kamu dan surat-suratmu

26 Februari 2015 § 1 Komentar

Dear Jonathan,

Aku tidak menyangka surat-surat yang kita tulis akan semenyenangkan ini. Meski kita bisa bicara lewat media lain, menunggu surat-suratmu selalu membuat aku berdebar. Seperti yang pernah aku bilang, selalu saja ada satu atau dua hal yang lebih mudah dirangkai menjadi kata-kata (meski tidak selalu manis).

Sekali aku mengantarkan suratku langsung ke hadapanmu. Sekali kamu membalas dengan cara yang sama, ya walau tidak langsung datang sih. Akan tetapi, kamu sengaja menungguku sampai aku membaca surat yang datang darimu. Bagaimana kalau aku tidak membuka surat darimu malam itu juga, apa kamu masih akan terus menunggu di depan kosku? Gosh, Jonathan, aku tidak mengira kamu bisa begitu lucu dan nggak logis.

Aku nyaris berpikir kamu tidak akan mau menghabiskan waktu hanya atas dasar menebak-nebak apakah aku akan membuka suratmu segera atau tidak. Untungnya aku membukanya. Dan aku menemukanmu di depan kosku. Malam itu yang gerimisnya berubah jadi hujan deras, kita mengulang ritual kita lagi. Akan tetapi, kali itu kita duduk tanpa kata-kata.

Aku tahu kamu masih kecewa kepadaku. Aku tidak sampai hati bertanya langsung tentang itu kepadamu. Jadi, aku membiarkanmu diam. Aku ikut menutup mulut, berkeras cuma mau menjawab jika ditanya saja. Menghadapimu secara langsung lebih membuat nyaliku ciut dibandingkan memutuskan jujur lewat surat.

Sampai akhirnya, kamu menawarkan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang tak bisa kamu utarakan lewat surat. Tapi, aku bisa membalasnya dengan surat kalau tidak bisa menjawab malam itu juga.

Jadi, aku menulis surat ini untuk menjawabnya. Kali ini, baru aku merasa menulis lebih berat dibanding mengatakannya langsung di depanmu. Aku hanya ingin menjawab itu, namun tidak tahu harus mulai dari mana. Seakan kali ini aku kehabisan stok kata-kata untuk mengindah-indahkan kalimat yang akan kuberi.

Jawaban yang sebenarnya sudah pernah kubilang kepadamu di surat yang lalu. Yang kurasa sudah merangkum segala jawaban yang kamu inginkan, Jonathan.

Aku ingin berbahagia bersamamu.

Apakah itu cukup?

Kalau belum cukup, aku akan katakan dengan gamblang, aku bersedia menjadi pendampingmu. Merelakan surat-surat kita digantikan dengan ucapan selamat pagi dan ciuman di kening setiap hari.

Tatyana


Surat yang lalu:

Surat Hari ke – 1: Halo, Tatyana
Surat Hari ke – 2: Kangen
Surat Hari ke – 3: Sakit
Surat Hari ke – 4: Jangan Sebut Namanya Lagi
Surat Hari ke – 5: Orang Lama dan Orang Baru
Surat Hari ke – 6: Sierra Tango Oscar Papa
Surat Hari ke – 7: Aku Tau, Tatyana
Surat Hari ke – 8: Karma
Surat Hari ke – 9: Tersenyumlah, Tatyana
Surat Hari ke – 10: Haruskah Aku Memaafkanmu?
Surat Hari ke – 11: Jangan Khawatir, Aku Ada Untukmu
Surat Hari ke – 12: Cinta Lama Masih Ada
Surat Hari ke – 13: Sama Saja
Surat Hari ke – 14: Inglourious Basterds, Mereka, dan Kamu
Surat Hari ke – 15: Cinta Itu Memilih
Surat Hari ke – 16: Pilih Sendiri Jawabanmu
Surat Hari ke – 17: Aku, Mencintaimu
Surat Hari ke – 18: Bayang-Bayang
Surat Hari ke – 19: Jangan Biarkan Aku Menunggu Terlalu Lama
Surat Hari ke – 20: Mulai Mencintaimu
Surat Hari ke – 21: Pilihan
Surat Hari ke – 22: Pilihan
Surat Hari ke – 24: Aku Mencintaimu
Surat Hari ke – 25: Aku Kecewa
Surat Hari ke – 26: Titik Balik
Surat Hari ke – 27: Berbaliklah

Tagged:

§ One Response to kamu dan surat-suratmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading kamu dan surat-suratmu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: