Arcadia & Hadrian: Firasat

20 Juni 2015 § 1 Komentar

Cerita sebelumnya: Asap dan Debu (bagian 19)


Kedua lelaki itu berdiri di teras sebuah rumah besar. Salah satunya menggendong keranjang berisi buah-buah, sementara yang seorang lagi mengetuk pintu dengan sopan. Mereka berdua seumuran, tetapi lelaki yang memegangi keranjang kelihatan sepuluh tahun lebih tua. Dia ikut mendatangi rumah itu karena khawatir. Dia percaya firasat dan seringkali itu benar terjadi.

“Mungkin kita terlambat,” katanya kepada lelaki yang mengetuk pintu.

Lelaki itu, Hadrian, menggeleng. “Dia ada di dalam.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena dia menunggu kedatanganku,” jawab Hadrian cepat, bersamaan dengan pintu yang terbuka.

Perempuan paruh baya yang masih segar dan cantik itu tersenyum kepada kedua tamunya. “Kamu menepati janjimu,” ujarnya kepada Hadrian.

“Tentu saja, Samantha,” balas Hadrian, “dan ini rekanku, Thomas. Dia juga seorang Penggubah sepertiku. Dia membantuku untuk pesananmu ini.”

“Oh ya, terima kasih banyak. Masuklah. Kalian harus menunjukkan cara kerja mantra itu dan mengajariku,” Samantha membuka pintunya makin lebar.

Hadrian dan Thomas melangkah masuk, mengikuti Samantha langsung ke meja dapur. Perempuan itu menyiapkan kopi untuk kedua tamunya. Thomas meletakkan dengan hati-hati keranjang itu.

“Bisa kami melakukannya sekarang?” tanya Hadrian.

“Tunggu sebentar, aku ingin melihat semuanya,” ujar Samantha, meletakkan dua cangkir di hadapan kedua tamunya, “apa lagi yang kalian butuhkan?”

“Pisau dan segelas air,” ujar Thomas.

Samantha menyiapkan permintaan Thomas dan menaruh dua benda itu di dekat keranjang. Dia duduk di sebelah Hadrian yang mengambil apel dari keranjang. Lelaki itu memegang apel dengan tangan kanan dan menatapnya. Selanjutnya, apel itu menggelinding dari telapak tangan Hadrian. Berguling ke kanan dan kiri, lalu mengelurkan kaki juga tangan seukuran tubuh.

Sunyi mengisi ruangan. Hingga pecah oleh suara serak–senandung lagu anak-anak dari apel itu. Si apel menggerakkan tangan dan kakinya, mengarungi meja dan bernyanyi.

Pandangan Samantha berbinar dari dia bertepuk tangan. “Itu benar-benar hebat. Bisakah aku melakukannya?”

Thomas mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan sebuah kertas yang sudah ditulisi mantra dan menyerahkannya pada Samantha.

“Aku tinggal membacanya?” tanya Samantha, tersenyum. “Ya, aku mengerti tinggal membacanya saja. Tapi, bisakah aku mengeluarkan sihirnya?”

“Coba saja dulu,” ujar Hadrian.

“Kami sudah menyiapkan metode lain jika kamu tidak bisa menggunakan mantra itu.” Thomas menaruh sebuah jeruk di hadapan Samantha.

Perempuan itu menarik napas panjang. Mulai berkomat-kamit membaca sembari menatap lekat-lekat jeruk itu. Semenit. Dua menit. Tak ada yang terjadi. Mereka bertiga bertatapan. Mata Samantha tampak sendu.

“Jika aku melatihnya berulang kali, apakah aku akan bisa melakukannya?” tanya perempuan itu, menyodok-nyodok jeruk di depannya dengan ujung jari.

“Ya, tentu saja,” sahut Thomas. Dia menyesap kopinya yang terasa enak. Selama beberapa hari terakhir, dia tahu sesuatu telah terjadi. Hadrian yang berubah perangai, tampak jelas di mata Thomas. Namun dia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Thomas tak bisa menahan kecurigaan jika perempuan ini mungkin terlibat dalam sesuatu yang tak diketahuinya itu.

“Samantha, jika kamu tidak bisa melafalkannya dan mengeluarkan sihirnya. Masukkan kertas itu ke dalam air hingga seluruh tintanya hilang. Basuh semua buah-buahan itu dengan air tersebut,” ujar Hadrian.

“Sesederhana itu?” Samantha terkejut.

“Kami memodifikasinya dari proses pembuatan golem. Agar orang awam lebih mudah memanfaatkan efek sihirnya,” tambah Thomas.

“Kalian benar-benar hebat,” puji Samantha.

“Aku harus segera pergi, Samantha,” Hadrian meneguk kopinya cepat-cepat.

“Kenapa buru-buru?” tanya Samantha. Perempuan itu memandang kedua tamunya, kentara tidak menginginkan mereka pergi tergesa-gesa.

“Kami masih ada klien lain,” tambah Thomas.

“Hadrian, aku sungguh-sungguh, aku melihatmu dalam mimpiku,” ujar Samantha tiba-tiba. Thomas membisu dan Hadrian mematung.

“Aku tidak tahu tentang itu,” sangkal Hadrian.

“Kamu melihatnya, kan?” tanya Samantha. Pada saat itu seluruh ruangan bergetar keras. Gemuruh muncul dari tempat yang jauh dan mendekati mereka.

“Jangan pergi,” ujar Samantha gemetar.

Thomas melihat pisau di atas meja sudah lenyap. Dia merapal mantra pelindung dan penguat bangunan. Lalu, meraih tangan Samantha untuk mengajaknya segera keluar. Hadrian sudah berjalan lebih dulu. Guncangan yang tadi sudah hilang. Namun bahana tadi tertinggal dan terngiang dalam telinga Thomas. Suara yang sungguh mengerikan, seakan muncul dari neraka.

 

Bersambung

Tagged: ,

§ One Response to Arcadia & Hadrian: Firasat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Firasat at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: