haruskah aku memaafkanmu?

8 Februari 2015 § 10 Komentar

Haruskah aku memaafkanmu, Jon?

Bukan 180 hari. Cuma 167 hari. Hitungan sesederhana itu saja kamu lupa.

Lain kali suruh Elsa catat di agenda harianmu. Dia pasti doa yang dikabulkan Tuhan setelah berkali-kali kamu mengeluhkan tak ada lagi yang mau mengurusi jadwal padatmu itu setelah aku pergi.

Aku harap doaku juga bernasib sama dengan milikmu. Aku punya sebuah doa yang selalu kulafalkan dalam hati sebelum tidur. Permintaan kecil agar aku tidak diberi mimpi.

Agaknya harapanku terabaikan atau belum terwujud. Mimpi-mimpi itu masih muncul. Menghantuiku setiap malam, membangunkanku di tengah kegelapan, membuatku pilu saat matahari sudah kembali datang. Di siang hari saja aku belum bisa berhenti memikirkannya. Di malam hari, saat aku merasa terlelap adalah kesempatan paling aman untuk bersembunyi dari memori tentang dia–nyatanya, wujudnya masih selalu bisa muncul, sebagai mimpi.

Malam tadi, dia datang lagi. Aku selalu bisa mengamati wajahnya pada kesempatan lain. Kali ini, aku hanya mendapatkan rupa punggungnya saja. Dia duduk di depanku. Tubuhnya berguncang karena tersedu-sedu tanpa suara.

Aku terbangun dan nyaris menangis. Mengawang pada kegelapan cukup lama. Sampai aku menemukan ponselku di ujung ranjang. Aku menghubunginya saat itu juga. Aku tidak tahu. Aku merasa menghubunginya. Akan tetapi, aku segera menghentikan aksi konyolku itu.

Aku cuma benar-benar takut apa yang bertandang ke mimpiku itu menjadi kenyataan.

Masih jelas bayangan punggungnya yang gemetar. Sementara aku duduk di belakangnya tanpa bisa melakukan apa-apa. Itu benar-benar menyiksa.

Dia balas meneleponku pagi tadi. Aku mengaku tidak sengaja menekan nomornya. Aku tidak bisa memberitahunya apa yang menimpa kami dalam mimpi itu.

Aku ingin bilang kalau aku merindukannya, tapi tak mampu. Aku ingin bilang kepadanya jangan pergi, bahkan aku tidak pernah memilikinya di sisiku.

Karena, di dalam mimpiku dia pergi. Dia menjauh sebelum aku sempat melihat parasnya. Paras yang terluka karena kepergian istrinya, selamanya. Dia pergi dan aku cuma bisa menatap punggungnya saja.

Di dalam mimpiku, dia masih selalu datang. Selalu pergi. Haruskah aku memaafkannya?

Haruskah aku memaafkanmu?

Aku tak tahu.

 

Salam,

Tatyana


 

Surat Hari ke – 1: Halo, Tatyana
Surat Hari ke – 2: Kangen
Surat Hari ke – 3: Sakit
Surat Hari ke – 4: Jangan Sebut Namanya Lagi
Surat Hari ke – 5: Orang Lama dan Orang Baru
Surat Hari ke – 6: Sierra Tango Oscar Papa
Surat Hari ke – 7: Aku Tau, Tatyana
Surat Hari ke – 8: Karma
Surat Hari ke – 9: Tersenyumlah Tatyana

Tagged:

§ 10 Responses to haruskah aku memaafkanmu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading haruskah aku memaafkanmu? at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: