Inglourious Basterds, mereka, dan kamu

12 Februari 2015 § 9 Komentar

Dear Jonathan,

Terima kasih sudah tiba-tiba muncul di depan gerbang kosku minggu lalu. Harusnya kamu nggak perlu repot-repot mengingatkan dengan cara itu hanya karena aku belum sempat membalas suratmu. Lain kali, ajaklah Elsa agar pertemuan kita makin ramai. Perjalanan-perjalanan seperti yang sering kita lakukan dulu pasti bisa mendekatkan kalian. Bukan aku menyuruhmu membesarkan harapannya, tapi cuma membalas sikap baiknya. Kamu bukan orang jahat, Jon, dan tidak akan pernah jadi salah satunya.

Aku ingat untuk menyuratimu lagi setelah semalam aku menonton ulang Inglourious Basterds. Kali ini seorang diri. Sebelum-sebelumnya, aku selalu punya seseorang yang duduk dan memelukku. Aku bukan sengaja jadi melankolis mengingat itu. Hanya saja, aku baru menyadari betapa banyak kenangan yang tersimpan bersama film itu.

Kali pertama, aku menontonnya karena Ben. Waktu itu aku tidak punya hubungan terlalu baik dengan film-film karyaQuentin Tarantino. Terlalu sadis menurutku. Namun, Ben yang ketika itu sama dengan posisi Elsa kepadamu sekarang, tetap membujukku. Kebaikan hatinya akhirnya meluluhkanku. Kami nonton bersama. Sama-sama mengagumi ceritanya. Kami tak pernah berpisah setelah itu.

Sebelum semalam, aku menonton ini bersama abangmu. Kami berdebat apakah Inglourious Basterds merupakan cerita paling tragis dan sedih yang pernah dibuat Quentin Tarantino. Aku yang mendukung pendapat itu. Sedangkan menurut abangmu, film itu seru dan lucu. Malam itu jadi salah satu kenangan paling menyenangkan yang kupunya tentang kami. Kalau aku bisa memilih satu memori untuk dijadikan abadi, aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengajukan momen itu.

Malam tadi aku memang sengaja… sengaja mengenangnya. Kami bicara lagi beberapa waktu terakhir, Jon. Jangan berpikir macam-macam, itu cuma obrolan sederhana. Basa-basi. Sebab, dia ternyata ingin menegaskan kalau kehamilan istrinya tidaklah benar. Dia tidak mungkin melakukannya.

Itu jadi kali kedua aku mendengarkan kisah tentang istrinya tanpa memintanya berhenti bercerita. Dia bilang itu keinginan istrinya, namun dia tidak bisa mengabulkannya karena khawatir dengan kondisi kesehatan istrinya. Dan ini jadi kali pertama aku memberi saran kepadanya tentang apa yang harus dia lakukan. Menggelikan, bukan?

Selama berhari-hari kami bicara sedikit-sedikit. Menjaga sikap agar tidak bicara lebih dari seharusnya. Bukankah itu menyakitkan? Dua orang yang saling mencintai, namun hanya bisa menahan diri. Mengubur rindu dalam-dalam agar tidak terucap. Menghalang-halangi cinta hingga kabur batas antara bahagia dan derita.

Sampai akhirnya malam tadi, dia menukas kalimatku dan bilang  alasan utama tidak bisa mewujudkan permintaan istrinya adalah karena aku. Karena dia masih mencintaiku. Karena dia masih memikirkanku dan menginginkanku. Dia mengatakan itu ketika Inglourious Basterds sampai pada adegan yang melantukan Un Amico milik Ennio Morricone. Adegan favorit kami dari film tersebut.

Pembicaraan kami berakhir di situ. Aku tidak membalas apa-apa. Aku juga merindukannya. Masih mencintainya. Aku mulai menikmati rasa sakit karena mencintainya. Menerima rindu-rinduku yang tak pernah berbalas. Bersabar mendengarkannya bercerita tentang istrinya, agar kami bisa bicara. Aku bertahan karena aku tahu dan meyakini benar apa yang diucapkannya semalam.

Kadang-kadang aku berpikir untuk memintanya berhenti mencintaiku. Untuk mulai membenciku. Jadi, aku bisa lebih mudah meninggalkannya. Berhenti berharap dan mengangankan bisa kembali bersamanya. Karena selama cinta masih ada, harapan akan turut bersamanya.

Atau mungkin setelah semua ini, aku yang harus menegaskan diri untuk pergi. Merelakan yang tak bisa kumiliki. Membunuh cinta antara kami.

Aku punya pilihan. Iya, kan, Jon?

Setiap kali aku bicara denganmu, ingatanku selalu melayang kepadanya. Maaf kalau aku mengatakan itu. Akan tetapi, kamu seperti batas terakhir antara aku dan dia, Jon. Batas yang mengingatkan aku untuk berhenti dan tidak lagi mencampuri urusan keluarga kalian. Batas yang membuatku akan selalu memilih jadi orang asing bagimu dan dia.

Aku tidak akan bisa melewati ini semua tanpa dukunganmu. Terima kasih selalu ada untukku. Aku akan membalasnya suatu hari nanti. Lain kali, jika kita bertemu, ayo menambahkan kenangan manis lain pada Inglourious Basterds.

Salam,

Tatyana


 

Surat Hari ke – 1: Halo, Tatyana
Surat Hari ke – 2: Kangen
Surat Hari ke – 3: Sakit
Surat Hari ke – 4: Jangan Sebut Namanya Lagi
Surat Hari ke – 5: Orang Lama dan Orang Baru
Surat Hari ke – 6: Sierra Tango Oscar Papa
Surat Hari ke – 7: Aku Tau, Tatyana
Surat Hari ke – 8: Karma
Surat Hari ke – 9: Tersenyumlah, Tatyana
Surat Hari ke – 10: Haruskah Aku Memaafkanmu?
Surat Hari ke – 11: Jangan Khawatir, Aku Ada Untukmu
Surat Hari ke – 12: Cinta Lama Masih Ada
Surat Hari ke – 13: Sama Saja

Tagged:

§ 9 Responses to Inglourious Basterds, mereka, dan kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Inglourious Basterds, mereka, dan kamu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: