perjumpaan di samudra

8 Desember 2014 § Tinggalkan komentar

the master

Aku bisa bercerita dengan bangga pada dunia tentang pertemuan kita. Pagi itu, di tengah samudra, di antara embusan angin yang membelai haluan. Kamu berdiri di sisi pagar pembatas, menatap jauh pada lautan seakan mengajak mereka bicara. Aku mendekat, entah untuk apa. Mungkin karena sejak awal kamu menarik perhatian aku yang hanya seorang diri.

Ada sepuluh langkah antara kita. Jarak yang sengaja kucipta karena kala itu kita bukan siapa-siapa. Kuhamparkan pandangan pada permukaan penuh gelombang. Pernahkah samudra menenangkan dirinya? Namun, itu terasa mustahil–kalaupun terjadi, pada saat itu Bumi sudah mati. Jadi, aku berdiri di sana, menatap laut yang berbuih. Mendengarkan deru kapal yang melaju memecah ombak.

Kita sama-sama tenggelam dalam diam. Sebab kita hanya orang asing. Aku harap laut hari itu biru. Serupa yang aku lihat di kartu pos-kartu pos kiriman kenalan di negeri seberang. Biru dan buih putih. Sinar matahari dan camar-camar terbang. Di sini hanya ada kelabu. Langit yang mendung dan laut yang abu-abu. Sepuluh kaki dariku, kamu berdiri dengan dengan kemeja biru pudar, seperti terlalu sering dipertemukan dengan sabun cuci.

Kini, kamu meneruskan menenggak soda kalengan. Aku mengerling padamu beberapa detik sekali. Mencoba mengabadikan sosokmu tanpa bantuan kamera atau kanvas. Biar aku menyimpanmu sebagai memori berharga, cuma ada dalam ingatan, hanya terjadi pada momen ini. Aku harus menaruhmu dengan baik, agar jika suatu saat aku ingin mengenangmu lagi, akan mudah melakukannya.

Aku memulainya dari setengah wajahmu yang bisa kulihat dari posisiku. Kata yang bisa terbersit hanya satu: manis. Hidung mancung bagus, alis yang membentang bak sayap codot, dan rahang yang ditumbuhi cambang tak terlalu lebat. Sejenak aku memejamkan mata. Kuingat baik-baik semua itu. Setengah yang jadi semua untukku, sebab itu yang hanya bisa kumiliki.

Saat aku membuka mata, kamu sedang memainkan kaleng soda. Sejenak kemudian, kamu mengambil gaya bak pelempar lembing. Mataku menajam. Kaki yang sejak tadi kuparkirkan mendadak bergerak sendiri.

“Eh, jangan!” Aku memutus jarak sepuluh langkah yang kubuat.

Sekarang tersisa tiga, atau mungkin lima. Aku tak tahu pasti. Namun, aku punya seluruh pahatan mukamu sekarang. Lengkap.

Kamu menatapku. Lenganmu masih terjulur.

Aku menengadahkan tangan. “Ada sampah yang terapung-apung di lautan sampai 150 tahun.”

“Mereka akan mengantarkannya ke pantai.”

Kugelengkan kepala. “Please.” Jantungku berdetak sungguh kencang. “Kamu nggak tahu ke mana arus akan menghanyutkannya.”

“Di sini. Di selat ini, mereka akan membawanya ke pantai pulau seberang. Seseorang akan mengumpulkannya. Akan jadi rezeki baginya.”

Aku mengernyitkan dahi. “Tapi kamu nggak tahu apa yang terjadi nanti sejak kaleng itu lepas dari tangan kamu dan kalau ya, mungkin dia sampai ke pantai.” Kamu menyeringai.

“Seperti ada ubur-ubur yang menabrak kaleng ini?” sahutmu dengan nada bicara menjengkelkan.

Kudekatkan tanganku, ikut pula tubuhku maju. Cuma selangkah jarak antara kita. Aku bisa mengamati matamu yang teduh. Dan aku benar-benar melakukannya untuk memperlihatkan aku berani. Aku berani karena aku melakukan sesuatu yang benar. Tiupan angin kini mengencang. Helaian rambut sebahuku berterbangan ke depan muka. Aku bahkan tidak mau repot-repot menyekanya karena aku menunggumu menyerahkan kaleng itu.

“Apa kamu pelaut?” tanyaku di tengah desir angin. Kamu agak mendekatkan wajahmu. Mungkin angin terlalu ribut dan mencuri¬†sebagian suaraku kabur.

“Pelaut?” ulangmu. “Bukan! Kamu pengumpul sampah?”

Sedekat ini aku bisa memperhatikan gerak bibirmu yang merah gelap dengan jelas. Aku melihat lipatan-lipatan kusut di kemejamu dan sobek besar di ujungnya.

“Bukan!” balasku. “Sini sampahnya. Biar aku buangin ke tempat sampah.”

Pada saat itu, klakson fery berbunyi. Besar dan berat. Diulang tiga kali. Aku nyaris terlonjak.

“Terima kasih… Siapa namamu? Tapi biar aku buang sendiri,” kamu beranjak dariku. Menyunggingkan senyum tipis.

“Aila.”

Aku melangkah mengikutimu. Pelabuhan sudah di depan mata. Aku berjalan di belakangmu dengan pemandangan punggung yang kini jadi begitu menarik. Degup jantungku masih begitu kencang. Kamu tahu namaku dan aku harap kamu memberi sesuatu yang sama. Jadi, aku bisa melabeli ingatan tentangmu dengan sesuatu yang istimewa.

Kita bergabung dalam barisan orang-orang yang turun menuju dek. Semakin banyak orang, kian sulit aku mengimbangimu. Aku menangkapmu menoleh ke belakangan sejenak. Sesaat kupikir kamu sedang mencariku, akan tetapi mungkin saja aku salah dan terlalu berharap banyak. Ini bukan cinta pada pandangan pertama. Hanya saja, kadang-kadang intuisi bisa menandai seseorang yang bisa saja akan jadi bermakna banyak. Aku percaya logika, tetapi kadang-kadang mengikuti intuisi membawaku pada hal-hal tak terduga.

Aku terhenyak saat melewati kotak sampah besar. Kamu tak berhenti. Aku menyela orang yang berdiri di antara kita. Menarik bagian punggung kemejamu, hingga kamu berhenti.

“Kotak sampahnya,” kataku gemetaran. Aku menyadari apa yang barusan aku lakukan.

Kamu memandangiku tanpa aku bisa menebak apa emosi yang terjadi di sana. Selama sejenak, aku dirundung khawatir. Sampai kamu melepaskan diri dariku, berjalan menuju kotak sampah dan membuang kaleng di tanganmu. Memberiku pandangan lain yang seolah bertanya ‘puas?’.

Thanks!” seruku.

Kukira kami akan berpisah di sana. Namun, kamu malah berjalan lagi ke arahku. Mendorong bahuku, hingga aku terpaksa ikut denganmu menyingkir ke pagar pembatas. Pelabuhan sudah benar-benar tertangkap mata sekarang dari tempat kami berdiri.

“Apa kita pernah bertemu?” tanyamu.

Aku terdiam sebentar. Pertanyaan itu menjadi tiketku untuk memandangmu lekat-lekat, tanpa malu-malu. “Aku rasa tidak.”

“Wajahmu familier buatku. Mungkin kita pernah ketemu tanpa kita sadari,” ujarmu dengan suara hangat.

“Apa kita akan ketemu lagi?”

Kamu tertawa. “Mungkin. Mungkin di kehidupan ini. Mungkin di kehidupan yang lain.”

“Kamu percaya?”

“Nggak ada ruginya percaya tentang itu. Mungkin di kehidupan yang lain aku bisa jadi sesuatu yang aku inginkan. Aku bisa jadi raja. Aku bisa jadi mata-mata. Aku bisa jadi astronaut. Mungkin kita kenal dekat.” “Ya, ya,” aku mengiyakan sambil mengangguk-angguk.

“Namaku Thomas.” Akhirnya, aku menemukannya.

Thomas. Perjumpaan di samudra. Aku masih punya semua memori yang perlahan kian pudar bersama puluhan perjalanan fery yang kulakoni setelah itu.

Kita akan bertemu di lain waktu, di lain kehidupan. Aku percaya.

8/12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading perjumpaan di samudra at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: