karma

5 Februari 2015 § 12 Komentar

Dear Jon,

Maaf untuk waktu yang panjang untuk membalas suratmu. Untuk pesan-pesan dan teleponmu yang kuabaikan. Karena setelah membaca suratmu yang terakhir, aku tak bisa menahan diri untuk membencimu.

Bukan salahmu untuk tahu. Aku menyadari itu. Kamu tak bisa melakukan apa-apa, aku juga mengerti. Semuanya terjadi. Aku jatuh cinta kepadanya. Hingga kini, aku masih belum bisa lepas darinya. Masa lalu memang sudah tertinggal di belakang, Jon. Tertinggal di kotamu, namun hatikulah yang berubah. Hatiku yang terpenjara oleh cinta yang tak mungkin bisa kumiliki.

Sekali dua kali, aku ingin sekali kembali ke sana. Menengok makam ayah dan ibu. Duduk di teras rumah sambil menikmati hujan dan kemboja yang rontok satu-satu. Lalu aku akan mengingatnya pernah datang dan duduk di situ. Mengenang sampai perih. Bahkan untuk mengunjungi makam orang tuaku, aku harus menahan diri.

Cuma kepadamu aku bisa bicara tentang masa lalu yang tidak menyenangkan itu. Menahannya sendiri seperti membenamkan kepalaku di dalam air–lama-lama aku bisa mati. Hiperbolis memang. Dulu, aku sering menertawakan kenalanku yang tersiksa karena harus berpisah. Sekarang, karmaku datang, aku sendiri tertimpa nelangsa itu.

Bagaimana aku bisa berhenti bergumul dengan masa lalu, jika tiba-tiba dia muncul lagi? Meski hanya lewat pesan singkat, berbulan-bulan setelah chat singkat kami lewat Skype saat dia mendampingi Amelia. Dia cuma bertanya kabarku. Aku ingin berkata banyak. Aku ingin bilang kalau aku merindukannya. Aku tahu aku tak bisa. Aku cuma menjawab sebaris sesuai dengan pertanyaannya itu. Setelah itu, dia tak membalas lagi.

Pesannya yang lain baru datang malam yang lalu. Maka, aku menulis surat ini untukmu. Dia bilang ingin bertemu denganku.

Bagaimana kalau aku bilang aku menyesali keputusanku yang dulu? Keputusanku untuk melangkah menjauh darinya sementara aku punya kesempatan untuk bersamanya meski hanya jadi yang kedua? Bagaimana jika aku memutuskan untuk menyanggupi pertemuan dengannya lagi dan memohon agar diberi kesempatan kedua, kesempatan untuk bisa ada di sampingnya?

Aku bisa memilih.

Ini kali pertama aku belajar, terpaksa berhenti mencintai adalah sesuatu yang punya kuasa menyakiti tanpa ampun.

Aku tidak ingin sakit lebih lama lagi.

Terima kasih untuk perhatianmu. Datanglah ke sini dan aku akan menemanimu bicara seperti dulu. Kita bisa bicara dari pagi hingga pagi lagi tanpa perlu ada orang yang peduli. Aku juga kangen kepadamu.

Salam,

Tatyana

 


 

Surat Hari ke – 1: Halo, Tatyana

Surat Hari ke – 2: Kangen

Surat Hari ke – 3: Sakit

Surat Hari ke – 4: Jangan Sebut Namanya Lagi

Surat Hari ke – 5: Orang Lama dan Orang Baru

Surat Hari ke – 6: Sierra Tango Oscar Papa

Surat Hari ke – 7: Aku Tau, Tatyana

Tagged:

§ 12 Responses to karma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading karma at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: