pilih sendiri jawabanmu

13 Februari 2015 § 7 Komentar

Dear Jon,

Pertanyaan mana yang harus kujawab? Kamu punya enam tanda tanya di suratmu kemarin. Aku akan menjawab empat di antaranya. Dan kamu pilih sendiri jawaban yang kamu inginkan.

Pertanyaan pertama:

Mengenai kafe baru yang ingin kamu rintis di sini. Itu memang menarik. Aku mendukung apapun yang mau kamu lakukan. Akan tetapi, daripada berdiskusi denganku yang pengetahuan tentang bisnisnya dangkal, lebih baik kamu bicara dengan kakak iparmu.

Pertanyaan kedua:

Aku senang kalau bisa mengulang ritual kita lagi seperti dulu. Malam-malam yang penuh canda tawa. Obrolan ngalor-ngidul dan bercangkir-cangkir kopi. Aku merindukan itu. Sayangnya, aku tidak yakin bisa mengulang itu lagi, bahkan jika kamu di sini. Semua berubah, Jonathan. Tempat ini bukan kota kecil yang memberi kita banyak waktu bersama-sama. Di sini, mungkin sesekali aku bisa meluangkan waktu untukmu.

Pertanyaan ketiga:

Apakah aku merasakan hal yang sama? Rindu?

Aku selalu kangen kepadamu, Jon. Kamu satu dari sedikit teman yang meski sudah terpisah ruang masih setia berkontak denganku. Apalagi dengan surat-surat ini… aku merasa spesial, merasa istimewa, sekaligus lucu sekali. Ketika kecil aku bahkan tak punya sahabat pena yang rajin berkirim surat.

Pun, aku senang dengan kehadiranmu. Kamu kelihatan sehat dan cemerlang. Nanti suatu hari, kalau aku sudah siap, aku yang akan gantian berkunjung kepadamu. Aku benar-benar kangen kafe dan kota kecil yang sempat kubenci itu. Aku ingin menengok makam ayah dan ibu. Aku selalu punya niat untuk pulang. Namun itu kembali kukubur dalam-dalam karena luka. Karena aku masih tak sampai hati untuk menghadapi dia lagi, meski cuma kenangan dan bayangan.

Pertanyaan terakhir:

Bisakah aku berhenti bicara tentang dia? Sudah saatnya kamu tahu, kalau dialah salah satu alasanku bicara kepadamu, Jonathan. Diam-diam aku berharap, dengan mengutarakan semua kepadamu, kamu bisa jadi benteng–pengingatku agar aku berhenti mengharapkannya. Aku berharap kamu marah kepadaku seperti waktu itu karena sampai sekarang aku masih mencintainya. Aku berharap kamu menyadarkanku kalau semua derita yang kutanggung ini sia-sia. Kami tidak akan pernah bisa bersama. Sebesar apapun dia mencintaiku. Sebesar apapun aku mencintainya.

Aku berharap besar kepadamu, Jonathan. Orang-orang mungkin akan mengira aku memanfaatkan kehadiranmu. Maafkan aku.

Ketika aku menunjukkan surat-suratmu kepada Shara, sahabatku. Dia bertanya mengapa kita tidak bersama saja. Aku tertawa keras-keras, Jon. Itu ide yang nyeleneh. Aku bilang kepadanya kalau itu tak mungkin, tapi dia bilang aku sendiri yang membuat itu tak masuk akal.

Shara bilang aku terlalu buta untuk melihat. Cintaku kepadanya sudah menutupi hatiku. Seluruh pikiranku sudah cemar olehnya. Semalam aku membaca ulang semua suratmu, terutama pertanyaan dan pernyataan di akhir surat terakhirmu. Tentang cemburumu. Aku mengerti.

Kepada Shara, aku jelaskan mengapa itu mustahil. Aku tahu diri, Jonathan. Aku datang ke hidupmu, hidup abangmu. Aku datang dan nyaris merusak rumah tangganya. Apa aku masih harus datang lagi dan menghancurkan ikatan keluarga kalian? Ada rasa bersalah yang abadi dan nyata padaku untuk kakak iparmu. Kepada anak-anaknya. Kepadamu. Aku tidak ingin menyakitimu, Jonathan.

Aku adalah antagonis dalam cerita ini, Jonathan. Dari manapun kamu memandangnya, kesalahan akan tertumpu kepadaku. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang mencintaimu dibanding aku. Namun, seperti yang kamu bilang, aku punya pilihan.

Di surat yang pernah dia berikan kepadaku. Dia ingin aku jatuh cinta kepada orang lain. Semalam dia menanyakan itu kepadaku, apakah aku sudah menemukan seseorang yang bersedia memberikan dunianya kepadaku. Aku belum menjawab dan dia menertawakanku. Sudah lama sekali sejak aku mendengar dia tertawa selepas itu. Dia bilang dia tidak pernah keliru.

Dia bilang dia putus asa tapi tak bisa berhenti mencintaiku. Dia suruh aku berhenti mencintainya karena dia tak bisa memberikan apa-apa selain cinta dan lebih banyak derita. Dia beritahu aku kalau seseorang yang kucari itu ada di dekatku. Dia bilang dia ingin aku bahagia, benar-benar menginginkannya. Karena dia tidak akan pernah bisa melakukan itu.

Dia bicara tentang kamu. Aku mengerti. Aku selalu menyukaimu meski kadang-kadang kamu menjengkelkan. Aku tidak ingin ada untukmu hanya karena dia memintaku untuk itu. Hanya karena kamu seseorang yang ada setelah dia putus asa dengan hubungan kami. Kalau aku bersamamu nanti, aku ingin dalam kondisi jatuh cinta sungguh-sungguh kepadamu.

Terima kasih untuk selalu ada bagiku. Aku akan berusaha tidak lagi bicara tentangnya. Atau mungkin sama sekali berhenti. Terima kasih selalu mendengarkanku bicara tentang dia. Aku mencintainya karena dia menginginkanku dan membutuhkanku. Bagiku, kamu selalu istimewa, Jonathan. Terima kasih sudah mencintaiku, sekarang giliranku mendengarkanmu.

Salam,

Tatyana


Surat Hari ke – 1: Halo, Tatyana
Surat Hari ke – 2: Kangen
Surat Hari ke – 3: Sakit
Surat Hari ke – 4: Jangan Sebut Namanya Lagi
Surat Hari ke – 5: Orang Lama dan Orang Baru
Surat Hari ke – 6: Sierra Tango Oscar Papa
Surat Hari ke – 7: Aku Tau, Tatyana
Surat Hari ke – 8: Karma
Surat Hari ke – 9: Tersenyumlah, Tatyana
Surat Hari ke – 10: Haruskah Aku Memaafkanmu?
Surat Hari ke – 11: Jangan Khawatir, Aku Ada Untukmu
Surat Hari ke – 12: Cinta Lama Masih Ada
Surat Hari ke – 13: Sama Saja
Surat Hari ke – 14: Inglourious Basterds, mereka, dan kamu
Surat Hari ke – 15: Cinta itu Memilih

Tagged:

§ 7 Responses to pilih sendiri jawabanmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading pilih sendiri jawabanmu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: