#NulisRandom hari 1

1 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Seorang gadis muda berkulit putih menghampiriku tergesa-gesa. Dia menaruh keranjang di depanku. Berkata dengan cepat. “Kak, aku titip keranjang ini ya. Pagi tadi ibuku menyuruh untuk mengambilnya. Nanti aku saat senja.”

Dia berlalu dengan sepeda terbangnya sebelum aku sempat menjawab. Keranjang itu tidak besar. Ditutupi kain kotak-kotak berwarna biru dan putih. Kusingkap sedikit dan kulihat timun dan terong yang bertumpukan. Ungunya masih segar. Hijaunya bagai daun yang disentuh embun pagi hari. Liurku terkumpul di mulut. Segera saja aku menyingkirkan keranjang itu dari pandangan.

Kuisi waktu siangku untuk mempelajari beberapa mantra baru. Aku menggunakannya untuk kembali ke masa lalu, mengunjungi kekasihku di umurnya yang masih belia. Ada banyak timun dalam keranjang, jika aku ambil satu mungkin tak akan ketahuan. Kumasukkan itu dalam kantong untuk kujadikan oleh-oleh bagi kekasihku.

Masa lalu selalu lebih cerah dibanding hari kedatanganku. Langitnya lebih biru. Angin bertiup sepoi-sepoi di tepi dermaga. Kekasihku menyambut kehadiranku dengan senyum semringah. Pada pelukannya, harimau putih kesayangannya yang berukuran sebesar kucing tertidur nyenyak.

“Ada apa,” tanyanya ketika aku duduk di sebelahnya. “Jarang-jarang kamu mau datang ke masa lalu.”

“Ugh. Sahabatku sedang mengerjakan tugasnya, dia minta bantuanku.”

“Tentang aku? Kenapa tidak bertanya kepada aku di masamu?” Rambutnya yang lebat berantakan oleh angin.

Kubalas tatapan matanya yang begitu biru. “Aku ingin bertemu denganmu.” Aku menarik ujung rambutku yang panjang. Warnanya yang hitam selalu berubah setiap kali angin berembus.

“Oke. Aku bahkan tidak menyangka kalau kamu akan datang.”

“Kamu tidak tahu?” Aku terkesiap.

Harimau putih di pelukannya menguap. Lalu melompat masuk ke air dan musnah menjadi gumpalan warna-warna.

“Pagi tadi ada yang menitipkan keranjang padaku.” Kukeluarkan sebuah timun dari saku. Ronanya masih seterang tadi, melintasi waktu seakan tidak berpengaruh apapun pada timun itu. “Aku tidak tahu siapa dia. Kamu juga tidak tahu?”

“Tidak. Aku sama sekali tidak punya bayangan apa-apa.”

Kami mengamati timun itu yang berpendar.

“Dia akan kembali ketika senja.”

“Apa yang sebenarnya ingin kamu tanyakan?”

“Tentang sihir besar yang kamu lakukan…. Mengapa?” Aku sudah pernah membaca tentang itu. Aku ingat. Akan tetapi, silaunya timun di tanganku itu membuatku pikiranku campur aduk.

Sesuatu meloncat keluar dari air. Asap putih yang perlahan memadat dan membentuk tubuh harimau putih. Binatan itu duduk di sisinya, menatapku dengan curiga.

“Sebab dunia teracuni dan perlahan mulai runtuh….” Kekasihku mulai berkisah. “Sebab ada seseorang yang mengantarkan racun ke masa ini–sesuatu yang seharusnya tidak boleh ada.”

Aku membisu. Tatapan kami beradu lagi. Timun itu semakin menyala.

“Kamu harus melepaskan itu!” serunya kepadaku.

Kulemparkan benda itu dari tangan. Cahaya menyilaukan dan terjangan panas menarikku jatuh ke air. Aku dan kekasihku terempas ombak. Air masuk ke dalam mulut dan hidungku. Di sekitarku penuh kepingan cahaya terang. Aku menggerakkan tanganku, melawan rasa sakit di dada. Kucari kekasihku. Matanya terbelalak. Aku berusaha menggapainya. Kakiku menendang-nendang air. Namun sesuatu menghalangi kami berdua. Titik-titik sinar tadi berubah gelap. Sekitarku pun hitam pekat.

 

Bersambung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading #NulisRandom hari 1 at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: