Arcadia & Hadrian: Peringatan

13 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Lukisan di Punggung


“Aku ingin mengambil titipanku, Arcadia. Keranjang buahku.”

Arcadia hendak mundur, tapi dia menginjak kaki Hadrian yang sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu menoleh, sementara Hadrian mengulurkan keranjang itu pada tamu mereka.

“Pergilah,” usir Hadrian.

Perempuan itu menurunkan kerudungnya. Rambutnya merah panjang dan dikepang. Dia tersenyum,  tetap tegak di hadapan Arcadia dan Hadrian.

“Ini peringatan,” katanya. Nada bicaranya renyah. “Kami menemukan mereka semua, para Pelintas, sebelum orang-orang itu.” Perempuan itu mengarahkan pandangannya pada Arcadia. “Kenang-kenangan yang bagus, tanganmu.” Dia menyunggingkan senyum makin lebar. Ada lesung yang terbentuk di pipinya.

Arcadia menyembunyikan tangannya. Sosok perempuan itu menghadirkan rasa tidak nyaman. Dia ingin mengusir perempuan itu sekarang juga. “Aku tidak mengerti. Apa salahku?” ujar Arcadia.

“Salahmu?” ujarnya. “Salah kalian. Bolak-balik seenaknya ke masa lalu seakan itu jadi milik kalian.”

“Tak ada seorang pun yang memiliki masa lalu,” sela Hadrian.

“Kami tahu tentang kamu. Dan adikmu, Divus,” ujar perempuan itu dengan aneh kepada Hadrian. “Arcadia, kamu mungkin hanya mengunjungi Hadrian. Namun kamu tak pernah tahu apa yang benar-benar terjadi setelah itu, kepada orang-orang yang mungkin terlibat.”

Hadrian menyentuh bahu Arcadia. Dia melihat kehadiran perempuan itu, mengerti apa yang mereka bicara. Membayangkan pertemuan mereka sebelum ini. Tapi dia tak pernah mengenal perempuan itu. Tak punya memori tentang sosok itu.

Perempuan itu memeriksa keranjangnya. “Aku memaafkan untuk timun yang kau ambil.” Wajahnya semringah. Matanya yang gelap berbinar-binar. “Aku harus pergi sekarang. Terima kasih sudah membantu menyalakan api di masa lalu. Besok akan ada orang-orang yang bangun tanpa ingatan masa lalu. Sedikit-sedikit dan mereka tidak akan sadar sampai harus mengingat momen itu.”

Kalimat terakhir dari perempuan itu diuucapkan dengan kesan begitu puas. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, perempuan itu berbalik. Mantel abu-abunya berguncang karena tiupan angin senja.

“Kamu tidak berhak melakukan hal itu,” ujar Arcadia gemetar.

Perempuan itu tidak menengok, tapi dia berhenti. “Tidak? Ya? Ada yang sangat ingin masa lalunya hilang. Dan mereka akan menyukainya. Ayolah, Arcadia, Hadrian, kalian punya kenangan yang seperti itu,” bilang perempuan itu enteng. “Lagi pula, kami harus melakukannya, sebelum mereka merusak masa lalu.”

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Peringatan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: