Arcadia & Hadrian: Gerbang menuju masa lalu

11 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Biru Pudar


Arianna melangkah melewati lorong panjang. Dinding di kanan-kirinya putih mulus. Tamu yang datang ke sini sering terkecoh dengan itu–mengira mereka tersesat di dalam sini. Ada pintu-pintu di balik permukaan halus itu, seseorang hanya perlu tahu di mana.

Gadis itu menghentikan langkahnya, menghadap dinding. Dia masih memikirkan Arcadia. Hubungan mereka tidak pernah kembali akrab, tetapi ikatan mereka sebagai saudara sedarah tetap hidup. Tangan gadis itu disentuhkan ke permukaan putih. Tanpa bunyi, sepotong bagian dinding mundur dan bergeser. Arianna menghela napas panjang, mengusir bayangan Arcadia yang tersisa dalam pikirannya. Melangkahkan kaki ke ruangan yang sudah diisi beberapa orang itu.

Lelaki muda yang duduk di ujung meja berdiri. Mengayunkan tangannya, lalu meja mereka bersinar. Di bagian tengah muncul hologram yang sebuah struktur. Konstruksi itu terdiri dari cincin-cincin raksasa dalam jarak tertentu.

Arianna mengamati penjelasan lelaki itu dengan setengah fokus. Cincin-cincin itu akan membatasi besar ukuran gerbang ke masa lalu yang akan mereka buka. Mantra umum untuk mengantarkan ke masa lalu tak ampuh digunakan. Meski pemerintah sudah melarang untuk mengembangkan mantra semacam itu, masih ada yang iseng saja. Akan tetapi, nyaris tak ada yang pernah berhasil.

Menggunakan Pelintas adalah cara lain untuk membuka masa lalu. Namun seperti yang Arianna tahu, setiap Pelintas memiliki keunikan tersendiri pada mantra yang mereka gunakan. Ada mantra yang hanya bisa mengantarkan Pelintas menjadi pengunjung masa lalu, beberapa mantra Pelintas lain bisa membuat mereka berinteraksi dengan masa lalu. Yang Arianna dan timnya cari adalah mantra Pelintas yang bisa membawa sesuatu dari masa kini ke masa depan. Mereka sudah menemukan tiga orang Pelintas yang mau dibayar mahal untuk penelitian itu–mereka mengembangkan mantra tersebut. Mencari tahu sejauh mana dan sebanyak apa yang bisa dipindahkan dari masa sekarang ke masa lalu tujuan.

Semua Pelintas yang menjadi bagian dari penelitian antusias untuk melihat hasil akhirnya. Mereka sudah berhasil membuka pintu yang stabil, meski ukurannya belum sesuai harapan. Akan tetapi, setelah beberapa bulan, satu di antaranya tewas karena gerbang yang runtuh, sementara lainnya karena penuaan dini.

Kini, tim dari industri penambang ini menghadapi krisis lain: lenyapnya para Pelintas.

**

Arcadia berjalan terburu-buru. Dia sudah terlambat ke tempat kerjanya. Tangannya sudah tidak lagi sakit, tapi juga nyaris tidak merasakan apa-apa. Dia coba menggerakkan sepanjang jalan dan masih berfungsi dengan baik.

Toko buku yang dimasukinya terletak di kawasan kota tua. Masih satu blok dengan bangunan yang dijadikan Hadrian sebagai kantor. Namun Arcadia akan mampir ke sana sore nanti saja. Sekarang, sambil menyembunyikan tangan, dia mengendap-endap di antara rak buku.

“Arcadia.”

Panggilan itu membuatnya gelagapan. Dia melongok dari balik salah satu rak buku, mencari sosok Pak Surya, pemilik toko buku ini. Sebenarnya beliau tidak galak, hanya saja sulit memberi toleransi pada keterlambatan. Dan Arcadia selalu dia banggakan karena nyaris tak pernah terlambat.

Ketukan sol dari sandal kayu Pak Surya makin dekat. Arcadia menarik napas panjang, menenangkan hatinya yang kisruh. Saat sosok Pak Surya muncul di ujung lorong. Berbagai alasan sudah berkerumun dalam kepala Arcadia.

“Kenapa terlambat?” tanya Pak Surya tegas.

Arcadia langsung mengeluarkan tangannya. Menunjukkan kulitnya yang kini kisut kemerahanan. Pak Surya terbelalak.

“Kamu seharusnya tidak perlu datang dengan kondisi seperti itu,” ujarnya menggelengkan kepala.

Gadis itu menggerakkan tangannya. Kesedihan kembali datang menyerangnya. Kondisi tangannya sangat mengenaskan. Dia tidak sampai memikirkan rasa jeri terhadap orang lain. Peristiwa yang dialaminya masih menyisakan ketakutan dan misteri. Kecemasan karena terlambat datang ke sini menambah kekalutannya. Dia lupa, betapa menjijikkan tangannya sekarang.

“Kamu yakin bisa bekerja dengan kondisi seperti itu?” tanya Pak Surya.

Bibir Arcadia bergetar. “Aku masih bisa menggunakan tangan ini seperti biasanya,” katanya, memelas.

“Ada apa ini?”

Arcadia terkesiap. Menarik tangannya cepat-cepat. Pertanyaan itu berasal dari Bu Thessa, istri Pak Surya. Pandangan Arcadia bertemu sesaat dengan perempuan yang seluruh rambutnya sudah putih itu. Dia tersenyum dan memberi isyarat kepada Arcadia untuk memperlihatkan tangannya.

“Kamu tidak pergi ke medis atau penyembuh ya?” tegur Bu Thessa.

Arcadia menggeleng. “Aku tidak sempat….”

Bu Thessa membolak-balik tangan Arcadia. “Aku rasa aku punya sarung tangan wol untuk menutupi bekas lukamu itu.” Dia menarik Arcadia beranjak dari sana.

Mereka berdua menuju ke bagian belakang toko. Lewat sebuah pintu yang disamarkan sebagai rak buku, mereka masuk ke sebuah ruang baca yang nyaman. Bu Thessa membimbing Arcadia ikut mendaki tangga bersamanya. Dan menyuruhnya menunggu di ruang duduk.

Arcadia sudah pernah mengunjungi ruangan itu sebelumnya. Namun tak pernah selama sekarang. Sejak tadi Bu Thessa hilang di balik pintu kamarnya dan belum kunjung kembali. Arcadia menyusuri foto-foto yang menghiasi ruangan itu. Ilustrasi dan lukisan yang juga mengisi salah satu bagian dinding.

Perhatiannya berhenti pada satu lukisan. Seorang perempuan cantik bergaun hijau yang sedang duduk. Dia tak pernah menyadari keberadaan lukisan itu sebelumnya.

Arcadia menelan ludah. Kakinya gemetar. Dia tahu perempuan itu. Dia pernah bertemu dengannya.

Belakang bahu kanannya berkedut-kedut. Dia mundur selangkah, dengan pandangan mata masih tepat pada lukisan itu. Makin dia memperhatikan gambar itu, Arcadia menyadari bahwa itu adalah lukisan hutan. Langit dan aliran sungai yang merupa menjadi rambut, matahari yang menjadi wajah, kanopi yang membentuk gaunnya, dan pijakan kecokelatan di bawahnya–yang awalnya Arcadia kira sebagai tanah, ternyata tubuh manusia dan hewan yang saling tindih dan bertumpukan.

Tubuhnya menggigil. Dia mengerjapkan matanya. Barusan dia berimajinasi bahwa perempuan dalam lukisan itu bergerak. Detik selanjutanya, tangan perempuan itu bergerak. Kupu-kupu berterbangan. Arcadia kembali mundur. Jantungnya berdegup kencang. Ada yang menggeliat-geliat di balik punggungnya.

Dia berusaha menyentuh itu dengan ujung tangannya. Nyatanya, itu bukan sekadar imajinasi. Rahangnya mengeras saat merasakan kulitnya yang lunak dan berdenyut. Dia nyaris menangis. Namun pandangannya tersita pada sesuatu yang tampaknya jatuh dari atap.

Sebuah suara terdengar dari seluruh penjuru ruangan. Memberikan peringatan kepada Arcadia. Gadis itu jatuh berlutut, kehabisan napas di lantai batu yang dingin. Ada anggrek hitam di dekat tangannya yang lisut.

Bersambung.

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Gerbang menuju masa lalu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: