk apapun untukku agar aku bisa menemukan mereka. Setiap kali kembali dari laboratorium yang kutemui hanya rumah penuh sunyi. Hilang sudah aroma teh dan panekuk yang selalu menyambutku saat kembali.

Kecurigaanku memang jatuh pada pemerintah dan militer, tetapi aku tak punya bukti dan kuasa untuk membuktikan. Aku malah lebih banyak pasrah akhir-akhir ini. Putus harapan ke mana lagi harus mencari. Aku hanya bisa berdoa agar mereka baik-baik saja.

Aku berjalan keluar dari laboratorium. Menatap pintu-pintu di lorong yang tertutup rapat. Begitu dingin di sini dan sepi. Aku tidak pernah benar-benar memikirkan kesan tempat ini sejak kali pertama tiba dulu. Dan hari-hari itu sudah berlalu, termasuk kala kebuntuan yang selalu kutemui ketika hendak mengendus jejak Chris.

Sebab ternyata selama ini mereka ada di bawah hidungku sendiri, sedekat kelopak pada mataku. Namun, aku tak pernah menyadarinya. Aku terlalu takut. Aku sempat percaya mereka keluar dari kota ini, ke sebuah desa kecil. Atau mereka akhirnya bisa menyeberang ke pulau tak berpenghuni dan hidup tenang di sana. Suatu hari, Chris akan mengirimiku kabar dan mengajakku serta.

Aku menyalakan musik dari pemutar portable. Judy Garland melantun dengan anggun. Aku mengangkat senapan otomatis yang kubawa. Mengarahkannya ke ujung lorong. Aku cuma ingin pulang. Dan kukatakan itu pada mereka. Seperti ada seseorang yang memberi perintah, mereka menurut. Aku melewati pintu dengan aman. Berjalan secepat mungkin meski senapan EMP yang kupanggul ini lebih terasa berat daripada biasanya.

“Dr. Eve, kau bisa menunggu sampai hujan turun,” pesan petugas penjaga pintu gerbang padaku.

Aku memandangnya. “Hujan nggak akan lagi menyelamatkan kalian, tau.”

Kulangkahkan kakiku keluar fasilitas tersebut. Derum gerbang yang tertutup lagi menyertai kepergianku. Sekarang aku sendiri. Para tomate bisa muncul dari manapun. Hanya menunggu waktu.

Siang berangin tentunya akan membawa aroma tubuhku dengan cepat. Beberapa ratus meter berhasil kutempuh dengan selamat. Sesuai perkiraanku, sosok tomate satu persatu menyeruak dari sisi jalan. Berjalan terseret bagai penuh dahaga. Aku terdiam di situ. Membuang senapan otomatis dan menarik senapan EMP.

Di saat-saat terakhir, aku sadar sudah gila. Akan tetapi, masih ada kesempatan untuk berbalik dan lari kembali menuju fasilitas.

**

Ben memanggilku masuk ke ruangan kami. Dia bersandar di tepi mejanya, meminum kopinya sendikit-sedikit. “Ini akan berhasil,” ujarnya dengan mata berbinar-binar.

“Kita masih belum bisa mensintesisnya. Tapi, ya, aku sama percayanya denganmu. Kita bisa melakukannya.” Aku tersenyum.

Setelah sekian lama berkubang dalam gelap, ini serasa menemukan pintu keluar. CL ternyata mengalami mutasi yang berbeda-beda, beberapa menjadi buruk, yang baru kami temukan ini bagai secercah cahaya.

“Eve, aku benar-benar menghargai kontribusimu selama ini. Kamu benar-benar bisa diandalkan.” Ben menatapku intens. Pandangan mata itu tak pernah berubah sejak dulu, sejak masa kuliah yang kami habiskan di satu angkatan yang sama.

“Jangan menyanjungku. Aku benar-benar buruk akhir-akhir ini.” Aku menarik napas lega. Menatap langit-langit, lalu beranjak pada pigura yang masih duduk manis di atas mejaku. Andai saja Chris tahu tentang ini. Andai saja dia kembali dan ada di sini sekarang.

Semua akan berujung. Semua yang dimulai bisa diakhiri.

“Ya, aku kira sekarang waktu yang terpat untukmu melanjutkan mencari Chris, kan? Kamu belum menemukannya, kan?”

“Apa maksudmu?” sahutku cepat.

“Benar-benar mencari Chris dan Samantha. Tanpa harus memikirkan pekerjaan di laboratorium dan sebagainya.”

Sejenak, aku terdiam. Memamah kata-katanya yang kedengaran halus itu. “Kamu memecatku?”

“Eve….”

Tubuhku langsung tegak. Aliran darah ke kepalaku mengencang, terlebih setelah dua malam tidak tidur. “Aku yang membawamu ke sini, Ben. Hanya karena kamu laki-laki dan selalu mengaku ide milikku sebagai punyamu, bukan berarti kamu bisa begitu saja. Bajingan,” umpatku, seraya memberi tatapan nyalang padanya.

“Aku tetap ketua tim.”

“Aku tidak peduli, berengsek. Kamu tidak bisa menyuruhku pergi,” hardikku.

Ben mengamatiku. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang ambisius, tapi sampai menjatuhkan orang lain, itu bukan Ben yang kukenal. Sejak bergabung dengan proyek pemerintah ini, sedikit-sedikit aku mengenali obsesinya untuk mengalahkan CL. Dia pernah bilang padaku, dia ikut berkontribusi pada ADDP, tetapi tidak juga mengerti bagaimana menghancurkan dan menghentikan CL.

Pria itu mendekat. Berdiri di berhadapan denganku. Aku hendak mendorongnya, namun dia menahan. “Eve, dengarkan aku.” Mimik Ben begitu masam sekarang. Dia menyambar tanganku yang langsung kutepis. “Aku melakukan ini untukmu. Mereka tahu,” desisnya.

Aku menahan diri sebelum menyembur emosi. Gigiku gemerutuk dan rahangku mengeras.

“Mereka tahu bagaimana kamu membiarkan Chris menembakkan peluru-peluru yang berisi asam amino tertentu kepada para tomate. Yang kemudian memicu mutasi pada CL,” tambahnya, agak berbisik.

Aku menggigil menerima penuturan Ben. Pria itu berjalan melewatiku, membuka lemarinya dan mengelurkan beberapa peluru yang tersimpan dalam plastik dan diberi tag.

“Kamu tahu itu dengan baik, Eve. Kamu tahu apa yang dia lakukan?!” seru Ben.

Tentu saja aku tahu apa yang Chris lakukan. Apa yang aku lakukan.

Aku menghela napas panjang. “Sekarang dia sudah pergi bukan? Dia akan mati seperti yang semua orang harapkan….”

“Kami menemukan mereka, Eve. Hanya masalah waktu saja,” kata Ben bergetar. “Dia bahkan menggunakan anaknya sendiri sebagai bahan percobaan. Apa kau tahu?”

Aku terkesiap. Teringat wajah menggemaskan Samantha. “Tidak mungkin, Ben. Dia benar-benar menyayangi Samantha,” aku mulai ketakutan. “Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu benar-benar sudah menemukan mereka, kan? Di mana?”

Sejenak, Ben cuma diam memandangiku. Ekspresi wajahnya mengeras seakan-akan ada yang ditahan-tahannya di dalam hati.

“Aku kira kamu sudah tahu….”

“Tahu…,” sahutku terbata. Selamat beberapa jenak aku berdiri mematung. Seluruh tubuhku menggigil dan gemetar.

“Kamu benar, Eve, dia bisa menyelamatkan kita….”

Ben bergerak lagi, mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam mejanya. Menaruhnya untukku. Aku segera mengeluarkan isinya. Dua plastik bukti. Aku merobeknya, gemetaran mengambil isinya.

Aku tidak ingin lagi berada di tempat ini.

**

“Aku kehilangan Emma. Aku kehilangan pekerjaanku. Kebebasanku. Aku melakukan semuanya untuk proyek itu, Eve! Dan sekarang, aku… aku tidak akan membiarkan untuk kehilangan Samantha. Kehilangan kamu.”

Aku membeku. Kami berada di basemen. Berhadapan. Aku masih tidak yakin bagaimana pembicaraan kami bisa sampai di sini. Matanya kini merah dan nyalang. Dia bicara dengan nada yang tak pernah digunakannya padaku selama ini.

“Aku tentu saja mencoba menghentikan mereka. Kamu melakukan apa yang harus kamu lakukan, membuat serum, vaksin, nanobot pemburu, apapun. Tapi kalian gagal. Ada hal yang nggak kalian tahu, salah satu kode yang kutulis untuk mereka adalah bertahan hidup sebelum tugasnya selesai. Sama saja seperti kita. Bertahan hidup adalah program mendasar dari alam semesta.

“Ritual tembak bebek yag kulakukan tiap pagi adalah pesanku untuk mereka. Aku membuat sebuah kode yang membuat mereka mengenali kalau aku yang memberi, aku mencoba menghentikan mereka. Aku melakukan yang terbaik dengan semua alat sederhana ini. Berengsek. Aku melakukan semuanya.”

“Ini semua akan berakhir?”

“Semua yang berawal pasti berakhir, Eve. Aku hanya tidak tahu kapan. Aku tidak punya jawaban.

“Aku berusaha membuat mereka punya waktu kadaluarsa dan metode penghancuran diri. Tapi, kemudian apa yang mereka minta? Mereka minta agar CL berengsek itu bisa mereplikasi diri, bisa memperbarui dirinya sendiri, memperbarui inangnya. Manusia dengan performa super. Manusia yang akan hidup dalam waktu panjang. Manusia yang bisa dikendalikan oleh komputer superjenius.

“Aku melepaskan mereka. Ya, AKU, Eve. Aku kira sudah mematikan semua nanobot sialan yang belum sempurna itu dalam kepalanya. Tapi aku salah. Dan kamu tahu sisa cerita ini. Pemerintah sekarang memburuku. Membunuhku? Tidak, Eve. Mereka mau mengunggah pikiranku ke mesin mereka.

“Kalau bukan karena Samantha. Dan kamu tidak ada di sisiku. Aku sudah membunuh diriku sendiri dari dulu. Berengsek!” katanya menendang meja di dekatnya hingga barang-barang di atasnya berjatuhan.

“Tolong aku, Eve.”

**

Ben sama sekali tidak salah. Aku tahu apa yang Chris lakukan. Mutasi-mutasi itu dia yang memicunya. Memprogramnya. Sama dengan tahunya aku kalau pesan-pesan yang diberikannya kepadaku setiap kali ke laboratorium adalah percobaan-percobaannya dengan tujuan yang sama. Aku yang membawa kontaminan itu ke dalam laboratorium. Aku membiarkannya terjadi.

Aku tahu bagaimana dia begitu membenci pihak yang memburunya. Apa yang terjadi bukan kesalahannya. Akan tetapi, pemerintah mengkambinghitamkannya, sehingga satu-satunya yang dunia inginkan kepadanya adalah mati. Padahal, dia tahu dia bisa menyelamatkan mereka. Jadi, dia memilih jalan lain. Membayar kematian Emma. Membayar dendamnya.

Aku mengangkat senjataku. Jarak para tomate itu tinggal beberapa belas meter saja. Keringat mengalir di pelipis dan punggungku. Anehnya, jantungku berdetak teratur. Aku sudah siap. Aku tahu apa yang akan terjadi.

Tak ada gunanya lagi tinggal di dunia ini tanpa orang-orang yang kausayangi.

Aku menembakkan senapan EMP. Beberapa tomate jatuh. Sisanya mendadak beku di tempat. Aku menghela napas. Merasakan ada dua benda asing yang mengganjal di kantong celanaku. Aku menurunkan senjata dari tanganku. Merogohnya. Sebuah cincin platina dan selembar kertas.

Aku terkejut saat mendengar suara. Menelan ludah saat melihat tomate kembali bergerak. Jantungku berdegup kencang. Waktu itu, angin mendadak berembus kencang dan menerbangkan kertas itu dari tanganku. Aku bergerak mundur dan kembali menembakkan senjata EMP.

Mereka tak berhenti. Mereka tak akan berhenti hanya karena senjata di tanganku, atau bahkan petir besar. Pesan-pesan Chris sudah mereka terima. Keinginan pemerintah terlaksana. Manusia super berumur panjang tanpa akal pikiran. Dan tak seorang pun bisa mengendalikan.

Aku tahu ini yang Chris inginkan. Dia berhasil. Nanti suatu hari akan ada dunia baru.

Mereka terus mendekat. Aku mengawang ke angkasa. Langit di atasku gelap dan penuh mendung gemuk. Kudengar Judy Garland bersenandung, ‘Somewhere over the rainbow skies are blue. And the dreams that you dare to dream really do come true.’ Kertas itu masih terus terbang menjauhiku. Namun, aku masih ingat benar isinya.

Ada dua buah foto yang tertempel di sana. Disatukan dengan terpaksa. Foto yang dulu setiap malam kuambil dari genggaman Samantha. Di bawahnya ditulis dengan pensil, papa, Samantha, dan Mama Emma. Di sisi foto itu, terdapat fotoku dan Chris beberapa tahun lalu dan sebuah sebaris tulisan cakar ayam.

Selamat ulang tahun Mama Eve.

FIN.

Oktober-November 2014.

Diposting juga di Gramedia Writing Project.

§ 2 Responses to Selamat ulang tahun, Eve (bagian 3)

  • aminocte mengatakan:

    Maaf, Kak, aku hanya komentar di bagian 3, tetapi aku sudah baca 2 bagian sebelumnya, kok😀
    Aku terhanyut dalam ceritanya. Dunia berteknologi tinggi yang membawa kesengsaraan karena ulah manusia. Lalu hubungan Eve dan Chris yang rumit.

    Aduh, jadi sulit menyusun komentar yang baik. Tetapi, serius, Kak, ini keren sekali. Love it🙂 Terlepas dari pertanyaan yang muncul di otakku soal feri oksida yang bisa memiliki daya magnet (atau aku yang salah paham?)

  • Adis mengatakan:

    Terima kasih, aminocte, sudah baca kisah Eve dan Chris. Yup, ferioksida memang mengandung gaya magnet.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Selamat ulang tahun, Eve (bagian 3) at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: