Rasa Jeruk

8 April 2015 § Tinggalkan komentar

Dia masih bisa merasakan asam jeruk di mulutnya saat matanya silau oleh cahaya kebiruan. Sekejap, dia tidak lagi duduk di beranda rumahnya, melainkan sebuah padang rumput yang seolah tanpa batas.

Mulutnya terbuka lebar. Kaget namun tak keluar teriakan apa-apa dari sana. Sekelompok burung kabur meninggalkan ciutan berisik yang membuatnya terbatuk. Dia membungkuk, tubuhnya terguncang, biji jeruk terlempar dari mulutnya, menggelinding sampai ke tepi gaun merah muda yang digunakannya.

Di mana piyama yang tadi dipakainya?

**

Malam pertama di rumah baru. Mariska menyeret kursi kayu ke beranda. Dia menendang pintu sampai kacanya berderak. Di ujung lantainya masih ada beberapa tumpukan barang dari penghuni lama. Bisa saja dia membereskan itu sekarang, tetapi seharian menata rumah membuatnya lelah, bahkan dengan bantuan Alex.

Pemuda itu tadi pergi terburu-buru tanpa menyertakan alasan setelah menaruh barang-barang di beranda. Mariska bahkan lupa bertanya kenapa. Dia mengupas jeruknya. Mengamati kulit yang tebal dan kekuningan. Merasakan tekstur jeruk yang empuk lewat ibu jarinya. Aromanya selalu bisa membuat pikiran Mariska kembali cerah. Dia memasukkan satu siung ke mulutnya. Rasa asam bercampur manis lumer. Angin sore menepuk-nepuk wajahnya. Dia memandang berkeliling, mengamati barang-barang tua di ujung beranda ketika sesuatu menghasilkan cahaya yang begitu terang.

Mariska terengah-engah. Dia memuntahkan jeruk yang setengah terkunyah dari mulutnya. Kakinya yang diselubungi stoking terasa geli oleh ujung-ujung rumput. Dia menatap sekitarnya. Seakan matanya nyaris copot. Di depannya terhampar padang rumput tanpa batas. Di belakangnya sebuah kastil menjulang megah.

Di mana dia berada?

***

Pemuda itu bersiul-siul sambil memasukkan beberapa barang peninggalan pemilik sebelumnya. Mariska mengintip dari belakang, tersenyum sendiri. Diam-diam dia menyukai Alex, namun perasaan itu tertahan karena mereka sudah lama bersahabat. Sekejap senyum di bibir Mariska meleleh. Mengapa perasaan itu baru timbul sekarang?

“Mar,” panggil Alex. “Sini deh.”

Mariska menurunkan setumpuk buku yang dijinjingnya ke lantai. Dia menghampiri Alex yang berlutut di depan sebuah vas bunga berwarna biru. Mariska berjongkok, mengamati permukaan vas yang dihiasi ulir rumit.

“Masih bagus, kamu mau?” tawar Alex.

“Kayak ada yang bakal ngirimin aku bunga aja,” ujar Mariska yang menahan keheranan karena tak setitik debu ada di bidang vas itu. Permukaannya mengilap, bercahaya redup bahkan di bawah remang-remang bayangan dinding kamar.

“Ditaruh jadi pajangan juga nggak jelek.”

“Tapi perasaanku aneh.” Mariska memandang wajah Alex yang penuh titik-titik keringat. “Kalau ada jin-nya gimana?”

“Kayaknya kuno nih,” Alex mengangkat vas itu.

Di bawah sinar matahari siang, berlatar langit yang begitu biru, Alex menjunjung vas. Sesaat Mariska merasa tersihir oleh keelokan vas itu. Dia memandang ruangan itu sejenak, merasa ada yang aneh. Namun semua tetap sama.

Alex memandang Mariska. Sorot matanya berubah. Seakan kini pemuda itu tahu sesuatu yang paling rahasia dari Mariska.

**

Angin padang rumput berembus kencang. Sekali lagi Mariska terkejut oleh topinya yang terbang ke arah kastil. Dia berlari. Kepayahan mengangkat gaun dengan rok mengembang itu.

Dia tidak sedang ada di lokasi pengambilan gambar sebuah film. Dia bahkan bukan aktris!

Mariska terus menjejakkan kakinya keras-keras ke permukaan rumput. Namun, laju topi itu lebih cepat dari geraknya. Dia tertinggal. Napasnya menderu-deru. Mengapa dia ada di sini?

Rasa masam jeruk masih ada di mulutnya, tetapi sisa jeruk itu tak ada lagi di tangannya.

Dia melangkah menuju kastil. Semakin dekat, kian disadarinya bahwa bangunan itu sungguh besar dan luas. Tersusun dari batu-batu abu-abu. Mariska kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya.

Beberapa pelayan segera menghampirinya, memperlakukannya dengan hormat. Salah satu dari mereka sudah mendapatkan topi Mariska. Dia hanya tersenyum kikuk. Bertingkah canggung dengan jantung berdebar-debar. Dia diantarkan ke sebuh ruangan besar, yang kelihatannya adalah ruang duduk bersama. Sofa-sofa bertebaran kelihatan klasik dan penuh gaya. Dindingnya penuh dengan lukisan besar. Langit-langitnya dihiasi beberapa kandelir.

Di mana dia?

Dia bertanya kepada salah seorang pelayan. Namun pelayan itu tidak menghiraukannya. Sekali lagi, Mariska bertanya dan pelayan itu malah pergi. Saat sendirian di sana dia mencoba berteriak dan tak ada suara yang keluar. Di mana suaranya?

Mariska berdiri, menyeberangi ruangan itu dan memanggil nama siapapun yang terlintas. Ruangan itu tetap sunyi. Hanya langkah kaki Mariska yang terdengar. Dia berjalan entah ke mana hingga pandangannya terantuk pada sesuatu yang familiar–vas bunga yang ditemukan Alex. Vas bunga yang ada di beranda dan tadi dipandanginya cukup lama sembari memikirkan cerita-cerita klasik.

Dia terhuyung. Nyaris jatuh, namun segera berpegangan. Dia ingin kembali. Namun tak tahu caranya. Diraihnya vas itu dengan gesit. Akan tetapi, seakan ada yang menjarakinya dengan vas itu, dia tak pernah mendapatkannya.

Sekarang, dia kembali merasakan masam jeruk di mulutnya.

8/12/15

Ditulis untuk tantangan #RabuMenulis dari Time Traveler Series GagasMedia.


 

Suka cerita bertema time travel, jangan lewatkan #TimeTravelSeries dari GagasMedia. Time After Time dari seri Time Traveler GagasMedia sudah terbit dan bisa kamu dapatkan di toko-toko buku dan online terdekat!

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Selain di toko-toko buku terdekat. Kamu juga bisa membeli Time After Time di toko-toko buku online langganan kamu, seperti di beberapa tautan di bawah ini:

Bukubukularis (bertanda tangan terbatas + disc 20%)

Republik Fiksi (bebas ongkos kirim ke seluruh Indonesia)

Bukabuku (stok tersedia, bisa dikirim dalam 24 jam & disc 20%)

Toko buku Scoop (disc 20%)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Rasa Jeruk at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: