Arcadia & Hadrian: Api

15 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Divus


 

Mimpi ganjil itu datang lagi. Dia berada di tengah-tengah lautan. Di sebuah kapal besar yang hendak menabrakkan dirinya. Arianna berusaha menghentikan dan memberi tahu orang-orang, namun tak ada yang peduli. Kapal yang ditumpanginya seakan punya kuasa sendiri dan terus maju… dan maju…. Arianna hanya bisa duduk terpaku. Air laut terlontar sampai ke wajahnya.

Kehadiran mimpi itu benar-benar mengusiknya–terlebih ketika dia berada di tengah samudra seperti sekarang. Angin menampar wajahnya, membuat rambutnya berantakan. Arianna menggenggam buku, merasa resah karena tanpa sengaja membuat halamannya kusut. Mungkin ketika dia sedang bermimpi tadi. Dia tak lagi bernafsu membaca, pulau yang ditujunya sudah di depan mata.

**

“Astaga, Hadrian. Kamu masih tinggal di flat kumuh ini?” Divus tidak sengaja menendang keranjang berisi gumpalan kertas yang diletakkan sembarangan. “Kamu bisa membeli rumah atau apartemen yang lebih bagus dari pada tempat ini.”

Hadrian membuka salah satu pintu. Seekor harimau putih keluar dari sana.

“Kemarilah,” Hadrian mengajak Divus masuk ke dalam ruang kerjanya. Arcadia menguasai salah satu bangku berlengan di sana dan menutup bukunya.

Divus tersenyum lebar dan menghampiri Arcadia. Pemuda itu menjemput tangan Arcadia. Tertegun sejenak karena cacat yang ada. Keduanya bertatapan, namun itu tidak menghalangi Divus untuk mengecup punggung tangan Arcadia, seperti setiap kali mereka bertemu.

“Aku rindu kepadamu,” ujar Divus.

“Hadrian melarangku untuk membereskan tempat ini. Dia takut kehilangan catatan-catatannya,” sahut Arcadia berdiri dan menuju ke sisi Hadrian.

“Jadi apa yang kalian berdua miliki?” tanya Divus.

Hadrian mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Menaruhnya di atas lembaran-lembaran kertas yang berserakan di meja.

“Kalian seharusnya mati,” bilang Divus menatap anggrek hitam yang barusan ditaruh Hadrian. “Atau belum, dia meminta harga yang lebih tinggi dari pada sekadar mati.”

Ruangan itu hening sejenak.

“Mengapa mereka tidak melakukannya sendiri?” tanya Arcadia.

Divus dan Hadrian bertatapan. Hadrian melepas mantelnya. “Mereka tidak bisa.”

“Aku benci bicara kepadamu, Hadrian,” ujar Arcadia.

“Ha!” Divus tergelak. “Dia bilang itu, persis sama yang kurasakan.”

“Aku akan menemui Arianna. Tapi setelah itu apa?” tanya Arcadia, menatap kedua saudara itu.

Hadrian menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Arcadia. “Ikut saja apa yang mereka minta.”

Arcadia menghela napas panjang. Dia tidak punya pilihan.

**

“Apa semuanya sudah siap?” Arianna bertanya.

Dia berdiri di sebuah lapangan besar. Di bagian tengah lapangan tersebut berdiri konstruksi sesuai dengan desain yang hari lalu dijelaskan oleh rekan satu timnya. Jantungnya berdetak keras dan keringatnya mengucur deras. Berada di tengah-tengah hutan, lapangan itu terasa pengap.

Seorang berpakaian hitam berjalan menuju lingkaran itu. Seorang Pelintas. Arianna membuka lembaran yang tadi diserahkan kepadanya. Mantra lain yang sudah dimodifikasi. Dia membuka kacamata hitam yang digunakannya sejak tadi. Keningnya berkerut membaca satu demi satu kata yang tertulis di situ.

“Akan dimulai!” Seseorang memberi peringatan. Arianna menggulung lembaran itu. Berdoa agar semua berjalan seperti rencana.

Semenit. Dua menit. Tak ada yang terjadi. Perlahan tanah tempat Arianna memijak mulai bergetar pelan. Arianna menahan napas. Dia menunggu. Pandangannya lurus dan fokus.

Sebentar lagi, sebentar lagi seharusnya di antara cincin-cincin itu menjadi transparan–menjadi bayangan dari masa yang akan didatangi.

Seharusnya.

Namun kali ini hanya gelap. Getaran yang terjadi makin kencang. Arianna nyaris terjatuh. Sesaat kemudian, gelap itu mulai berwarna. Arianna tersenyum lega. Hingga api raksasa keluar dari lapisan transparan antara cincin itu. Api yang menghanguskan segalanya.

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Api at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: