Arcadia & Hadrian: Sihir Hutan

4 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Anggrek Hitam


Yang pertama dia lihat adalah darah. Di sekujur tangannya. Di pakaiannya. Napas Arcadia berhenti sesaat. Jantungnya berdegup amat kencang. Dia mengangkat kedua tangan dengan gemetar. Bibirnya menggigil, bergerak-gerak tapi tak keluar sedikit pun suara. Barulah dia menarik napas dan menyadari kalau itu bukan darahnya sendiri.

Pandangan matanya langsung terfokus pada beberapa anjing hutan yang mengelilingi sesuatu. Salah satunya berbalas tatap dengan Arcadia dan mulai menyalak. Panik mempercepat aliran darahnya. Arcadia bangkit, mengamati sekeliling dan menemukan Hadrian tergeletak mengenaskan dekat beruang hitam tadi.

Dia bisa saja lari sekarang juga, menyelamatkan dirinya sendiri. Hutan ini tak akan suka apa yang terjadi di sini. Akan tetapi, Arcadia membawa tubuhnya menuju kumpulan anjing hutan itu. Satu persatu kepala anjing itu mengarahkan matanya yang gelap pada Arcadia. Siap memangsa.

**

“Air akan menawarkan sihir yang kalian gunakan.”

Pelajaran pertama tentang sihir yang Arcadia terima. Mentornya, seorang penyihir perempuan yang disegani, memandang satu demi satu anak muridnya. Arcadia dan lainnya duduk membentuk lingkaran di lantai berkarpet tebal. Semua berumur antara 7 sampai 9 tahun dan orang tua mereka menginginkan kelak anak-anak itu akan menjadi penerus generasi penyihir.

“Aku akan mati jika jatuh ke air?” tanya seorang anak perempuan yang duduk di samping Arcadia.

Myria, mentor mereka, menyunggingkan senyum di bibirnya yang merah gelap dan bersedekap. “Kalian pikir sihir akan menyelamatkan kalian?” Dia menggeleng. “Sihir hanya akan menyelamatkan kalian jika kalian tahu cara menggunakannya di saat yang tepat.”

Anak-anak itu mulai bicara sendiri-sendiri. Myria tersenyum melihat kegelisahan di wajah dan rasa ingin tahu mendalam yang terpapar pada ekspresi mereka. Dia selalu memberi tahu hal yang sama setiap tahun. Dia ingin mereka menyadari jika sihir bukan sekadar untuk pamer. Beberapa tahun terakhir dia menerima murid yang seperti itu dan mereka tidak betah bahkan sebelum naik ke tingkat selanjutnya.

Merapal mantra saja tidak akan pernah cukup.

“Dan kita juga tidak boleh menggunakan sihir di hutan? Mereka akan membunuh kita?” Seorang anak laki-laki bertanya dengan takut-takut.

Pertanyaan serupa selalu dia dapatkan dari murid baru. Dia memandang mereka satu persatu. Mengingat apa yang dia tahu tentang topik itu. Myria sangat tahu.

“Mereka akan meminta bayaran. Bisa dengan nyawa kalian atau hal lainnya…,” jelas Myria sabar. Mereka pasti sudah mendengar apa yang pernah menimpa Myria.

“Mengapa begitu? Mengapa memberi manusia sihir dan membencinya?”

**

Anjing-anjing itu menggonggong bersahutan. Makin dekat jarak mereka dengan Arcadia, mata-mata gelap itu kian awas. Daun dan ranting berkeresak oleh injakan Arcadia. Kawanan itu mengambil kuda-kuda, siap menyerang gadis yang mendekat pada mereka. Dada Arcadia bergemuruh. Dia tidak akan mundur. Percuma saja.

Dia memungut sebuah cabang patah di dekat kakinya. Angin berembus lagi. Kencangnya membuat satu anjing berlari menjauh dari Arcadia. Sekarang dia bisa melihat apa yang dikerumuni anjing-anjing itu. Gadis itu mengumpat pelan. Sejak tadi dia bertanya-tanya mengapa memilih mendekati kawanan itu terlebih dahulu dibanding menghampiri Hadrian.

Salah satu anjing mengangkat sesuatu dari tanah. Arcadia merapal mantra dalam hati. Tangannya memanas. Kayu di tangannya berasap dan menghasilkan api.

“Turunkan!” hardiknya pada anjing itu. Pandangan keduanya beradu. Arcadia mengayunkan kayu di tangannya. Dua dari kawanan itu kembali kabur. Lainnya, mundur perlahan, kecuali si anjing hitam itu.

Sesaat, anjing itu seakan menyeringai. Lalu menurunkan apa yang ada di mulutnya di tanah. Darah menetes-netes dari taringnya. Arcadia menelan ludah. Menggigil ketika melihat sesuatu yang merah. Sebuah potongan tangan.

 

Bersambung

NulisRandom
Seri Arcadia & Hadrian
Hari ke-1: Timun Ajaib
Hari ke-2: Apel Emas
Hari ke-3: Anggrek Hitam

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Sihir Hutan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: