Arcadia & Hadrian: Es Krim Cokelat

17 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Temaram (bagian 16)


Kabar tentang api itu terdengar ke seluruh penjuru kota. Berhari-hari penduduk tidak berhenti membicarakannya. Sebagian kentara antusias, sebagian lagi khawatir. Di jalan-jalan banyak penjaja jasa perlindungan yang tiba-tiba muncul. Arianna menyusuri jalanan yang padat seorang diri. Hari ini dia sudah meminta izin untuk tidak bekerja. Langkahnya berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Putih dan penuh kaca. Arcadia menengadah, mengeluh sedikit dalam hati.

Dia tidak menyukai ini.

Setengah jam sejak dia menjejakkan kaki ke dalam gedung–kini dia duduk di sebuah sofa merah muda. Minuman tersedia untuknya di atas meja. Teh beraroma stroberi yang sejak tadi diabaikan Arcadia. Anggrek ungu menjuntai dari vas di tengah meja. Arcadia menggigit bibir. Dia mengingat anggrek-anggreknya: semua itu adalah pesan.

Pesan-pesan yang tak bisa dia baca.

Pintu ruangan itu terbuka tanpa suara. Gadis tinggi langsing itu berjalan ke arah Arcadia. Senyumnya ragu-ragu. Sudah lama mereka tidak bertemu.

“Aku datang. Sesuai dengan permintaanmu,” ujar Arcadia, tetap duduk.

Arianna tampak kaget. Namun dia mengatasinya dengan cepat dengan tersenyum dan duduk di sofa yang kosong. Dia menghadap Arcadia.

“Terima kasih sudah datang.”

“Aku sudah berjanji kepada ayah dan ibu untuk membantumu,” kata Arcadia, “Kamu baik-baik saja, setelah kejadian tempo hari?”

Arianna menghela napas, tangan Arcadia yang tertutup sarung kulit hitam tak luput dari perhatiannya. “Ya, kejadian itu di luar dugaan. Tapi bisa diantisipasi.” Gadis itu mengeluarkan sebuah gawai, menaruhnya di atas meja. “Kami sudah menyiapkan peta. Lokasi-lokasi yang menjadi target kamu.”

“Ah, itu akan mempermudahku,” Arcadia mengamati peta hologram yang muncul di atas permukaan meja. Arianna tidak menunjukkan semua kepadanya. “Jika aku membantu kalian, apa yang akan aku dapatkan?”

Arianna memandang kakaknya. “Banyak. Tentu saja penghasilan, tunjangan, dan berbagai fasilitas. Jika kamu mau aku bisa mengusahakan agar kamu menjadi staf di sini. Kamu bisa keluar dari pekerjaanmu sekarang dan hidup dengan lebih layak. Dan kamu bisa menabung untuk pindah ke koloni Mars atau Europa.”

Arcadia mengangkat alis. “Aku tahu tentang itu. Tapi, bagaimana dengan keselamatanku dari orang-orang yang menentang kalian. Aku tahu tentang para Pelintas yang hilang karena konflik ini.”

Pertanyaan itu membuat Arianna agak tidak nyaman. Namun dia sudah menyangka Arcadia akan menanyakannya. “Tentu saja kami akan menjadi keselamatmu, Arcadia. Apa pun yang kau inginkan.”

Keduanya bersitatap. Sunyi menyelimuti ruangan itu.

“Kamu percaya kepadaku, Arianna?” tanya Arcadia. “Bagaimana jika aku ternyata bagian dari mereka–bagian yang ingin menghancurkan kamu, kalian semua?”

**

Divus keluar dari balik asap putih tebal. Smilodon sudah meloncat ke luar dari tempat itu lebih dulu. Orang-orang menyingkir, memberi tatapan takut dan ingin tahu. Kedua tangan Divus tak tertutupi sarung tangan. Tak ada yang berbeda dengan tangan itu. Hadrian keluar dengan anggun, kedua tangannya dimasukkan ke saku mantel.

Asap yang keluar membumbung itu tiba-tiba memuntahkan sosok lain yang seluruh tubuhnya biru gelap. Tangannya terentang hendak menyerang Hadrian. Divus bergerak sigap, menangkap sosok itu. Memegangnya dengan begitu mudah. Lelaki itu menjerit kesakitan. Mukanya dipenuhi horor.

“Jangan sentuh dia. Apalagi membunuhnya. Membunuhnya adalah bagianku, berengsek,” ujar Divus pada sosok itu. Sesaat kemudian, jeritannya hilang–seluruh tubuh lelaki itu yang biru pekat berubah menjadi cokelat dan beraroma kopi. Selanjutnya, Divus melepaskannya. Mengibaskan tangannya yang penuh sisa es krim. Di bawah kakinya, gumpalan besar es krim cokelat berceceran.

Hadrian memandang adiknya, mengernyitkan dahinya.

“Aku benci es krim.” Divus mendahului abangnya. Mereka berdua dan Smilodon menghilang dalam sekedipan mata.

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Es Krim Cokelat at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: