Arcadia & Hadrian: Bisikan dari balik dinding

6 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Daun-daun yang menari


Ketukan itu bukan berasal dari pintu rumahnya sendiri. Panggilan si tamu kepada pemilik rumahlah yang menyeret Lusinda dari kursinya. Dari jendela samping rumahnya, sosok perempuan muda berpakaian abu-abu itu terlihat jelas. Gadis tinggi itu menyebut nama Arcadia berkali-kali. Lusi beranjak ke pintu depan, tepat ketika gadis itu hendak pergi.

“Arianna?”

Langkah gadis itu terhenti. Menghadapkan wajahnya kepada Lusi yang berdiri di depan pintunya sendiri.

“Bibi Lusi.” Arianna tersenyum tertahan.

“Sudah lama aku tidak melihatmu,” Lusi menyeberangi halamannya yang bersebelahan dengan milik Arcadia. Terakhir kali Lusi melihatnya mampir sekitar tiga tahun lalu. Sekarang Arianna berdiri penuh wibawa dan kelihatan terawat. Rambutnya ditata rapi dan diwarnai hitam pekat. “Mampirlah dulu ke rumahku. Kita minum teh. Aku sudah lama tidak melihatmu.”

Sesaat Arianna hendak menolak, tapi memutuskan untuk menerima. Dia mengamati keadaan sekitarnya yang ramai kembali seusai hujan. Aroma tanah basah terhirup paru-parunya. Dulu dia bermimpi untuk bisa menyihir hujan sendiri, setiap kali dia ingin.

Rumah tua itu masih sama dengan yang sering dikunjunginya. Perabotannya tak berubah posisi. Bibi Lusi mengajaknya duduk di bangku kayu yang diletakkan tepat di sisi jendela. Sementara Bibi Lusi menyiapkan teh, Arianna memandangi rumah yang kini ditinggali Arcadia seorang diri.

“Apa yang membuatmu kembali, Arianna?” tanya Bibi Lusi ramah sembari menyajikan teh.

Pertanyaan itu menyentil hati Arianna. “Aku mencari Arcadia. Sepertinya dia sedang tidak ada di rumah. Bibi tahu dia pergi ke mana dan kapan kembali?”

Lusi ikut memandang rumah besar itu. Salah satu yang paling luas dan tua di lingkungan ini. “Aku tidak tahu kapan dia kembali. Mungkin sore hari? Aku akan menyampaikan jika kamu punya pesan.”

“Ada yang meninggalkan keranjang buah di depan rumahnya dan penutupnya tersingkap. Aku kira keluar rumah tidak lama sebelum aku datang.” Arianna terdiam sejenak. “Aku ingin menawarinya pekerjaan bagus. Dia masih bekerja di toko buku bekas itu? Atau sudah pindah ke tempat lain?”

“Setahuku masih.”

“Dia masih berhubungan dengan laki-laki itu?” tanya Arianna kaku.

“Hadrian?” sahut Lusi, mengawasi ekspresi Arianna lekat-lekat saat mengucap nama itu. “Masih.”

Gadis itu mengernyit. Lalu buru-buru meminum tehnya hingga tandas.

Lusi menangkap maksud gestur itu. “Apa pesanmu untuk Arcadia?”

“Bilang saja aku datang kemari, Bi,” bilangnya kepada Lusi. Ragunya meluas saat berada di sini. Tadinya dia sangat yakin bisa bertemu dengan Arcadia dan bicara empat mata dengan kakaknya itu.

“Kamu mencari Pelintas?”

Pertanyaan itu menegangkan tubuh Arianna. Gadis itu menghela napas panjang. Satu tangannya mengepal kencang di bawah meja. Lusi sudah mengenal mereka berdua sejak kecil dan juga tahu apa yang sekarang dikerjakan Arianna. Tidak terlalu mengagetkan bagi Arianna jika perempuan itu bisa menebak. Namun apa yang terjadi akhir-akhir ini menyebabkan Arianna lebih awas membuka percakapan mengenai Pelintas. Dia membalas tatapan Lusi. “Aku kira pekerjaan ini akan bagus baginya. Dia bisa melakukannya.”

“Aku akan menyampaikannya, Nak.”

Lusi hanya tersenyum sambil mengantarkan Arianna keluar. Lusi menunggu hingga gadis itu hilang ditelan keramaian jalanan. Setelah yakin, bahwa gadis itu tak akan kembali lagi, Lusi menyeberangi halaman. Isi keranjang itu persis seperti cerita Arianna, hanya timun dan terung. Tak ada yang istimewa. Dalam keranjang itu isinya berjejalan, kelihatan begitu segar dibanding warna-warna di sekitar Lusi yang kian temaram. Diam-diam dia mengambil satu buah terung, menyelipkannya dalam saku dan segera kembali ke rumahnya.

Pintu rumahnya tidak hanya ditutup rapat, Lusi merapatkan gerendel yang ada. Menarik kerai di jendela-jendelanya. Meski nyaris gelap, dia tiba di rubanah tanpa halangan. Dia menuju meja batu di sudut. Simbol yang diukir di sana bersinar lemah. Menerangi meja batu itu dengan lingkaran-lingkaran yang saling beririsan. Lusi menaruh buah itu di tengahnya. Menaburkan kelopak mawar di sekelilingnya.

Kedua tangannya memegangi pinggiran meja antik itu. Pancaran terang itu makin tebal. Bisikan-bisikan di balik dinding kembali terdengar. Mereka bicara seirama–satu hal yang sama lewat berbagai bahasa. Belum pernah Lusi mengalami situasi seperti ini. Suara-suara itu adalah sisa-sisa jiwa yang pernah menderita dan bahagia di masa lalu. Biasanya mereka bicara tentang memori masing-masing. Kali ini, tak ada lagi. Beberapa suara yang akrab, tiba-tiba menghilang.

Lusi menyentuh terung itu. Permukaannya yang ungu cerah perlahan menghitam. Sementara helaian mawar di sekitarnya mengering dan beberapa mulai berubah menjadi abu. Seluruh tubuhnya gemetar. Kata-kata dari balik dinding itu perlahan menyurut dan hening seluruhnya. Kedua kaki Lusi terasa lemas. Gelegar itu terdengar lagi. Bunyi sesuatu yang runtuh. Dunia yang ambruk.

Siapa pun yang mengirim keranjang itu, menyelipkan teror di dalam sana.

**

Arcadia mengangkat anggrek hitam itu dengan gerakan anggun. 

“Apa yang harus aku lakukan dengan ini?”

Biru, si harimau putih membuka mulutnya. Bukan auman yang didengar Arcadia, melainkan kata-kata yang mengalir dalam kepalanya.

“Bakarlah,” ujarnya tegas. “Bakarlah dan dia akan mengoyak kegelapan ini, Arcadia. Keluarlah di saat yang tepat,” katanya, bersamaan dengan tubuhnya lenyap menjadi gulungan halimun.

Arcadia menelan ludah. Mengamati anggrek hitam pekat itu agak lama. Bayangan Hadrian melintas di matanya. Di mana pemuda itu sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka berdua? Dia merasa menelinga bunyi-bunyian lain di sekitarnya. Akan tetapi, cuma kelam yang dia temukan. 

Dia mulai mendengungkan mantra. Alunan mantra itu bagai senandung. Dia melakukannya hingga telapak tangannya memerah. Pertama muncul asap putih tebal. Lalu lidah api yang kekuningan bergeliat-geliut di sela jari jemari Arcadia. Anggrek itu masih kukuh meski dikungkung api. Jeritan panjang dan memilukan nyaris membuatnya tersungkur. Dia tetap berlutut, berkonsentrasi pada mantranya, dan menadahi anggrek yang bergulat dengan api di tangannya. Sekujur tubuhnya didera sakit teramat sangat. Nyeri seakan ada ribuan dari ditusukkan menembus kulitnya.

Apinya membesar dan menyebar dengan cepat. Sekarang, Arcadia yang terpenjara di sana. Di antara panas, asap, dan kesempatan melarikan diri yang makin sempit.

 

Bersambung

Nulis Random 2015: Seri Arcadia dan Hadrian
Hari 1: Timun Ajaib
Hari 2: Apel Emas
Hari 3: Anggrek Hitam
Hari 4: Sihir Hutan
Hari 5: Daun-daun yang menari

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Bisikan dari balik dinding at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: