Arcadia & Hadrian: Luka dari masa lalu

8 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Pertemuan yang ganjil


 

Bagaimana detailnya dia melarikan diri, Arcadia hanya bisa mengingat sama. Semua berjalan dengan sangat cepat. Selebihnya adalah api yang berkobar dan saling sambar. Arcadia berlari menembus celah yang ada. Panas menjilat kulitnya. Dia kesulitan bernapas. Satu yang bisa dia lakukan adalah ters menggerakkan kakinya sekencang mungkin. Arcadia berharap bisa menemukan Hadrian di balik celah. Namun dia jatuh tersungkur, tubuhnya terbanting membentur lantai batu.

Jantungnya berdegup kencang. Darah mengalir deras ke kepalanya. Dia berpanas. Menarik udara banyak-banyak ke dalam paru-parunya. Dia mengulanganya lagi sampai menyadari di mana dia berada sekarang. Pandangan matanya buram oleh jelaga dan air mata.

“Hadrian?” panggilnya gemetar.

Dia mengangkat kedua tangannya. Sumber dari segala sakit yang ditanggung tubuhnya sekarang. Kulitnya merah dan melepuh. Napas Arcadia tercekat. Nyeri yang tadi biasa, kini berlipat ganda rasanya. Seluruh tubuh gadis itu menggigil. Dia masih mampu berdiri, berjalan tertatih-tatih. Arcadia berusaha mengambil botol ramuan yang terdapat di rak. Baru dia menyentuh, sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Botol itu gagal teraih, malah jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai. Dia mencoba mengambil botol lain dan hal yang sama terulang.

Butir-butir air mata turun dari kelopak matanya. Dia mengumpat pelan. Lalu berusaha membaca mantra untuk mengurangi rasa sakitnya. Akan tetapi, itu sama sekali tidak membantu. Pikirannya terlalu kacau untuk bisa fokus. Kekhawatirannya akan Hadrian mengisi penuh relungnya. Dia tak bisa berkonsentrasi kepada hal yang lain.

Untuk kali pertama, dia menyesali keputusannya kembali ke masa lalu.

**

Lusi mendengar benda yang terbanting barusan. Menariknya kembali ke realitas. Gemuruh tadi terasa bagai ombak yang menyeretnya ke dalam bayangan keputusasaan dan depresi. Dia menyeka keringat dari dahinya. Napasnya terengah-engah. Meja batu di hadapannya tidak lagi bercahaya.

Dia mendaki tangga keluar dari rubanah. Menyeberangi ruang-ruang di rumahnya sampai ke pintu. Dia tidak ragu-ragu ketika berada di depan rumah Arcadia. Menyambar keranjang itu dan membawanya ke dalam rumah. Dia ingin tahu apa yang gadis itu ketahui tentang ini.

“Arcadia, apa yang terjadi?” tanyanya, meletakkan keranjang dan menghampiri Arcadia.

Gadis itu mengernyit kesakitan dan kesulitan menjawab.

Lusi memegang lengan Arcadia, menghadapkan kedua telapak tangan gadis itu yang melepuh ke atas.  “Aku lakukan sebisaku, Arcadia.”

Arcadia mengangguk cepat. Dia merasa panas di tangannya menyusut bersamaan Lusi merapal mantra. Sisanya adalah hangat di sekujur tangannya dan bagian yang terbakar. Kulit yang tadi basah itu perlahan mengering. Membentuk parut-parut di permukaan kulit yang tadinya mulus.

“Aku tidak bisa mengembalikan keadaannya seperti semula. Kamu harus datang ke Penyembuh, Arcadia.”

Gadis itu menahan isak tangis. “Aku membawa luka tadi dari masa lalu, Bi,” ujarnya gemetar. “Aku tidak seharusnya mengambil isi keranjang itu dan membawanya ke masa lalu. Biasanya semua baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang terkandung dalam buah-buahan itu… mungkin mereka terkutuk.”

“Kamu tahu siapa yang memberikan keranjang itu?”

Arcadia menggeleng. “Aku tidak tahu. Hanya seorang gadis yang menitipkannya kepadaku buru-buru. Aku tidak pernah kenal siapa dia. Dan aku menuruti begitu saja apa yang dia minta. Aku mengkhawatirkan Hadrian.”

“Kamu mengubah masa lalu?”

Arcadia kembali menggeleng dan tercenung. “Aku tidak tahu apa yang terjadi. Dia bilang seseorang meracuni masa lalu dan menyebabkan dunia mulai runtuh.”

Lusi menggelus punggung Arcadia.

“Aku tahu apa yang terjadi di masa lalu akan tetap tinggal di masa lalu. Tapi yang kali ini, aku tidak yakin. Aku akan kembali, Bi.”

“Aku rasa kamu tidak perlu melakukan itu. Lebih tepatnya, kamu tidak bisa.”

Arcadia memandang Lusi dengan gundah. “Itu terjadi, kan? Itu benar-benar terjadi? Masa lalu mulai runtuh.”

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Luka dari masa lalu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: