Arcadia & Hadrian: Temaram

16 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Api [bagian 15]


“Mengapa kita mengunjungi tempat ini?” Arcadia mengikuti Hadrian yang berjalan dengan cepat.

Mereka berdua menyusuri jalan utama yang kosong. Aspalnya masih halus, tapi retak di sana sini dan dari antaranya muncul ilalang. Gedung-gedung di sekitar mereka juga masih berdiri dengan kokoh, meski jelas tak ada penghuninya.

“Suatu hari kamu akan mencariku¬†di tempat ini,” ujarnya, tersenyum, tanpa berhenti melangkah.

Matahari sudah miring ke barat. Sinarnya, menyusup lewat sela-sela gedung dan membuat larik-larik panjang di jalanan. Angin berembus sejuk, membawa bau-bauan yang tak begitu mengenakkan. Arcadia tahu sedikit sejarah tentang tempat ini. Mengapa tempat ini ditinggalkan orang-orang sekitar sepuluh tahun lalu.

“Ini tempat tinggalku ketika kecil,” katanya, berbelok ke salah satu jalan yang tidak sebesar tadi. Rumah berukuran sedang berjajar di kanan dan kiri jalan. Semuanya kumuh dan lusuh. Beberapa atapnya sudah roboh ke tanah. Halamannya dipenuhi gulma dan semak yang tumbuh liar. “Lebih di belakang lagi sih. Rumah yang lebih kecil dari pada di sini.”

“Mengapa aku akan ke sini menemuimu?” tanya Arcadia, menendang sebutir batu dengan ujung alas kakinya.

“Aku tidak bisa memberitahumu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak bisa,” katanya, menarik tangan Arcadia agar melaju lebih cepat. Mereka berbelok di antara rumah-rumah, hinggasampai di jalanan berbatu yang sisinya penuh rumput tinggi.

Arcadia melihat danau yang berasap tidak jauh dari situ. Dan satu-satunya bangunan yang ada di ujung jalan itu. Sebuah kuil atau mungkin tempat sembahyang yang lain. Bisa jadi dulunya tempat ini indah, sebelum orang-orang pergi dari sini.

“Kamu tidak pernah bercerita tentang ini.”

“Karena aku memang baru akan menceritakannya hari ini. Aku pergi dari tempat ini ketika umur sepuluh tahun.”

“Adikmu? Divus?”

Hadrian menggeleng. “Kami tidak pernah tinggal bersama. Orang tua kalian?”

Kali ini pertanyaan Arcadia terbaikan sejenak. Angin mendesau keras.

“Aku tidak tahu siapa orang tuaku. Tapi, aku tahu siapa orang tua angkatku. Dia, orang itu, menemukanku di sini, di salah satu kunjungan bisnisnya. Entah dari mana, tapi dia merasa aku berbakat dan cerdas. Dia menyekolahkanku. Menyuplaiku dengan bacaan di perpustakaannya. Tahun-tahun yang menyenangkan….”

Langkah Hadrian melambat. Arcadia berhasil menyejajari pria itu. Mereka berjalan berdampingan, dengan genggaman tangan yang makin erat.

“Sampai orang itu meninggal. Aku dituduh mencuri buku dari perpustakaannya. Lalu aku diusir.”

“Kamu tidak melakukan itu kan?”

“Awalnya tidak. Lalu aku pikir, tidak ada salahnya mengambil beberapa buku sihir penting dan langka. Aku belajar banyak dari buku-buku itu.” Dia tertawa.

Gelaknya berkurang ketika jarak mereka dan bangunan itu makin dekat.

“Dulu, setiap pagi dan sore tempat ini selalu penuh orang yang melantukan doa-doa,” kenang Hadrian, menapaki undakan terbawah kuil itu.

“Kamu juga selalu datang ke sini?”

Lelaki itu menggeleng. “Tapi aku suka tempat ini. Aku senang saja duduk di dalam dan membaca.”

“Aku tidak pernah tahu mengapa aku harus menemuimu di sini.”

Hadrian mendorong pintu kayu yang masih kokoh. Ruang luas di dalamnya kosong. Debu yang melayang jelas terlihat di bawah cahaya-cahaya yang menembus kaca-kaca hias. “Pada jam tertentu seluruh ruangan ini jadi biru. Tapi tidak sekarang, kita terlambat.” Dia menutup lagi pintunya setelah mereka berdua ada di dalam.

Sebagian ruangan itu gelap. Pilar-pilar batunya menciptakan bayangan besar di lantai. Bangku-bangku kayu panjang yang ada di sisi ruangan, sudah banyak yang hancur. Beberapa tanaman merambat dari celah-celah lantai. Hadrian terus menggerakkan kedua kakinya. Menginjak sampah-sampah. Mengajak Arcadia sampai di tengah ruangan.

“Apa ada sihir tertentu yang mau kau tunjukkan kepadaku dan hanya bisa dilakukan di sini?”

Lagi, Hadrian cuma menggeleng. Tapi kali ini senyum merekah di bibirnya. “Kita tunggu sebentar lagi.”

Arcadia melepaskan tangannya. Berdiri, berputar mengamati lukisan yang ada di langit-langit. Perempuan bergaun hijau yang duduk di singgasana dari akar-akar pohon. Kunang-kunang terbang di atas kepalanya. Kupu-kupu berkumpul di sisinya. Binatang-binatang berlutut di kakinya.

Penambang-penambang itu membangun tempat ini untuk memuja Penguasa Hutan dan Pemberi Sihir. Tapi yang mereka lakukan adalah menebangi hutan dan mengeluarkan isinya.

“Mereka melakukan ini sebagai bentuk penghormatan. Mengharapkan restu dan izin,” sahut Hadrian kepada Arcadia.

Gadis itu memandang lelaki di sampingnya. Dia tidak mengucapkan apa yang ada di pikirannya. Akan tetapi, lelaki itu seakan bisa membaca.

Ruangan itu kian temaram. Udara berubah menjadi dingin. Lukisan di atap itu seakan bergerak dan hidup oleh sisa-sisa cahaya matahari yang sanggup masuk ke ruangan.

Ada suara lain dalam ruangan itu. Desir yang halus, dengung yang perlahan mengeras. Arcadia mendongak dengan penasaran. Saat itulah sesuatu keluar dari salah satu penjuru ruangan yang gelap. Banyak dan berterbangan. Bercahaya lembut.

“Apa itu?” tanya Arcadia, takjub dan takut.

“Kejutan,” Hadrian terkekeh. “Oke nggak? Aku baru mencoba sihir ini sekali. Aku harap hasilnya tidak mengecewakanmu.”

“Tentu saja tidak, Hadrian.” Arcadia memandang ke seluruh ruangan. Terpesona pada burung-burung kertas yang terbang berkelompok. Suram ruangan itu sedikit terusir. Bola mata Arcadia bergerak, mengikuti arah burung-burung kertas itu. “Apa mereka akan berhenti?”

“Seharusnya. Mereka akan berhenti,” ujar Hadrian tidak yakin.

Arcadia mengernyit. “Tapi ini bagus sekali. Aku menyukainya, terima kasih. Aku harap bisa kembali lagi ke sini bersamamu.”

“Aku melihatmu banyak… banyak dalam perjalananku ke depan, Arcadia,” ujar Hadrian.

Wajah gadis itu menghangat. Dia menundukkan kepala, meraih tangan Hadrian dan menggenggamnya. Saat itu semua terasa begitu menyenangkan. Pada salah satu kunjungannya ke masa depan, Arcadia pernah melihat Hadrian. Akan tetapi, dia tak pernah menyangka lelaki itu yang akhirnya menjadi realitasnya. Dia merasa aman dan nyaman. Tanpa pernah tahu, apa yang sesungguhnya sudah dilihat oleh Hadrian. Hari-hari mereka di masa depan. Hari-hari yang temaram.

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Temaram at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: