Arcadia & Hadrian: Penggubah Mantra

9 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Luka dari masa lalu


 

Dentuman keras menyambut kedatangan Hadrian. Roti isi di tangannya hampir mencelat. Pandangannya langsung bertemu dengan satu-satunya orang di ruangan itu, Quentin. Hadrian memasukkan sisa rotinya ke mulut dengan buru-buru, mengikuti langkah Quentin menuju tangga. Mereka berdua berhenti ketika di ujung tangga dari basemen muncul Thomas.

“Apa?” tanyanya, melihat kedua rekan kerjanya tampak khawatir. Dia mengusap rambutnya yang cokelat tebal. “Ken dan Kirana sedang di bawah, mengetes mantra.”

Hadrian mengangat alis dan mengintip dari balik bahu Thomas. “Aku khawatir dengan bangunan yang kita sewa ini tahu.”

Thomas mengusir kedua rekan kerjanya yang menghalangi. Melepas sarung tangan kulit dan melemparnya sembarangan ke meja yang dilewatinya. Di antara mereka bertiga, dia yang tampak paling berumur–hanya karena cambangnya yang sebagian berwarna abu-abu.

“Yang barusan kedengaran mencemaskan,” ujar Quentin, kembali ke bangku yang tadi ditempatinya.

Thomas ikut duduk, menyalakan rokok. “Cuma suaranya saja.”

“Mantra apa sih yang mereka kerjakan?” Hadrian masih berdiri di ambang tangga. Melongok pada lorong yang temaram.

“Ada yang minta mantra yang mengeluarkan tiruan bunyi-bunyian binatang,” jawab Thomas, mengeluarkan buku yang kelihatan sudah tua dari kantongnya. “Sebenarnya sederhana. Aku sudah memberi mereka petunjuk. Tapi ya… biar mereka berimprovisasi dan belajar.”

Hadrian menggelengkan kepala. “Kirana dan Ken membuat tiruan bunyi bom?” Dia mengambil sebuah apel dari saku mantelnya, menggigitnya lalu berjalan ke arah Quentin. “Mengapa kalian di sini? Tidak ada klien yang harus kalian datangi?”

“Aku minta mereka mengirimkan permintaan lewat pesan saja,” ujar Quentin, membaca surat kabar terbaru. “Aku akan bertemu mereka ketika mantranya sudah selesai.”

Hadrian duduk di sofa cokelat yang berderit tiap kali dia bergerak. “Kamu bisa memakai ruang lain yang kosong untuk mengerjakannya sekarang.”

Quentin mendiamkan saran Hadrian, malah membuka halaman selanjutnya dari surat kabar itu. Ruangan itu kembali sunyi, tak tersentuh keramaian jalanan. Hanya kaca tipis yang membatasi tempat itu dan orang yang hilir mudik di luar sana. Kaca hias yang diberi tulisan ukir agar orang tahu jika tempat itu adalah kantor biro jasa modifikasi mantra. Di pojok ruangan itu sendiri ada bangku-bangku yang dilipat di sudut–titipan dari pemilik gedung. Barang-barang lain dalam ruangan itu memberi kesan makin penuh dan agak kumuh. Meja-meja yang ditata seadanya, rak buku yang penuh berisi, dan satu set sofa untuk menerima klien (atau lebih sering dijadikan tempat mereka bertiga duduk-duduk).

Thomas meraih selembar kertas dari atas meja, melipatnya menjadi pesawat kertas. Pesawat itu meluncur halus, meninggalkan jejak asap tipis keemasan, dan mendarat tepat di pangkuan Hadrian. “Jangan lupa itu.”

Hadrian membuka kertas itu. Keningnya berkerut. “Kenapa harus aku?”

“Karena kamu yang paling pantas mewakili biro jasa kita ini,” ujar Thomas. “Ayolah, Hadrian. Dia klien yang potensial. Mungkin permintaannya tidak akan sesulit membuat mantra tiruan suara binatang.” Thomas tertawa sambil meniup asap dari mulutnya.

Hadrian berdecak. Tidak memberitahu apa yang dilakukan lewat pesan yang dikirim artinya ini memang permintaan yang spesial. Atau memang tidak sama sekali. Orang-orang yang merasa dirinya lebih berkecukupan senang menyembunyikan fakta kalau mereka tidak menguasai mantra sederhana.

Lelaki itu membaca nama dan alamat yang harus didatanginya. Dia bisa saja menolak dan tetap di kantor ini, mengobrol ngalor ngidul dan akhirnya turun tangan membantu Ken dan Kirana. Lalu orang yang memesan mantra itu akan datang sendiri ke sini bersama anak perempuannya yang masih remaja. Hadrian melipat kertas itu, memasukkan ke dalam tas. “Hmm… boleh aku pinjam sepedamu?” tanya pada Thomas.

“Hei,” panggilan Quentin membuat keduanya menoleh. “Kalian sadar jika cetakan koran ini makin lama warnanya makin redup. Maksudku, aku tahu ini merah… namun apa yang dilihat mataku—itu merah, tapi penuh debu,” katanya merapikan kertas surat kabar di atas meja. Telunjuknya menunjuk sebuah gambar dari acara yang dihadiri walikota dan perwakilan penambang.

“Mungkin matamu saja yang sudah berkabut, Q. Tapi, aku juga melihat hal yang sama. Istriku mengeluhkan warna bunga-bunganya yang memudar,” sahut Thomas, mengusir asap rokok dari depan wajahnya.

“Seseorang sedang bereksperimen dengan warga kota ini?” Hadrian berdiri, menuju rak buku dan mengambil beberapa judul yang dia butuhkan. “Atau mungkin memang sedang ada hujan debu? Atau… seseorang merapal mantra mata senja untuk kita semua?” Dia memasukkan menggendong tiba buku tebal dengan satu tangan. Memakai helm sepeda Thomas di atas meja.

Sekali lagi terdengar suara ledakan disusul lengkingan-lengkingan panjang. Beberapa buku tebal tergelincir dari rak dan jatuh berdebum di lantai berdebu.

“Astaga Thomas, lain kali beri tugas yang lebih mudah kepada anak-anak magang itu,” tegur Quentin, berdiri berkacak pinggang, lalu menghilang di keremangan tangga menuju rubanah.

Hadrian dan Thomas berpandangan. “Kalau Arcadia mencari aku, bilang padanya aku sedang pergi,” pesannya kepada Thomas saat berjalan ke luar. Thomas hanya melambaikan tangannya, sudah sibuk dengan formula mantra yang sedang dikerjakannya.

Hadrian melongok ke langit saat melangkah birai. Mengamatinya sesaat, birunya luntur, atau hanya perasaannya saja. Orang-orang yang lalu lalang di depannya semua masih semarak. Kulit warna-warni yang jadi mode terkini. Bahkan satu-dua ada yang berkilauan setiap kali terkena sinar matahari. Seorang gadis berkulit ungu  pucat memberinya senyuman saat baru mengayuh sepeda. Hadrian membalas dengan enggan dan memacu sepedanya lebih cepat.

Hadrian melewati jalanan yang penuh kendaraan. Dia melewati blok yang berisi gedung-gedung tinggi yang arsitekturnya kuno hingga minimalis. Dia pernah mempelajari sihir pembangun, tapi gagal di bagian perancangan. Mungkin salah satu penyebabnya karena dia tidak pernah benar-benar sekolah. Berhenti belajar perancangan–karena satu-satunya cara untuk menjadi Pembangun adalah wajib lulus dari Akademi sihir terlebih dahulu. Dia tidak punya kemewahan itu. Kegagalannya justru memberinya lebih banyak waktu untuk membaca dan mempelajari dasar-dasar pembuatan mantra. Hari ini, Hadrian sudah sepuluh tahun membuka biro jasa itu bersama Quentin dan Thomas.

Blok yang menjadi tempat tinggal kliennya tidak jauh lagi. Berada di pusat kota, tempat tinggal kelas atas. Hadrian menggenjot sepedanya lebih cepat saat melewati jalan yang agak sepi. Dia sudah membayangkan wajah si pemilik rumah yang cantik dan diliputi misteri. Yang memaksa Hadrian untuk makan siang bersamanya—itu, hanya jika Hadrian pergi ke sana berjalan kaki.

Dia membelokkan sepedanya. Mimik mukanya penuh teror, sesaat sebelum dia dan sepedanya terpelanting ke aspal. Bahunya membentur permukaan keras itu lebih dulu, tapi tidak menyelamatkan wajahnya dari tumbukan. Selama beberapa detik pikirannya kosong. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali. Dia sedang memandang langit. Sesuatu melintasinya. Cepat dan besar. Sejenak, lalu hilang kembali.

Saat itulah rasa sakit menyebar dari sisi wajah dan hidungnya. Napasnya memburu. Dia berguling, memegangi hidungnya, lalu duduk. Seorang gadis muda keluar dari kendaraan yang menabrak sepeda Hadrian dan kini berlutut di dekatnya. Ekspresinya khawatir, kulitnya sewarna lemon, seluruh matanya seluruhnya biru.

“Anda tidak apa-apa?” tanyanya, suaranya agak gemetar. “Aku sudah menelepon medis. Bisakah Anda berjalan? Lebih baik kita menyingkir dari jalan.”

Pandangan Hadrian kosong. Dia masih menatap gadis itu. Menerima pegangan tangannya. Akan tetapi, pada penglihatannya yang tampak adalah sebuah dunia yang abu-abu. Seluruh yang ada di sana koyak dan usang. Satu demi satu, bagai ada tangan yang mencerabutnya, mulai berguguran. Keping-kepingnya melayang tanpa daya.

“Tuan, siapa namamu?” tanya gadis itu.

Hadrian terkesiap. Dia kembali lagi di tepi trotoar. Di depannya, sepeda Thomas tergeletak, ban depannya penyok. Dia menghela napas panjang. Merasakan lagi nyeri dan pedih. Lalu, menyadari betapa tangannya berlumuran darah.

Bagaimana momen barusan bisa luput darinya? Dia seharusnya tahu. Sejelas dia tahu kapan hidupnya akan berakhir.

Bersambung 

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Penggubah Mantra at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: