Interstellar dan kenangan tentang ayah

30 Maret 2015 § 5 Komentar

IKXJO3P

Beberapa waktu belakangan ini, aku baru menyadari kadang sesuatu istimewa bukan sekadar karena luar biasa atau patut dikagumi. Seringkali muatan kenangan pada sesuatu itu yang mengubah hal yang bagi orang lain sederhana, bagimu jadi sesuatu yang spesial.

Jika kamu adalah follower twitter-ku, mungkin kamu udah capek (atau malah jadi kesengsem juga) dengan aku yang nggak berhenti juga ngomongin tentang Interstellar. Mungkin kamu cuma berkomentar: ‘ah, adit/tia cuma lagi kesengsem sama The Nolans!’. Hahaha. Yap, sebagian alasan itu memang benar. Akan tetapi, makin ke sini aku sadar kalau film itu jadi istimewa bagiku karena hal-hal lain.

Kamu boleh berkomentar kalau film itu jelek atau membingungkan atau sainsnya berantakan. Aku akan ketawa aja, aku menghormati opini dan seleramu. Aku cuma akan menjelaskan saat diminta aja dengan syarat buat untuk berdebat. Karena film itu memang mudah memicu perdebatan (sengit) sampai fanwar. Aku cuma nolanbabes dan front pendukung Interstellar yang cinta damai, jadi nggak tertarik sama debat mendebat apalagi dasarnya opini. Hahaha.

Aku ngikutin perkembangan Interstellar sejak nama Christopher Nolan diumumkan sebagai sutradara. Itu masa ketika aku bahkan nggak tahu siapa Matthew McConaughey dan belum menjelajahi lalu tersesat di genre fiksi ilmiah. Mulai November barulah aku intens mengikuti rumor dan info tentang film ini, sampai terjebak pesona Nolan bersaudara.

November 2013 itu juga jadi waktu ketika aku akhirnya pulang lagi ke kampung halaman. Beberapa bulan sebelumnya ayahku kena serangan stroke kedua dan aku yang baru saja menyelesaikan urusan dengan kampus, akhirnya diminta untuk pulang. Waktu itu, kepalaku penuh rencana-rencana, bagaimana ini, bagaimana itu.

Semuanya luruh ketika aku diminta untuk kembali ke kota kecil ini. Bayangkan pindah dari New York ke Mars. Haha. Kejauhan sih perbandingannya. Yang jelas, nggak ada lagi jalan lima menit ke toko buku atau bioskop, nggak ada lagi sederetan kafe yang bisa ditongkrongin buat nulis, nggak ada lagi event yang bikin wow, merasa gaul, dan ketemu dengan saudara sepemikiran. Banyak hal yang hilang.

Yah, moving blues ternyata memang ada. Dan padaku nggak hilang satu-dua hari. Ditambah dengan hilangnya privasi ketika di rumah setelah enam tahun tinggal sendirian. Semua kerasa berat dan keras. Belum lagi dengan kondisi ayah yang setelah stroke nggak membaik 100%, itu jadi hal lain yang bikin nggak sekali dua kali aku bertengkar dengan beliau.

Ya, bisa dibilang ada hari-hari ketika semua kelihatan begitu kelabu.

Favoritku ketika itu adalah berjam-jam mendengarkan komposisi Hans Zimmer buat Interstellar, First Step. Musiknya yang sedih-sedih sendu menghanyutkan bisa banget bikin aku tenang. Sampai sekarang pun, aku masih sering dengerin dan diserbu kenangan.

because my dad promised me.

because my dad promised me.

Seperti yang sudah banyak dari kalian mungkin tahu, kalau Interstellar adalah film yang Chris buat untuk anak perempuannya, Flora. Gadis kecil itu juga muncul di dua frame Interstellar. Ketika dikerjakan pun film ini diberi nama Flora’s Letter. Hubungan itu mewakili plot besar dari Interstellar, tentang ayah yang harus meninggalkan anak-anaknya, terutama hubungannya dengan anak perempuannya. Aku dengar, bagian itu juga terinspirasi dari hidup Chris sendiri, ketika harus bekerja dan ninggalin anak-anaknya di rumah.

Ayahku mungkin nggak heroik kayak Cooper atau begitu megah dengan bikinin sebuah film seperti Chris. Beliau adalah laki-laki yang sederhana, yang pendiam, dan dicintai banyak orang. Beliau yang bikin aku suka membaca dan dulu beliau yang suka mengajak aku ke toko buku. Beliau nggak pernah memeluk, bercanda macam-macam, atau bilang ‘i love you’.

Tapi ya, waktu dan jarak, bikin hubungan kami nggak sama lagi seperti ketika aku masih kecil atau remaja. Terlebih, ketika aku kembali lagi ke sini ketika ayah dalam kondisi sakit. Stroke tampaknya mematikan bagian otak beliau, sehingga meski kelihatan sehat, beliau nggak bisa lagi berpikir rumit. Tidak jarang hal itu membuatku aku tidak sabar dan di situ aku tahu ketika menjaga orang dalam kondisi sakit bisa begitu bikin tertekan.

Dua paragraf tersebut mungkin jadi rangkuman setahun yang sempat kulewati bersama ayah. Setahun lebih tiga hari aku ada di rumah, ayahku berpulang. Penghujung bulan Maret ini menandai empat bulan kepergian beliau. Kami sekeluarga sudah baik. Lebih dari baik.

Di antara hari-hari menunggui ayah, menanti-nanti Interstellar jadi sebuah hiburan tersendiri. Aku belajar banyak tentang film, aku belajar banyak tentang science fiction. Seperti yang aku tulis di novel terbaruku, Time After Time, ‘Ketika kehilangan satu hal, kau akan mendapatkan hal lain yang lebih berarti.’. Aku nggak tahu apa yang benar-benar berarti itu, tapi aku ya belajar banyak hal dari semua ini.

Ayahku meninggal di bulan November 2014. Sekitar dua minggu setelah aku nonton Interstellar. Dan sekarang, setelah hari-hari Interstellar berlalu, hari-hari ayah berlalu, yang ada tinggal kenangan yang saling terkait satu sama lain. Interstellar bukan film favoritku dari Christopher Nolan, tapi jadi yang paling istimewa.

Ada sebuah komentar tentang film ini yang aku ingat banget, kalau film ini dibuat untuk ayah yang nggak bisa blak-blakan memeluk atau bilang sayang ke anak perempuannya. Dan bagiku mungkin kebalikannya, setiap kali ngomongin film ini, mungkin aku sedang kangen ayahku.🙂

Terima kasih, Christopher Nolan (dan Jonathan). Terima kasih, ayah dan aku minta maaf.

Baca review INTERSTELLAR dariku.

§ 5 Responses to Interstellar dan kenangan tentang ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Interstellar dan kenangan tentang ayah at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: