Arcadia & Hadrian: Anggrek Hitam

3 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Bagian sebelumnya: Apel Emas


 

Hadrian di awal umur 20 tahunnya. Matanya yang biru begitu jernih. Rambutnya bergoyang tiap kali dia bergerak. Tubuh tinggi rampingnya menyebabkannya mudah menyelip di antara pohon dan sesemakan. Kini, mereka berdua ada di belakang sebuah pohon paling tua di hutan ini. Pada tangannya dan Arcadia sama-sama memegang gendewa dari kayu hitam.

Dia memberi isyarat kepada Arcadia untuk tidak bersuara. Dengan cekatan dia menarik anak busur dari wadahnya. Arcadia tersenyum. Gadis itu menggelung rambutnya yang kini kehijauan. Tangannya menaungi mata. Pandangannya memindai sekeliling cabang dan ranting pohon. Posisi gadis itu sekarnag membelakangi Hadrian. Anak panah terpasang pada busurnya.

Angin berembus lagi. Kali ini lebih keras dan menghadirkan gemerisik yang mengusir sunyi pekat. Sasaran Arcadia masih berada di tempatnya. Meski dia tahu burung-burung lain terbang bersama angin tadi. Dia menarik tali busur dan melepas anak panahnya tanpa ragu.

**

Raungan itu makin keras. Arcadia merangkak sambil menggigil. Seluruh jarinya sakit. Lututnya lecet dan perih. Dia yakin masih ada di dalam air. Terombang-ambing gelombang.

Apakah dia mati?

Biru, harimau putih itu bergerak gesit. Berlari. Menanjak. Berputar. Memandang Arcadia dengan matanya yang besar penuh simpati.

Padahal semua gelap. Akan tetapi, Arcadia tahu jika kucing besar itu naik, turun, bahkan berbelok kanan dan kiri. Mereka seakan sedang menyusir labirin tanpa cahaya. 

Sejak tadi matanya tertutup. Arcadia berhenti merangkak. Bulu romanya meremang. Bagaimana dia bisa melihat? Apa yang sebenarnya dia lihat dan ikuti? Apa semua itu hanya khayalannya?

Dia duduk pada bidang yang halus dan dingin. Perlahan dia memberanikan diri menjauhkan kedua kelopak mata. Dia mengerjap. Sekali. Dua kali. Cuma sosok Biru yang sekarang duduk di hadapannya.

Seakan ada yang menarik tangannya. Jari-jarinya menyentuh bagian belakang bahunya sendiri. Kulitnya begitu kasar. Ada yang menggeliat di situ. Arcadia ingin melepas sentuhannya. Jari-jarinya tertahan. Permukaan kulitnya makin kasar dan sekeras baru. Suara yang didengarnya pertama kali adalah rekahan, bersamaan dengan kulitnya yang pecah. 

Tak ada rasa sakit. Dia merasa geli ketika sesuatu yang lunak keluar dari situ. Merambat di jari-jarinya selama beberapa saat. Lalu mengumpul di tengah telapak tangannya. Dengan gemetar, Arcadia menarik tangannya kembali. Dia enggan melihat apa yang ada di sana. Namun, itu akan jadi sesuatu yang menolongnya keluar dari sini.

Sekuntum anggrek hitam.

**

Arcadia hendak berlari keluar persembunyian. Dia ingin mengecek burung merah muda yang tadi dipanahnya. Langkahnya terhenti saat tangan Hadrian menggenggamnya erat-erat.

“Apa?” tanya Arcadia.

Hadrian menyentaknya dan menyeretnya berlari. Mereka menerjang semak-semak. Duri-durinya menyobek bagian bawahan pakaian mereka. Arcadia menengok ke belakang dan menyadari bagaimana ada sosok yang menyibak ranting-ranting dengan ganas.

“Sial,” umpatnya kepada Hadrian. “Apa yang kamu ganggu tadi?”

Hadrian tertawa. “Aku tidak tahu di sana ada beruang hitam. Aku ingin menangkap kancil tadi.”

Arcadia tidak ikut tertawa. Melainkan mengaduh panjang ketika ada duri yang menggores lengannya dalam. Darah mengalir dari sana. Dia masih terus berlari tanpa mengeluh. Akan tetapi, jarak mereka dan beruang itu makin menipis. Kedua kaki Arcadia begitu ngilu. Dia mulai melambat dan saat dia ingin berhenti, justru tubuhnya terbanting. Akar yang menonjol di tengah jalur lari mereka menjatuhkan Hadrian.

Mata keduanya terbelalak ketakutan saat sosok beruang itu berdiri di depan mereka. Cakarnya berkilat-kilat. Dia meraung panjang. Kengerian membekukan Arcadia saat dia melihat darah yang masih membekas di antara gigi si beruang.

Lengan beruang itu mengayun ke arahnya. Arcadia mengangkat kedua tangannya. Dia tidak cukup cepat. Saat itu juga tubuhnya melayang penuh rasa sakit.

Bersambung.

Nulisrandom2015

Hari satu: Arcadia & Hadrian
Hari dua [Arcadia & Hadrian]: Apel Emas

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Anggrek Hitam at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: