Arcadia & Hadrian: Pertemuan yang ganjil

7 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Halo, terima kasih sudah mengikuti seri Arcadia dan Hadrian ini dari awal. Cerita fantasi yang kutulis untuk event #NulisRandom2015. Setiap hari aku akan merilis tulisan baru. Karena event-nya berupa #NulisRandom, semua tulisan yang sudah-sudah ditulis hari itu juga. Jika kamu belum mengikuti bagian sebelumnya, cek di bagian akhir tulisan, ada daftar dari hari pertama hingga hari ini. Enjoy!

Cerita sebelumnya: Bisikan dari balik dinding


“Hai, bisakah kamu memberi rekomendasi buku?”

Arcadia berbalik. Orang yang bertanya padanya barusan sedang tersenyum. Dia berdiri seperti seorang murid yang sedang menghadap gurunya. Kedua tangannya dimasukkan ke saku mantelnya yang agak dekil. Sebelum semua itu, Arcadia menghabiskan beberapa saat untuk memandangi matanya yang biru jernih.

Gadis itu menghela napas. Tersenyum kecil. “Buku sihir atau buku tentang sihir?”

Pria itu menggeleng. Mengusap rambutnya yang gelap sembari menghadap ke rak buku di dekat mereka. “Hmm… mungkin sesuatu yang lebih berguna,” katanya, menarik salah satu buku bersampul hijau gelap.

Alis Arcadia terangkat. Komentar tadi membuatnya penasaran. “Buku seperti apa?” Arcadia meladeni pria itu. “Novel? Sejarah? Atau apa….” tanyanya, ketika laki-laki itu mengembalikan buku di tangannya ke rak dengan mimik bosan.

“Aku tidak tahu. Beri saja aku rekomendasi,” katanya memandang Arcadia penuh harap, “buku yang pantas dijadikan hadiah ulang tahun.”

Arcadia menuju rak buku di seberangnya. Judul-judul yang berjajar di depannya adalah resep masakan. “Untuk istrimu?” Arcadia mengambil buku tentang roti isi dan menyerahkannya pada lelaki itu. Menebak dari wajah dan penampilannya, Arcadia merasa pantas bertanya begitu, tapi laki-laki itu tak menjawab. Dia menerima buku itu dengan mimik cerah.

“Ini akan sangat berguna. Aku bosan dengan roti isi yang biasa kubuat. Ada rekomendasi lain?”

Gadis itu mengernyitkan dahi. Lalu berjalan menyusuri sisi rak buku tersebut dan berhenti di depan meja yang penuh tumpukan buku. Kali ini, dia memberikan sebuah buku baru untuk lelaki itu.

“Novel percintaan paling baru. Mungkin kekasihmu akan suka,” Arcadia tersenyum.

Lelaki itu menggaruk kepalanya. “Aku tidak punya kekasih,” responsnya, menjemput buku itu dari Arcadia. “Aku tahu cerita ini.”

Mata Arcadia membola. “Buku itu baru dipajang hari ini,” ujarnya tidak percaya.

“Oh ya?” sahut pria itu, membuka-buka lembaran buku di tangannya. “Aku hanya tahu, tapi belum pernah membacanya.”

Arcadia tidak menyukai komentar lelaki itu. “Kamu pasti orang yang mengira semua cerita cinta itu sama?”

Pandangan keduanya beradu. “Ya. Dua orang jatuh cinta. Bersama. Jika terus mereka akan membangun keluarga. Jika tidak mereka berpisah. Lalu ya, begitu….”

Arcadia mengambil buku itu lagi. Meletakkan di tempat asalnya. Pria itu hanya mematung, memandangi apa yang dilakukan Arcadia sampai gadis itu berlalu meninggalkannya ke rak lain.

“Kamu sudah membacanya?” tanya lelaki itu, menyambar lagi buku yang tadi dikembalikan. Dia masih membuntuti gadis itu. Berjalan di antara rak-rak yang sepi pengunjung.

“Aku akan membacanya,” jawab Arcadia setelah agak lama.

Pria itu menimbang-nimbang bukunya, seakan sedang menunggu Arcadia bicara lagi. Namun setelah beberapa saat gadis itu hanya diam. “Baiklah. Terima kasih untuk rekomendasinya. Aku juga akan membacanya. Dan menceritakan isinya. Nanti.” Lelaki itu beranjak dari Arcadia. Membayar buku-buku itu di kasir.

Arcadia mengabaikan kepergian pria itu. Perhatiannya tertuju pada sebuah novel lain yang sudah lama diincarnya. Dia bimbang antara harus membeli rilisan terbaru tadi, atau novel yang lama diinginkannya. Dia hanya punya cukup uang untuk membeli salah satunya.

Sejak berhenti bekerja sebagai asisten Penyembuh, Arcadia belum menemukan pekerjaan lagi. Dua bulan hampir berlalu dan yang dikerjakannya setiap hari hanya membantu Bibi Lusi memetik mawar-mawarnya.

“Bisakah kamu menuliskan ucapan di dalam kedua buku ini. Selamat ulang tahun bla… bla… bla….”

Gadis itu terperanjat ketika laki-laki itu kembali menyapanya. Nyaris saja dia menjatuhkan buku di tangannya.

“Oke. Oke. Kemarikan bukunya,” ujar Arcadia. Pemuda itu juga mengulurkan sebuah pena. Arcadia menerima pena dan buku-buku itu. “Untuk siapa? Ucapannya apa?”

“Untuk Hadrian. Selamat ulang tahun. Hmm… bisakah kamu menulis sesuatu seperti ‘nikmati sisa umurmu atau semacamnya’ dengan kata-kata yang lebih bagus?”

“Siapa Hadrian? Ayahmu? Sahabatmu?” tanya Arcadia, sambil memikirkan permintaan lelaki itu. “Nikmati sisa umurmu… seperti dia tahu masih berapa banyak waktu yang tersisa.”

“Mungkin dia tahu. Dia tahu,” lelaki itu bergumam.

“Aku juga tidak punya ide. Aku tulis seperti itu saja ya?” katanya mengguncang pena di tangannya.

“Tidak apa-apa.”

Setelah diberi persetujuan, Arcadia menulis dengan cepat. Dia memikirkan kata-kata yang keluar dari lelaki itu sejak tadi. Ada kesimpulan yang ditariknya dari semua perkataan pria itu. “Selamat ulang tahun, Hadrian,” ucapnya, tersenyum.

Pemuda itu tersenyum. Tidak membalas, hanya meraih bukunya dan berbalik pergi. Arcadia mengamati sosok itu berjalan keluar, melebur di keramaian trotoar siang hari. Ini adalah kunjung pertama Arcadia ke toko buku ini. Dia mencari kesempatan untuk membaca buku-buku, bukan bertemu pria aneh tadi. Senyum dan sorot matanya masih membekas dalam pikiran Arcadia. Dia belum pernah bertemu dengan pria itu, bahkan dalam perjalanan-perjalanannya ke masa lalu.

Pertemuannya dengan lelaki itu membuahkan keberuntungan. Si pemilik toko yang melihat interaksi Arcadia dan lelaki itu menawarinya pekerjaan di sana. Tanpa berpikir dua kali, Arcadia langsung menerimanya. Dia bisa menyimpan uangnya dan membaca kedua buku idamannya itu di sela-sela jam kerjanya mulai besok. Dia merasa senang, tanpa sedikit pun mengira jika perjumpaannya dengan lelaki tadi bukanlah sekadar kebetulan.

Bersambung

Nulis random 2015: Seri Arcadia & Hadrian
Hari 1: Timun Ajaib
Hari 2: Apel Emas
Hari 3: Anggrek Hitam
Hari 4: Sihir Hutan
Hari 5: Daun-daun yang menari
Hari 6: Bisikan dari balik dinding

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Pertemuan yang ganjil at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: