Arcadia & Hadrian: Darah

21 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Firasat


 

Darah terpercik di lantai. Sesosok tubuh ambruk ke lantai sambil memegangi lehernya. Dari sela-sela jarinya, darah terus mengalir ke luar. Matanya terbelalak, kaget dan penuh teror. Orang itu terbaring di lantai. Gerakan dadanya cepat. Ekspresinya dihantui ketakutan mendalam. Dari mulutnya, keluar permintaan tolong yang nyaris tak terdengar.

Dunia bergetar lagi. Gemuruh datang kembali.

**

Dalam mimpinya, Samantha duduk di sebuah aula besar. Kursi berlengan berjajar. Sebagian aula itu gelap. Sumber cahaya hanya berasal dari sebuah celah di belakang. Dia bisa menatap gerak cahaya itu sampai ke sebuah permukaan yang memainkan gambar. Tanpa warna. Tanpa suara.

Dia hanya sendirian di sana. Seiring waktu, satu persatu muncul sosok yang menduduki bangku demi bangku. Sampai bangku di samping Samantha pun ikut terisi. Pemuda itu tersenyum sopan kepadanya. Dan Samantha kembali menonton, hingga tanpa dia sadari kini dia yang berada di dalam layar, memandang ke orang-orang yang ada di aula. Semua duduk dan mematung. Di antara mereka, Samantha melihat anak-anak dan cucunya. Dia berusaha memanggil tapi tak ada suara yang keluar. Tak ada yang menyadari jika Samantha terjebak dan ketakutan di sana.

Setelah beberapa lama, lelaki yang tadi duduk di samping Samantha datang ke hadapannya. Tersenyum lagi.

“Kita bertemu di sini beberapa kali,” katanya.

“Kamu membawaku ke sini?” tanya Samantha.

“Lebih tepatnya ada yang mengirimmu ke sini.”

“Aku tidak mengerti,” balas Samantha, “keluarkan aku dari sini.”

Lelaki itu menjentikkan jari. Mereka berdua ada di dalam layar, tapi sekarang Samantha menyadari bahwa dia berada di tengah sebuah kota. Berjalan di trotoar yang tidak begitu ramai, dengan kafe-kafe yang menyenangkan di sisinya.

“Siapa yang mengirimku ke sini?” Dia menatap kanan dan kirinya dengan takjub.

“Seseorang yang ingin mencelakaimu.”

Langkah perempuan itu terhenti. “Aku tidak pernah punya masalah dengan siapa pun.”

“Tapi itu harus terjadi.”

“Maksudmu?”

“Kecelakaan itu harus terjadi.”

“Bagaimana aku bisa mencegahnya? Kamu memberitahuku karena kamu tahu cara mengecahnya, kan? Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa keluargaku!” Samantha histeris.

Lelaki itu mengusap rambutnya. “Justru aku memberitahumu agar kamu tidak mengelak dari apa yang harusnya terjadi,” dia membela wajah Samantha. “Sesuatu yang buruk akan terjadi.”

“Jangan, tolong jangan. Aku tidak tahu apa-apa.”

“Yah, kamu tahu. Kamu tahu tentang banyak hal Samantha,” ujar lelaki itu.

“Bilang padaku apa yang harus aku lakukan?”

Lelaki itu menggeleng. “Tak ada. Tapi darah akan tetap tertumpah.”

**

Quentin langsung berdiri dari bangku yang didudukinya ketika pintu ruangan terbuka. Arcadia berdiri terengah-engah dan begitu cemas.

“Ada apa?” tanyanya kepada gadis itu.

Gadis itu tidak menjawab dan berjalan ke arah Quentin. “Aku seharusnya mati. Tapi, kamu harus menolongku, Quentin,” katanya terburu-buru.

“Apa maksudmu?”

“Aku datang dari masa lalu,” ujar Arcadia cepat.

“Apa yang harus aku lakukan?” Dia mengambilkan Arcadia segelas air putih dan menyerahkannya.

“Ledakan. Kita butuh ledakan.”

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Darah at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: