Arcadia & Hadrian: Lukisan di Punggung

12 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Gerbang menuju masa lalu


“Apa yang kau lihat?”

Permukaan punggung gadis itu menjadi kanvas. Ada seseorang yang melukis dengan tinta hitam pekat pada kulit kuning langsat Arcadia. Bukan gambar yang asal-asalan. Melainkan helai-helai daun berbentuk lonjong tebal yang bertumpuk. Diatur seakan menempel di batang pohon. Tangkainya melengkung, mengikuti bentuk punggung. Dari dasar pinggang dan berbunga di balik bahu.

Hadrian menarik lagi pakaian Arcadia hingga punggungnya tertutup.

“Aku tidak pernah tahu apa yang ada di sana. Apa kamu bisa melihatnya, Hadrian?” Dia melirik Hadrian yang duduk di belakangnya.

“Ya. Aku bisa melihatnya, Arcadia.” Dia menggenggam tangan gadis itu. Jari-jarinya dijalari kehangatan. Dia tidak tahu apa yang sudah menimpa Arcadia. Dari luar, gadis itu tampak baik-baik saja. Namun sore ini, ketika Hadrian bertatap muka langsung–pandangan mata gadis itu kentara sedih dan ketakutan.

“Beri tahu aku.” Arcadia mengeratkan genggamannya. Kehadiran Hadrian menekan kegelisahannya. Seharian dia tidak bisa konsentrasi bekerja hingga Pak Surya menyuruhnya pulang. Ketika dia mampir ke tempat Hadrian, lelaki itu masih berada di luar. Dia menunggu dan lelaki itu datang dengan hidung berdarah-darah. Thomas-lah yang akhirnya turun tangan membenahi masalah hidung Hadrian itu karena Arcadia terlalu gemetar untuk melakukan sihir.

Sejenak keheningan mengisi ruangan itu. Rumah itu terlalu besar untuk ditinggali sendiri oleh Arcadia. Dia mengajak Hadrian untuk tinggal bersamanya, tetapi lelaki itu menolak. Gadis itu menundukkan kepala. Berusaha mengusir bayang-bayang dari kunjungannya ke masa lalu pagi tadi. Dia menatap keranjang buah yang diletakkan di meja. Ketika sampai di rumah, Bibi Lusi menyakinkan jika buah-buahan itu tidak mengandung sihir berbahaya. Akan tetapi, Arcadia masih tidak yakin.

“Aku tak bisa.” Hadrian meletakkan sekuntum mawar hitam ke telapak tangan Arcadia. Mengelus kulit tangan gadis itu yang tak lagi sempurna. Dia melihat ini semua.

Arcadia memejamkan matanya sejenak. Rasa panas api itu begitu nyata. Tubuhnya gemetar membayangkan itu. “Aku akan kembali ke masa lalu. Aku harus menyelesaikan apa yang aku perbuat. Aku khawatir kepadamu,” ucap Arcadia, memandangi kuntum mawar hitam di tangannya.

“Aku tak bisa melarangmu.”

“Aku tidak tahu apakah aku masih bisa kembali ke sana. Di sana penuh api… apa masih ada yang tersisa? Aku harus menyelamatkanmu.” Arcadia berbalik, menghadap Hadrian. Hatinya ragu untuk kembali. Namun kegelisahan yang mengisi relungnya makin pekat. Jika apa yang terjadi di masa itu akan mempengaruhi masa sekarang–Hadrian mungkin akan hilang dari hidupnya. Efek itu tidak akan terjadi dengan instan, namun perlahan-lahan.

Gadis itu mengalihkan pandangan dari sepasang mata biru yang elok di hadapannya. Setengah hatinya merasa nelangsa dan putus asa.

“Aku akan menemui adikku.”

Arcadia terhenyak. Dia mengangkat wajahnya, memandang Hadrian tak percaya. Dia menarik napas panjang, mencoba meredakan jantungnya yang berdetak kencang. “Aku tidak tahu apakah menemuinya bisa berguna.”

“Aku harus menemuinya,” ucap Hadrian tegas.

Arcadia memilih diam. Terakhir kali Hadrian memutuskan menemui adiknya, perjumpaan itu tidak berakhir baik. Ketiga Divus membuka pintunya, sebagian makluk dariĀ sempena terbawa keluar ke dunia nyata. Namun, Arcadia yakin Hadrian tahu apa yang dilakukannya. Jelas lelaki itu sudah melihat sesuatu yang tidak diketahui Arcadia.

Bagi Hadrian, masa depannya pasti. Bagi Arcadia, masa depan adalah petualangan. Dia bisa mengunjungi banyak waktu di depan… tapi dia tidak pernah benar-benar tahu apakah yang didatanginya itu yang akan menjadi kenyataan. Menjadi Pelintas tidak menjamin untuk punya kehidupan lebih mudah. Salah satunya kematian, Pelintas tak pernah bisa mengunjungi momen kematiannya sendiri.

Arcadia tahu, lelaki itu sudah melihatnya. Sudah mengetahu bagaimana perjalanan hubungan mereka. Dadanya terasa begitu penuh. Dia membuang napas. Mengamati Hadrian yang masih membisu.

“Hadrian, setelah semua ini… apakah aku akan mati?”

“Semua orang akan mati, Arcadia.”

Dia melihat bayangan itu di dalam kepalanya. Memori yang tercetak jelas. Arcadia bersama darah dan air mata.

Imaji itu buyar ketika ada ketukan di pintu depan Arcadia. Gadis itu berdiri, air mukanya redup. Dia ikut berdiri, menyertai Arcadia hingga ke depan. Dia tahu siapa yang akan datang. Arcadia menarik pintu rumahnya. Sesaat, seluruh roman mukanya dipenuhi keresahan lagi.

“Aku ingin mengambil titipanku, Arcadia. Keranjang buahku.”

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Lukisan di Punggung at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: