Selamat ulang tahun, Eve

9 November 2014 § 1 Komentar

Aku mendapat hadiah sebuah kue tart yang setengahnya hangus terbakar untuk ulang tahunku. Kakiku menyempar angka dua yang tergeletak di lantai. Yang ini malah sama sekali tak tersentuh api, kecuali sumbunya sedikit. Aku tertegun di depan meja makan. Memasang telinga baik-baik, menangkap suara apapun selain desau angin dari jendela yang terbuka.

Cuma kesunyian yang kudapati. Berserta napasku yang menderu satu persatu. Aku baru menerima teleponnya beberapa jam lalu, memintaku untuk segera pulang. Tanganku menggenggam lilin dingin itu erat-erat. Aku beranjak dari ruang makan, menuju ke selasar singkat yang diujungnya terdapat dua kamar. Satu di antaranya, kini terbuka lebar.

“Samantha?” panggilku pelan.

Tak ada jawaban. Aku mengambil pistol yang selalu kubawa di dalam tas kerjaku. Melepas penguncinya dan mengacungkannya ke muara lorong. Aku sadar ini keputusan yang amat berisiko dan ceroboh, namun aku tak berhenti. Langkah-langkahku menapak makin dekat pada pintu. Keringat mengucur di pelipisku, padahal udara dingin bertiup di lorong.

Sekejap, hening yang tadi ada kabur satu persatu. Gempuran hujan menimbulkan gelombang suara yang mengagetkanku. Aku menarik napas panjang. Jarakku dan pintu tidak lebih dari dua meter. Aku minggir, menatap ke kamar, tempatku biasa tidur dengan Samantha. Lampunya menyala. Boneka dan mainan masih berserakan di lantainya. Tak ada seorang pun di sana. Lagi pula, sekarang hujan petir, semestinya semua baik-baik saja.

Aku menelan ludah saat mendorong pintu kamar yang tertutup. Sebelumnya coba kudengar apakah ada sesuatu di dalamnya. Kudengar suara sayup-sayup. Jantungku berdegup saat daun pintu berayun. Kuarahkan pistol di tanganku ke segala arah. Sama seperti kamar sebelumnya, ruangan itu kosong.

Hatiku mencelus. Suara yang kudengar adalah Judy Garland menyanyikan Somewhere Over The Rainbow dengan lirih. Aku mengelilingi kamar yang sangat minimalis itu. Matras tergelar di lantai, beserta selimut yang tak terlipat. Pakaian yang ditumpuk sembarangan. Di seluruh penjuru ruangan aku melihat buku dan tumpukan kertas. Senapan otomatis terserak di sudut yang lain. Satu-satunya meja di sini dihuni tiga layar komputer, ditemani gelas teh yang masih berisi, sebotol antidepressan, dan beberapa kaleng bir.

Aku kenal baik semua ini. Seperti aku tahu, Chris tidak akan meninggalkan rumah tanpa jam tangannya. Hadiah ulang tahun dariku beberapa tahun lalu sebagai bahan gurauan. Penujuk waktu yang mengerikan, yang selalu mengingatkannya berapa banyak ADDP-9 (Alzheimer Disease Drug Payloadbot) mereplikasi dirinya setiap jam.

**

Aku terlonjak ketika ponsel bergetar di atas meja. Kopi di cangkirku masih penuh. Sejak tadi pikiranku melayang ke sana-sini. Berita-berita buruk yang menyebar akhir-akhir ini menimbulkan ketakutan dan kekacauan di mana-mana.

Selama beberapa saat kubiarkan ponsel itu tak terangkat. Bunyinya saat bergeser di atas meja kayu terasa begitu asing. Aku tidak ingin diminta kembali ke laboratorium. Sudah empat malam kuhabiskan di sana. Kali ini aku ingin tidur di ranjangku sendiri yang lelap. Akan tetapi, sekarang, selepas tengah malam aku malah masih terjaga. Insomnia berengsek.

Akhirnya, aku tergerak meraihnya. Terpaksa menerimanya. Siapa tahu kalau ternyata itu kejadian darurat di laboratorium. Cangkir di tanganku nyaris terjatuh saat aku mendengar suara yang memanggil namaku.

“Eve, tolong aku.”

**

Punggungku serasa akan patah setelah duduk dalam posisi sama selama tiga jam. Tanganku menggerakkan joystick, pelan dan hati-hati. Aku sedang berjalan di antara jalinan dendrit dan akson pada potongan otak yang berasal dari bagian cerebrum.  Layaknya jalan raya yang padat dan saling silang, namun kini sepi tanpa pengguna. Melewati soma dan nukleus yang tampak seperti halaman dan rumahnya yang kosong. Lama sudah aku berjibaku dengan sampel dari otak, tapi menjelajahinya selalu membuatku tergetar. Melihat betapa luar biasa tempat penyimpanan memori tersebut.

Aku mendengar instruksi dari Ben kalau kami sudah hampir mencapai persimpangan antar neuron. Sinapsis yang menghubungkan dua neuron itulah yang menjadi sasaran kami. Sesuatu yang gelap berada di sana, menggantikan persimpangan yang seharusnya ada. Jantungku berdetak kencang. Ini bukan kali pertama aku melakukan ini.

Kulihat MTB (microtruckbot), microbot yang kukendalikan berjalan agak tersendat. Padahal yang aku harus lakukan hanya mendekati makhluk di sinapsis tersebut, menangkapnya dengan lengan protein, mengikatnya, dan membawanya keluar dari sampel. Sama sekali tidak sulit.

Aku bergerak dengan waspada. Menghentikan MTB yang bentuknya mirip truk besar dengan kandang berjeruji dari polipeptida di bagian belakangnya. Ben yang bertugas di depan komputer mengirim sinyal kepada MTB. Sekejap saja, terbentuk rantai-rantai asam amino dari sisi tubuh MTB. Sambung menyambung sampai akhirnya berada dalam jarak nanomikron. Aku menahan napas, ketika lengan peptida itu menyentuh selubung hitam sinapsis.

Apa yang terjadi kemudian…. Aku ternganga dan duduk kaku di kursiku. Kejadian barusan amat cepat. CL, bereaksi defensif dan cekatan. Sinapsis yang kami kira hanya berisi satu CL, nanobot superior variasi dari ADDP, ternyata telah mereplikasi dirinya sendiri dan mengelilingi MTB. Hanya sesaat saja, MTB langsung dikerubungi dan terurai.

Bunyi berdesis membuat seluruh aktivitas yang kulihat membeku. Namun, terlambat, MTB tak lagi bisa terselamatkan. Ben mengumpat keras. Aku gemetaran di kursiku, melepas kacamata perangkat virtual reality dan berpandangan dengan Ben. Sekali lagi, pria itu menekan tombol, ruangan yang dikelilingi kaca itu berkilau sejenak dan kembali hening.

“Mereka bermutasi. Itu seharusnya tidak terjadi, Ben.”

**

“Chris, apa yang terjadi?” tanyaku gugup. Aku berdiri dan mondar mandir di ruangan.

“Aku ada di motel dekat bandara, Eve. Tolong, bisakah kamu segera kemari. Aku butuh bantuanmu. Tolong aku, Eve.”

“A-aku akan segera ke sana, Chris.”

“Aku bisa bertahan sampai setengah jam ke depan sebelum nanti kamu menemuiku sebagai salah satu anggota kawanan tomate.”

Aku mendengus. Tomate—orang mati. Merekalah hasil akhir dari proyek Modifikasi Performa Manusia. Nanobot CL memenuhi kepala mereka. Hanya butuh beberapa minggu sejak CL masuk ke dalam tubuh mereka lewat cairan dan menempati sinapsis. Perlahan-lahan, CL akan memodifikasi informasi, mengambil alih seluruh sinapsis lalu nukleus. Inangnya, manusia, akan mati lalu menjadi jasad yang bergerak ke sana ke mari mencari inang baru.

Chris tidak menyebutkan jumlah yang dia hadapi. Aku asumsikan sekarang dia ada dalam kepungan tomate dan sulit melarikan diri.

“Jangan bilang begitu. Aku akan segera ke sana. Oke?” kataku berlari menuju basemen.

Sambungan telepon kami terputus. Aku melepas kaus oblong yang kupakai dan berganti dengan pakaian khusus yang berfungsi mencegah aroma tubuhku keluar sekaligus menangkal electromagnetic pulse (EMP). Ledakan EMP bisa merusak alat-alat elektronik atau jika terlalu besar energinya bisa membunuh. Kami belum menemukan pilihan lain untuk menghadapi tomate, sampai saat ini masih bertahan menggunakan ini. Kuraih dua senapan EMP lagi. Menjejalkan tiga buah pistol ke dalam ransel. Air minum dan energy bar. Aku mendengar guntur menggelegar di luar sana ketika memasang sarung tangan kulit.

Menyandang senapan dan ransel, aku mengambil kunci Hummer. Aku harap mobil itu dalam keadaan baik-baik saja. Selama ini aku menggantungkan diri dari tumpangan Ben menuju laboratorium. Doaku terapal dalam hati saat menyalakan mesinnya. Derum keras memenuhi telingaku disertai syukur karena mobil ini baik-baik saja. Setelah mengeluarkannya dari gerbang, aku berhenti sejenak di halaman, menunggu gerbang dari Faraday cage yang melindungi rumahku terbuka.

Aku menyadari ini tindakan yang sangat tolol. Akan tetapi, selalu ada orang yang rela membuat kita melakukan hal paling bodoh sekalipun. Aku menarik napas panjang, menembus hujan dan kegelapan kota ini.

**

“Ya, Eve, tentu saja itu tidak seharusnya terjadi. Sekarang kita harus mencari spesimen baru. Kau tahu tidak mudah mendapatkan tomate yang masih dalam fase satu sekarang.”

Aku dan Ben berhadap-hadapan di sebuah ruangan yang bisa menimbulkan claustrophobia. Wajahnya sangat pucat di bawah sinar lampu.

“Apa yang sudah kaulakukan? MTB itu yang kesekian yang kaukerjakan,” tuduhnya.

Ben mengarahkan remote di tangannya ke arah layar besar di dinding. Aku enggan melihatnya karena sudah diulang berkali-kali. Itu gerak lambat dari eksperimen terakhir yang kami lakukan. Biasanya selalu indah melihat rantai asam amino itu lahir satu demi satu seperti bunga yang mekar di musim panas.

Rekaman itu berhenti pada sebuah citra. “Lihat itu? Ketika lengan MTB menyentuh tubuh CL?”

Aku menelan ludah.

“Itu reaksi defensif. Lengan protein yang muncul dari MTB mengaktivasi itu. Apa yang sudah kaulakukan, Eve?”

Aku mengalihkan tatapan dari Ben. Pandanganku tertumbuk pada pigura di atas meja. Foto lama, ada aku dan Ben di sana. Juga beberapa anggota tim kami sekarang. Momen itu ketika Chris mendapatkan penghargaan untuk penelitian terapi menggunakan nanobot untuk penyakit Alzheimer. Ya, kerja keras tim kami juga.

“Aku tahu ini bukan gayamu. Ini bukan pekerjaanmu.”

Aku menghela napas panjang. Mengerling kepada Ben. Kami sudah bekerja bersama sejak lama, jelas saja kalau Ben mengenal cara dan kekhasan kerjaku. “Seseorang meminta tolong padaku. Dia tahu benar CL.”

Ben mengerutkan dahi. Memandangku dengan mata menyipit. Seakan tahu siapa yang kumaksud barusan.

“Rahasia tentang CL hilang bersama orang itu,” katanya, menjeda sejenak kalimatnya, mencoba menangkap gejolak pada air muka yang kupasang datar saja. “Tak ada jejak. Semua catatan musnah. Bahkan, usaha meretas lewat pintu belakang perangkat lunak CL sia-sia. Dan sekarang, kita, aku dan kamu yang harus membereskan kekacauan yang dia buat.”

Aku menjadi orang yang dihubungi pihak pemerintah pertama kali. Sebelum akhirnya aku diperintahkan untuk mengumpulkan orang-orang yang pernah bersama-sama menangani ADDP. Hanya setengah dari kami yang muncul karena sebagian sudah berubah menjadi tomate atau mati bunuh diri. Kami diminta untuk meneruskan penelitian tentang CL, termasuk bagaimana caranya menghentikannya secara efektif dan menciptakan vaksin yang bisa mencegah penularan CL.

Mereka gila. ADDP dan CL berbeda jauh, meski CL masih varian dari ADDP. Entah apa yang Chris lakukan pada CL. Arsitekturnya rumit dan kode-kodenya terenskripsi sehingga butuh waktu lama bagi kami untuk memecahkan teka-teki itu. Sampai akhirnya, dalam dua tahun, setengah penduduk dunia berubah menjadi tomate dan kami belum banyak menghasilkan kemajuan. Kekacauan melanda. Akan tetapi, penelitian kami, yang lingkupnya makin besar dan penuh ilmuwan dari seluruh dunia masih terus berjalan. Kami harus menghentikan ini.

Aku pernah mengajukan opsi untuk memberi pengampunan pada Chris. menarik lagi dia dalam tim kami. Akan tetapi, perwakilan pemerintah mengecam usulku. Katanya, nyawa harus dibayar nyawa. Negara-negara dalam kondisi darurat dan krisis. Orang-orang hidup dalam ketakutan. Manusia ada di ujung tanduk. Chris mati sekalipun tak akan cukup. Dia, perwakilan pemerintah yang mengatakan itu ternyata seluruh keluarganya berubah menjadi tomate. Aku pun punya keluarga, tetapi mereka memilih ikut dalam bunuh diri masal daripada terjangkiti CL dan salah satu kakakku malah bergabung dengan sekte yang memuja Chris sebagai nabi akhir zaman.

“Kita kenal dia, Ben. Dia salah satu teman baikmu dulu. Mentormu. Mentorku,” kataku tertahan.

“Segalanya berubah, Eve. Sehebat apapun dia, dia tetap manusia dan human error itu sangat mungkin sekali,” kilah Ben. Dulu Ben adalah orang yang paling membangga-banggakan Chris.

“Jika, dia masih hidup, apa kau akan memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan? Bahkan tuhan selalu berbaik hati memberi kesempatan kedua.” Aku tahu Ben adalah orang yang relijius. Makanya, aku tidak berpikir dua kali mengatakan hal tadi.

Aku menatap Ben yang tampak gelisah. “Apa maksudmu?”

Tidak semestinya aku membocorkan rahasia ini. Akan tetapi, aku tahu Ben mungkin seseorang yang bisa menolongku dan Chris. Kami semua ingin kengerian ini berakhir.

“Itu Chris. Chris yang memintaku melakukannya.”

**

Aku mengingat-ingat pertemuan pertama kami dalam perjalanan menuju motel dekat bandara. Cerita yang singkat, tapi cukup memenuhi pikiranku sampai aku tiba di sana. Peraturannya adalah orang-orang yang sehat dilarang keras berkeliaran malam-malam begini. Akan tetapi, petir yang sejak tadi saling sambar adalah alasan terbaik. Petir adalah sumber elektromagnetic pulse alami. Nanobot yang bersemayam dalam kepala tomate itu seperti punya insting untuk bertahan. Sebab, para tomate akan bersembunyi di ruang-ruang gelap. Kami masih membutuhkan banyak hal, beberapa pasar bawah tanah dan toko-toko akan buka setiap kali hujan turun.

Seperti di motel tersebut. Aku tidak mau tahu bagaimana Chris bisa terjebak di tempat itu. Karena seharusnya itu tidak terjadi.

Christopher Leonard adalah bosku beberapa tahun lalu. Aku diterima dalam tim kecilnya yang mengerjakan proyek penyempurnaan ADDP. Tim yang keren banget. Jadi favoritku sampai sekarang dan aku sering berharap bisa kembali ke masa itu lagi. Masa yang sudah terasa begitu lama. Dan itu jauh sebelum, nanobot bernama CL—yang diambil dari namanya—berkeliaran di dunia ini.

Aku memarkirkan Hummer di bawah tiang lampu. Cahayanya membanjiriku, seperti aku kini bisa melihat jarum-jarum air yang terus jatuh. Aku harap mereka tidak berhenti. Kusampirkan ranselku di bahu, mengangkat senapan otomatisku dengan siaga.

Kumasuki tempat itu dengan jantung berdebar. Pelajaran pertama ketika menghadapi tomate dan ingin selamat adalah jangan sok menghadapi sekawanan tomate sendirian. Itu tindakan sangat gegabah. Sama seperti berupaya menolong orang dekat dengan percaya bahwa memori bisa menyembuhkan—itu tidak akan lama sampai kamu menyadari otakmu dikuasai CL.

Meskipun sudah dilakukan pencegahan dengan berbagai cara, lambat laun makin besar jumlah yang terinfeksi. Masih banyak orang yang selamat asalkan menghindari gigitan dan kontak langsung dengan para tomate. Kedengarannya gampang sekali. Ya, mudah kalau kamu cuma menghadapi satu atau dua tomate.  Jadi, mungkin saja aku akan keluar dari sini dengan luka gigitan dan otak penuh nanobot CL.

Aku melangkah perlahan. Melewati lobi yang kosong. Aku mengecek ke ruang penjagaan, memeriksa kamera pengawas. Namun, semua kabelnya sudah terlepas dan terpotong. Bagaimana aku bisa menemukan dia?

Untungnya tempat ini tidak besar. Aku melanjutkan mencari. Menyusuri lorong yang dihiasi tubuh-tubuh tomate dalam berbagai fase. Cairan hitam menggenangi lantai. Mereka semua sudah mati. pastilah Chris yang melakukannya. Setiap kali bernapas, kudengar derunya lewat topeng gas yang kugunakan. Dinginnya tempat ini membuatku bergidik.

Sampai aku menemukan sebuah pintu lain menuju basemen. Aku memberanikan diri turun di sana. Memijak begitu hati-hati. Di ujung tangga terdapat lorong yang berujung pada pintu yang terkunci. Aku mendorongnya pelan, namun tak bisa juga terbuka. Aku hendak meninggalkannya, ketika pintu itu terbuka. Dari celah pintu, aku melihat sepasang mata biru.

“Eve,” panggilnya. Pintunya berayun. Sementara aku berdiri terpaku. “Terima kasih.”

Aku tersenyum. Sampai aku melihat dua orang di belakangnya. Seorang perempuan berambut hitam arang dan anak perempuan kecil dalam gendongannya. Emma. Aku tahu dia, lalu tersenyum padanya.

Kuturunkan bawaanku. Kulemparkan salah satu senapan pada Chris. “Aku hanya punya satu masker gas.”

Chris mengambilnya. “Mereka tidak menyebar lewat udara. Kamu tahu.”

“Ya, jaga-jaga.”

Chris memakaikan masker itu pada anak perempuannya yang sedari tadi menatapku ingin tahu.

“Ayo,” kataku pada mereka semua.

“Eve, masih ada senjata di tasmu?”

Aku berhenti, menoleh pada Emma yang bertanya, kemudian Chris. Aku mengambil pistol yang kuselipkan di pinggangku. Sementara Chris hanya diam saja.

“Buka pengamannya sebelum kaugunakan,” pesanku, berjalan duluan.

“Ya, aku tahu, Eve. Aku bisa menggunakannya,” balasnya dingin.

Aku menarik napas panjang. Chris bertukar posisi, sekarang ia yang memimpin rombongan kecil ini. Aku di paling belakang, terus waspada. Sesuai perkiraan Chris, para tomate keluar dari kegelapan yang membayangi lobi. Berkas-berkas sinar dari luar membuat bayangan panjang mereka di lantai yang kotor.

Jantungku berdentum-dentum. Keringat membanjiri seluruh tubuhku. Aku mulai membidik ke seluruh arah. Senjata EMP dengan energi kecil bisa menonaktifkan mereka beberapa saat. Butuh sesuatu yang besar dan kuat untuk benar-benar mematikan mereka. Beberapa tomate ambruk oleh seranganku. Langsung pada CL yang bersarang di kepala mereka. Namun, seringkali butuh beberapa kali serangan untuk membuat mereka benar-benar mati.

“Kita butuh bom EMP,” ujarku pada Chris.

“Itu akan membuat bandara terkena efeknya, Eve.”

“Kita tidak bisa keluar dari sini….” Aku memandang khawatir pada sekitar kami. Saat aku kembali menatap Chris, dia sejak tadi sudah melakukannya. Kecemasan yang merundungnya, aku sangat mengerti tentang itu.

Semakin lama kami berdiri di situ, aku tahu kawanan tomate sedang bergerak menuju kami. Lari sekarang atau tidak sama sekali.

**

(bersambung)

Diposting juga di Gramedia Writing Project.

§ One Response to Selamat ulang tahun, Eve

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Selamat ulang tahun, Eve at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: