Arcadia & Hadrian: Biru Pudar

10 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Arcadia & Hadrian, serial fantasi yang kutulis untuk event #NulisRandom2015. Cerita sebelumnya: Penggubah Mantra


Petugas medis bilang jika darahnya akan segera berhenti. Hidung Hadrian ditempeli plester kebiruan untuk mengurangi rasa sakit dan membenahi hidungnya yang patah. Sebelah sisi wajahnya penuh luka gores. Satu tangannya memeluk helm dan tas yang sobek, satunya sibuk mengelap darah yang sedikit-sedikit keluar.

Sekarang dia berdiri di depan pintu kayu besar berukir. Sudah mengetuk pintu itu beberapa kali, tapi tidak seorang pun muncul. Jendela-jendelanya tertutup rapat. Hadrian menunggu, dia bahkan tidak yakin bisa melakukan sihir apa saja dengan sempurna dalam kondisi hidung yang terus-terusan berdarah.

“Maaf…,” saat pintu itu terayun terbuka. Sosok yang bicara langsung terdiam, terkejut, dan memekik. “Apa yang terjadi padamu?”

Hadrian mencba tersenyum, meski nyeri. “Maaf aku terlambat. Aku mengalami kecelakaan sepeda,” jawab Hadrian. Suaranya sengau. Telinganya berdengung.

“Masuklah,” perempuan itu menyilakan masuk.

“Terima kasih. Medis bilang darahnya akan segera berhenti, tapi….” Hadrian menyeka lagi darahnya dengan kain.

“Aku akan memanggil medis… atau kamu mau Penyembuh saja?” katanya, menunggu Hadrian duduk lebih dulu di sofa yang besar dan empuk.

Hadrian menggeleng. Dia hanya butuh Arcadia, namun dia harus menyelesaikan urusan ini terlebih dahulu. Dia meletakkan helm dan buku-buku di sebelahnya. Ngilu yang masih tersisa di sekujur tubuhnya membuatnya agak kurang menikmati kenyamanan itu. “Tidak usah, Bu. Aku datang ke sini karena kita punya janji. Kalau Anda kasihan pada saya, tolong beritahu apa yang Anda inginkan? Mantra seperti apa.”

“Kamu bisa memanggilku Samantha….”

“Hadrian.”

Samantha tersenyum dan menyibak helai rambut yang ada di sisi kiri mukanya. “Bisakah kamu membuat buah-buahan menari? Cucuku akan datang di akhir pekan ini. Aku ingin menghibur mereka.”

Hadrian mendenguskan napas. Kepalanya sakit.

“Sebelumnya, aku tahu aku bisa memanggil jasa penghibur. Akan tetapi, aku yang tidak cakap dalam sihir ini… untuk kesempatan itu ingin melakukannya sendiri. Bisakah?”

Seorang pelayan mengantarkan minuman hangat dan kain bersih untuk Hadrian. Serta gelas tinggi berisi cairan merah keunguan untuk Samantha. Pelayan yang lain membawakan sepiring biskuti dan sewadah apel ranum.

“Aku bisa,” katanya pelan, “Anda ingin buah-buahan itu berakrobat atau bagaimana?”

“Aku ingin mereka bernyanyi.”

Hadrian mengangguk. Dia menjentikkan jarinya ke salah satu apel. Buah berkulit hijau itu terlempar dari keranjang, berguling di atas meja lalu meloncat ke Samantha. Perempuan itu menangkap di saat yang tepat.

“Itu mantra dasar. Aku harus mengutak-atiknya lagi.”

“Bisa selesaikan itu lusa?” Samantha tersenyum lagi.

Makin banyak perempuan itu tersenyum, Hadrian jadi tidak yakin jika dia benar-benar sudah memiliki cucu. Lelaki itu menarik napas panjang. “Bisa. Aku akan kembali lagi.”

“Kamu sungguh baik-baik saja? Aku bisa memanggilkan dokter ke sini agar lukamu bisa langsung disembuhkan,” tanyanya khawatir, lalu menenggak minumannya. “Aku tidak ingin kejutanku ini gagal.”

“Aku akan membantu Anda, Bu. Tidak perlu repot-repot dengan tawarannya. Sebentar lagi sepertinya darahnya akan berhenti.”

“Terima kasih, Hadrian,” katanya, memandang Hadrian lekat-lekat. “Kamu tahu, matamu yang paling biru yang pernah kulihat. Semua biru yang ada, semua memudar.”

Hadrian membisu. Samantha menggunakan setelan biru. Biru yang lebih lembut menjadi pilihannya untuk rambut. Sepatu, kuku-kuku jarinya, bahkan pemulas bibirnya pun satu nuansa.

“Ini warna biru favoritku,” kisahnya, mengelus ujung setelannya. Memainkan ujung rambutnya yang tergerai hingga pangkuan. “Seharusnya tak akan pernah pudar. Namun akhir-akhir ini aku lihat warnanya menghilang.”

Hadrian termenung. Dia sudah mendengar ini pagi tadi. Sekarang dari orang yang berbeda. Sesuatu telah terjadi. Mengapa dia seolah-olah ada di tengah rangkaiannya? Hadrian tidak bisa melihat alasannya. Dia seharusnya tahu.

Pandangannya tertuju kepada apel yang menggelinding di atas meja. Berputar-putar seperti gasing. Salah satu sisinya sudah lebam, tapi tampaknya apel itu belum akan berhenti. Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?

“Apa kamu mengalami itu juga, Hadrian? Warna-warna yang luruh?” Tatapan Samantha makin tajam.

Pertanyaan itu menyentak Hadrian. Dia mengamati mata biru yang jelas adalah buatan pada Samantha. “Aku sendiri masih melihat semuanya sama saja.”

Samantha membisu sejenak. Tatapannya menetap pada Hadrian. Memperhatikan rupa lelaki itu sebanyak yang dia bisa. Pelan-pelan terbangun keyakinan dalam hatinya. Dia menggigit bibir.”Menurutmu apakah ini perbuatan penyihir? Seseorang yang membenciku?” katanya.

Hadrian menggeleng. “Aku tidak tahu, Bu,” katanya, menyesap teh yang disajikan untuknya sedikit. “Jika Anda tidak punya keperluan lain, aku ingin pamit dulu, Bu.”

“Ah, oh ya. Baiklah, Hadrian.” Samantha berdiri, menyertai Hadrian berjalan keluar. Keadaan lelaki itu membuatnya agak prihatin. Akan tetapi, dia tidak bisa menahannya di sini. Laki-laki yang pernah ditemui di dalam mimpi, yang menyuruhnya mengarang permintaan agar mereka bisa berdua bisa bertemu. Tidakkah pria itu ingat sedikit saja?

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Biru Pudar at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: