Apa kamu mendengarnya?

1 April 2015 § 2 Komentar

“Apa kamu mendengarnya?”

Flora terkesiap. Tubuhnya menggigil sesaat karena kaget. Kelopak matanya menyipit, dia menaungi kedua matanya dengan tangan. Sebagian ruangan ini diliputi gelap. Lampu yang menyala dari balkon-balkon. Lampu yang menyorot pada panggung di tengah auditorium luas ini.

Dia seharusnya tidak berada di sini.

**

“Apa kamu mendengarnya?”

Pertanyaan itu terlontar dari Magnus. Flora membisu. Mencoba mencerna bergantian suara yang berseliweran di telinganya. Di hadapannya, sebuah panggung kecil berdiri. Dia duduk meleseh di lantai berlapis karpet abu-abu.

Tengkuknya merinding.

Gadis di hadapannya bergerak lincah. Menyentakkan selendang kuning cerah. Tangannya bergerak, gemulai dan indah. Pandangan Flora terpaku, kegesitan gadis itu selalu membuatnya iri.

Bulu kuduknya menegak.

Suara gamelan makin keras. Seluruh ruangan itu tersihir dalam diam. Akan tetapi, Flora menelinga sesuatu yang berbeda.

Dia punya janji. Dia seharusnya tidak berada di sini.

**

“Kamu punya waktu Senin sore?” Pemuda itu, Aldar menghampirinya ketika dia keluar dari perpustakaan.

Peranakan Arab yang sering jadi gunjingan gadis-gadis di kampus. Flora sangat mengenalnya, mereka berteman dekat sejak hari pertama perkuliahan.

“Aku punya janji.”

Aldar meraih tangannya, membuat langkah Flora terhenti. Gerimis dan angin dingin menciumi wajah Flora.

“Nggak. Kamu nggak punya, Flora.”

“Aku mau menyelesaikan naskahku, Aldar.”

“Ayolah, sebentar aja. Semalam saja. Kejutan untukmu.” Aldar memohon.

“Kejutan kok dibilang-bilang sekarang.” Flora mendengus dan bersedekap.

“Ya, kamu nggak suka kejutan. Jadi, aku harus bilang dulu.”

“Aneh,” sembur Flora.

Aldar mengacungkan dua tiket dari dalam sakunya. Dia menyengir lebar sambil mengibas-kibaskan tiket itu di depan Flora.

Nyaris saja Flora melompat gembira melihat itu. Dia memekik tertahan dan memeluk Aldar. “Harusnya simpan aja jadi kejutan!”

**

Angin berembus menepuk pipi Flora. Bukan aroma gerimis. Bukan pula sisa-sisa salju menjelang musim semi. Yang kali ini busuk. Yang kali ini beraroma sampah dan kehilangan.

Dia berdiri memeluk dirinya sendiri. Merapatkan jaket yang melekat di tubuhnya. Matanya penuh gurat merah. Bibirnya gemetar. Ada memar besar di pelipis kanannya. Ada perban bernoda darah di tangan kirinya.

Sakitnya tidak seberapa.

**

“Apa kamu mendengarnya, Flo?”

Magnus menoleh kepada gadis berambut sebahu yang duduk di sebelahnya. Dia sudah menanyakan pertanyaan itu tadi, namun tak terjawab. Tempat ini menarik perhatian Magnus sejak awal. Lama sampai akhirnya dia berani untuk mengunjunginya. Suara gamelan dan penari-penari itu membuatnya duduk dan melupakan luka.

Kali ini Flora tersenyum kepadanya. “Kamu seharusnya nggak bawa aku ke sini. Aku pengin bisa menari sebagus itu.”

“Kamu bisa ikut latihan di sini lho.”

Senyum gadis itu menipis. Sekilas nelangsa terpancar dari matanya. Magnus mengerling tangan gadis itu yang cacat. Dia bukan satu-satunya, banyak orang yang kini hidup dalam kondisi yang sama. Bahkan lebih parah. Namun, karena luka itulah yang mempertemukan Magnus dan Flora.

Gadis itu memerhatikan si penari dengan saksama. Mendengarkan suara gamelan dengan tekun. Entah mengapa Magnus kadang merasa ada yang aneh dari ekspresi Flora. Bukan kesakitan.

“Kamu dengar itu?”

Flora ganti bertanya kepadanya.

“Gamelan.”

Gadis itu menggeleng.

“Organ.”

Halusinasi dan ilusi adalah salah satu efek dari kejadian besar itu. Magnus sudah bertemu banyak korban yang seperti Flora.

**

“Apa kamu mendengar itu?”

Aldar tersenyum sangat lebar. Mereka duduk tidak jauh dari panggung yang penuh orkestra. Saking senangnya, Flora ingin mengguncang-guncang tubuh Aldar.

Di sini, di ruangan ini sekarang, Flora bisa menghirup napas yang sama dengan sutradara favoritnya Christopher Nolan, yang sedang mendiskusikan film terbarunya bersama Profesor Kip Thorne, Profesor Brian Cox, dan komposer musik Hans Zimmer.

“Ini luar biasa, Aldar. Terima kasih!”

“Buat kamu semuanya aku kasih!” Aldar membalasnya sambil tertawa.

Flora menatap figur wajah Aldar di bawah keremangan. Setiap kali bersama Aldar, Flora selalu merasa senang dan nyaman. Sesuatu yang tidak ditemukannya pada teman kencannya yang lain. Akan tetapi, bagi Aldar, dirinya mungkin hanya sahabat. Dia tidak ingin melewati garis itu.

Diskusi itu pun selesai. Seluruh ruangan bertepuk tangan. Flora merasa merinding. Menyadari penuh jika Aldar sedang menggenggam tangannya. Sekarang seluruh ruangan itu gelap, filmnya dimulai, orkestra dimainkan.

Suara organ. Spaceship yang menari di angkasa.

Dia seharusnya tidak berada di sini.

Suara gamelan. Dan penari yang meliukkan badan begitu memesona.

**

Magnus menuntun Flora keluar dari tempat itu. Dibanding dengan gedung-gedung di sebelahnya, bangunan itu masih cukup layak. Kaca-kaca bagian depannya pecah dan tidak diperbaiki, oleh sebab itu suara gamelan selalu bisa mencuri keluar dari sana.

Lima tahun lalu jadi titik dimulainya penyebaran sebuah virus berbahaya. Pesawat yang digunakan untuk mentransportasikan virus tersebut jatuh di tengah-tengah kawasan padat penduduk. dalam tiga hari, virus tersebut menyebar ke seluruh dunia. Melenyapkan 70% penduduk Bumi. Menyisakan sebagian korban selamat dalam kondisi cacat. Meski, ada sebagian kecil populasi yang malah tak tersentuh pengaruh virus itu sama sekali.

Magnus salah satunya. Dia ingat hari ketika pengumuman itu disebarkan. Seminggu sebelum jadwal sebuah konser yang ditunggunya di Royal Albert Hall, London. Pemutaran sebuah film yang diiringi orkestra.

Dan itu tak pernah terjadi.

 

 

Untuk #RabuMenulis.

§ 2 Responses to Apa kamu mendengarnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Apa kamu mendengarnya? at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: