titik balik

24 Februari 2015 § 2 Komentar

Aku terima kekecewaanmu, Jonathan. Kemarahanmu. Segala yang pantas aku dapatkan akan aku terima.

Aku menyesali itu, Jonathan. Andai aku bisa memutar waktu, aku tidak akan mengatakan itu kepada abangmu. Itu sia-sia. Itu menyakitimu. Itu menyakitkan untuk kita semua.

Maafkan aku.

Setiap orang butuh titik balik, Jonathan. Di sana, adalah titik balik milikku. Aku belum bisa melupakannya dan itu tidak mudah, apalagi ketika dia ada di hadapanku. Akan tetapi, aku pun tidak bisa berharap apa-apa. Aku tidak punya kesempatan apa-apa. Pilihanku antara bertahan mencintainya dan tak pernah bisa bersama, atau bersamamu dan berbahagia.

Tak ada yang ingin menukar sisa hidupnya dengan duka. Meski ada yang melakukannya. Itu pilihan mereka. Tapi, bukan pilihanku, Jonathan. Aku pantas untuk bahagia lagi, seperti orang lain.

Kehadiranmu kadang masih terasa terlalu cepat bagiku. Cintamu membuatku terkejut dan gelisah. Itulah alasanku mengapa seringkali aku menjaga jarak. Aku merasa tidak pantas untuk dicintai sebesar itu. Aku harus dihukum karena kesalahan yang aku buat, yang secara tidak langsung kamu pun terkena imbasnya.

Maka, aku menyakitimu. Aku menyakiti diriku sendiri. Menyakitinya lagi dan lagi. Dan, saat aku mengucapkan itu kepadanya, aku ingin mengakhiri rasa sakit ini. Tak ada perpisahan yang mudah. Kamu pasti mengerti. Namun, aku bisa memilih untuk mengatasi dan melewati pedihnya perpisahan itu.

Jonathan, aku tidak pantas menerima maafmu. Terlalu banyak kebaikanmu untukku. Sabarmu yang tak habis-habis. Tapi kamu hanya manusia biasa, selalu ada batas untuk segalanya.

Aku mengerti konsekuensi ucapanku untuknya. Aku mengerti kalau aku bisa berhenti menyakiti diriku sendiri dan merasakan bahagia lagi. Walau jalan itu tak mudah, aku akan melewatinya. Meski waktu yang kubutuhkan untuk menempuhnya tak sebentar, aku akan sampai ke sana. Aku bisa melewatinya sendirian. Apabila aku bisa memilih seseorang untuk menemaniku, itu adalah kamu. Aku ingin berbahagia lagi, tapi bukan seorang diri. Aku ingin berbahagia bersamamu.

– Tatyana


Surat Hari ke – 1: Halo, Tatyana
Surat Hari ke – 2: Kangen
Surat Hari ke – 3: Sakit
Surat Hari ke – 4: Jangan Sebut Namanya Lagi
Surat Hari ke – 5: Orang Lama dan Orang Baru
Surat Hari ke – 6: Sierra Tango Oscar Papa
Surat Hari ke – 7: Aku Tau, Tatyana
Surat Hari ke – 8: Karma
Surat Hari ke – 9: Tersenyumlah, Tatyana
Surat Hari ke – 10: Haruskah Aku Memaafkanmu?
Surat Hari ke – 11: Jangan Khawatir, Aku Ada Untukmu
Surat Hari ke – 12: Cinta Lama Masih Ada
Surat Hari ke – 13: Sama Saja
Surat Hari ke – 14: Inglourious Basterds, Mereka, dan Kamu
Surat Hari ke – 15: Cinta Itu Memilih
Surat Hari ke – 16: Pilih Sendiri Jawabanmu
Surat Hari ke – 17: Aku, Mencintaimu
Surat Hari ke – 18: Bayang-Bayang
Surat Hari ke – 19: Jangan Biarkan Aku Menunggu Terlalu Lama
Surat Hari ke – 20: Mulai Mencintaimu
Surat Hari ke – 21: Pilihan
Surat Hari ke – 22: Pilihan
Surat Hari ke – 24: Aku Mencintaimu
Surat Hari ke – 25: Aku Kecewa

Tagged:

§ 2 Responses to titik balik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading titik balik at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: