aku mencintaimu

22 Februari 2015 § 3 Komentar

Dear Jonathan,

Pertemuan terakhir kita menjadi kali pertama aku mendengar kalimat itu darimu. Jujur dan polos.

“Aku mencintaimu.”

Matamu penuh binar. Pipimu memerah. Kamu merengkuhku dalam pelukanmu. Menambatkan sebuah ciuman di pipiku.

Jadi, aku tersenyum saat kamu melakukan itu di depan semua orang. Di depan abangmu, kakak iparmu, dan kedua keponakanmu yang bersorak gembira. Menandaiku sebagai milikmu.

Aku berusaha mengeluarkan balasan setara. Kalimat sederhana yang sama. Hanya dua kata. Namun bibirku terkatup rapat. Aksara yang menyusunnya kocar-kacir dalam kepalaku.

Aku mematung. Kamu semringah. Aku menghela napas. Kamu menunggu.

Dan kata-kata itu tak pernah bisa keluar dari mulutku. Maafkan aku. Aku mencoba tapi tak bisa.

Aku mengecewakanmu. Sebesar itu juga yang aku rasakan. Saat aku minta maaf, kamu bilang akan menunggu. Sampai kapan kamu mau menunggu, Jon?

Hari itu, saat kita semua pergi berpiknik ke Taman Safari, kamu memang tak pernah meninggalkanku sendirian meski cuma sebentar. Mungkin kamu takut kalau abangmu akan mencuriku lagi. Akan tetapi, kamu tahu kalau selalu ada jalan untuk cinta.

Kamu sempat lengah. Kakak iparmu disibukkan dengan kedua buah hatinya. Dan dia mengajakku bicara. Berdua. Singkat. Di tengah jejalan manusia yang berakhir pekan di sana.

Dia menggenggam tanganku lagi. Hanya sekejap. Tatapan kami terkunci satu sama lain. Dia bilang dia masih mencintaiku.

Dia mengatakan itu dengan lirih. Suaranya yang sejuk hilang di tengah hiruk pikuk sore itu. Meski tidak mendengarnya, aku bisa membaca gerak bibirnya. Ekspresi wajahnya yang begitu sedih dan pilu saat mengucapkan itu.

Jika cintanya kepadaku membuatnya sakit, mengapa dia masih bertahan? Pertanyaan itu juga kuajukan pada diriku sendiri. Kalau itu menyakitinya, mengapa aku masih bertahan? Kami membelenggu cinta yang harusnya membebaskan.

Jon, pada sore itu, meski sadar itu begitu menyakitkan, aku membalas kata-kata dia dengan kalimat yang harusnya kuucapkan untukmu.

“Aku mencintaimu.”

Maafkan aku. Aku menyesali itu.

 

Tatyana 


Surat Hari ke – 1: Halo, Tatyana
Surat Hari ke – 2: Kangen
Surat Hari ke – 3: Sakit
Surat Hari ke – 4: Jangan Sebut Namanya Lagi
Surat Hari ke – 5: Orang Lama dan Orang Baru
Surat Hari ke – 6: Sierra Tango Oscar Papa
Surat Hari ke – 7: Aku Tau, Tatyana
Surat Hari ke – 8: Karma
Surat Hari ke – 9: Tersenyumlah, Tatyana
Surat Hari ke – 10: Haruskah Aku Memaafkanmu?
Surat Hari ke – 11: Jangan Khawatir, Aku Ada Untukmu
Surat Hari ke – 12: Cinta Lama Masih Ada
Surat Hari ke – 13: Sama Saja
Surat Hari ke – 14: Inglourious Basterds, Mereka, dan Kamu
Surat Hari ke – 15: Cinta Itu Memilih
Surat Hari ke – 16: Pilih Sendiri Jawabanmu
Surat Hari ke – 17: Aku, Mencintaimu
Surat Hari ke – 18: Bayang-Bayang
Surat Hari ke – 19: Jangan Biarkan Aku Menunggu Terlalu Lama
Surat Hari ke – 20: Mulai Mencintaimu
Surat Hari ke – 21: Pilihan
Surat Hari ke – 22: Pilihan

Tagged:

§ 3 Responses to aku mencintaimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading aku mencintaimu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: