Arcadia & Hadrian: Divus

14 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Peringatan (bagian. 13)


Sebuah pintu putih muncul di atas pasir. Yang rapat sesaat, kemudian terbuka sedikit–ada yang mengintip di baliknya. Sejenak kemudian, pintunya terayun pelan, seorang laki-laki keluar dari sana. Kedua matanya menyipit karena cahaya matahari yang benderang. Dia melangkah mengarungi pasir yang bersemu merah muda. Pada tujuannya, di tepi pantai sesosok laki-laki lain berdiri ditemani hewan peliharaannya. Binatang itu menoleh pada Hadrian, memamerkan taring panjang dan besar di sisi mulutnya. Namun Hadrian tidak peduli, dia terus berjalan menghampiri laki-laki berjaket kulit, celana jins, dan bot tentara yang semuanya berwarna hitam.

“Tempat ini bagus kan?” tanya lelaki itu kepada Hadrian.

“Aku suka tempat terakhir kita bertemu. Dengan tebing dan ombak besar.”

Laki-laki berjaket hitam itu tertawa. Dia berjongkok dan meraup pasir dengan tangannya yang bersarung. “Mereka sudah menemukan kalian, kan?”

“Sudah saatnya kamu pulang, Divus.” Sinar matahari yang terik di sini sama sekali tak terasa panas. Justru udaranya begitu sejuk, nyaris dingin. Hadrian memasukkan tangan ke saku mantel hitamnya yang dekil. Beberapa orang dengan pakaian pantai lewat di depan mereka, saling bercanda dan tidak peduli pada kehadiran kedua saudara itu.

Tawa Divus terlepas ke udara. Dia membalikkan tangan, menjatuhkan pasir-pasir di tangannya. Sebagian terbawa angin menuju lautan seperti biji-biji dandelion.

“Hadrian, kamu tahu kenapa kita bersaudara?” Laki-laki itu berdiri lagi. Rambutnya yang ikal tertiup angin. Kedua bola matanya sama biru dengan langit yang ada di atas mereka. “Karena semua bilang kita bersaudara. Tapi mereka menaruhmu di sana, aku di sini. Aneh, kan?”

“Bukankah itu sudah jadi bagian dari kita? Menjadi ganjil?” sahut Hadrian skeptis.

“Kamu tahu apa yang terjadi terakhir kali aku kembali ke tengah-tengah manusia. Aku mengubah gadis itu menjadi pai.”

Hadrian tersenyum.

“Jangan tersenyum. Gadis itu sangat malang. Padahal aku menyukainya.”

“Dia masih hidup, Divus.”

Divus terbelalak. “Hah, kamu membalikkan mantranya. Pai itu harusnya menjadi karya seni yang indah,” ujarnya menendang-nendang. “Kamu ke sini karena kamu tahu aku harus kembali ke sana. Sebelumnya beri tahu aku apa rencanamu?”

Smilodon yang tadi berbaring di samping Divus bangkit dan berlari ke air. Kecipak keras menutup suara ombak.

“Itu barusan pertanyaan bodoh, kan ya? Kamu tahu apa yang kamu lakukan,” ujar Divus. “Tapi kita tidak bisa maju hanya bertiga. Kita adalah bagian dari rencana mereka.”

Keduanya berhadapan. Divus menarik napas panjang. “Mengapa aku harus bicara sendirian? Kamu sudah tahu semuanya.”

Hadrian menggeleng. “Aku tahu. Tapi aku tidak selalu bisa mengendalikan situasinya.”

Divus mengusap rambutnya. Berkacak pinggang. Smilodon berlari ke dekatnya, kucing besar purba itu menyeringai pada Divus dan Hadrian.

“Kamu merawatnya dengan baik,” komentar Hadrian, mengamati Smilodon.

“Tentu saja.” Divus mengelus kepala Smilodon. “Dia ingin bertemu Biru. Aku kira aku akan ikut denganmu.”

**

Perempuan muda itu membuka pintu setelah ketukan ketiga. Tamunya menyingkap kerudung di kepalanya, tersenyum kepada pemilik rumah.

“Aku ingin mengambil keranjang yang pagi tadi kutitipkan,” ujar perempuan berkerudung itu dengan ramah.

“Keranjang buah? Yang dititipkan kepada Nico?” sahut pemilik rumah yang sama sekali tidak ikut tersenyum. Justru wajahnya sedang khawatir. “Aku minta maaf, Kak. Nico sepertinya mengambil buah di dalam keranjang itu dan tadi dia bilang akan ke masa lalu, tapi belum kembali sampai sekarang.”

“Boleh kuambil keranjangku?”

“Apa Kakak juga Pelintas? Nico tidak pernah pergi selama sekarang.”

Tamu itu menggeleng. “Aku bukan Pelintas. Tapi aku tahu Nico seorang Pelintas.”

Perempuan itu beranjak sebentar dari pintu, mengambil keranjang yang masih penuh dan menyerahkannya kembali.

“Sampaikan terima kasihku kepada Nico,” ujar tamu itu. Dia tersenyum lagi. “Tidak perlu menunggunya, mungkin dia sudah terbakar bersama masa lalu yang dikunjunginya lagi dan lagi.”

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Divus at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: