Mengenang Sancang

21 Juni 2015 § 5 Komentar

Aku pernah punya mimpi menemukan keberadaan banteng di sana. Angin meniup angan-angan itu keluar dari setapak yang kulalui. Memoriku tentang itu pun kian temaram.

Hingga muncul sebuah surel di suatu pagi.

Selamat untuk novel dan film barumu. Belum sempat nonton. Mau ikut ke Leuweung Sancang? Nostalgia. Hahaha.

Pada surel itu disertakan pula foto tiga belas tahun yang lalu.

**

“Lebih mudah kamu menemukan banteng di Ujung Kulon atau Meru Betiri,” katanya, ketika kami menyusuri pantai berpasir putih. Ombak besar bergulung-gulung di sampingku. Aku coba membayangkan rupa tempat ini belasan tahun lalu. Rasanya masih sama dengan yang hari ini kukunjungi.

“Aku tahu, huh.” Sepagi ini peluhku sudah bercucuran, meski angin pantai kencang dan sejuk. Matahari belumlah terik dan sarapan yang tadi kulahap di mess belum selesai diolah di perut. Untungnya aku biasa lari pagi meski sudah tak pernah menjejakkan kaki di hutan lagi.

“Jalanmu masih kencang juga,” ujarnya.

Aku mengangkat kakiku yang terbalut bot dari hisapan pasir. “Aku masih bisa lebih cepat,” sahutku.

“Ya, ya, nggak perlu buru-buru.” Teman seperjalananku tertawa. Suaranya masih keras meski angin berembus agak cepat. Rambut ikalnya tertiup angin. Kulitnya cokelat gelap terbakar matahari. Dan senyumnya masih secemerlang dulu.

Di belakang kami, keempat rekan satu tim inventarisasi mangrove berjalan dengan lebih santai. Aku tidak tahu mengapa aku dan dia harus tergesa-gesa. Namun aku tidak melambatkan langkahku. Pecahan kerang berserakan di pantai yang kulalui. Putih dan abu-abu berpadu dengan langit yang biru. Semua itu mengalirkan ingatanku pada salah satu mimpi yang mampir ke tidurku beberapa waktu lalu. “Aku melihatmu di tengah es.”

“Aku jadi sedotan? Jeli? Leci?” Dia menyahut cepat.

“Bukan tauk,” sahutku gusar, sambil memukul lengannya. “Maksudku es. Lempengan es. Gunung-gunung es. Di Islandia.”

“Aku tidak pernah ke sana,” ujarnya datar. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Sejenak kemudian dia menyahuti lagi dengan ceria. “Wow, kamu menulis film dengan latar Islandia? Seperti Batman Begins? Seperti Interstellar? Cool.”

**

Tak ada lempengan es dan glasier biru abu-abu di sini. Melainkan lumpur yang menenggelamkan bot kami semata kaki. Udara di bawah tegakan mangrove lebih pengap. Agas berterbangan di sekitar kami. Aku menepuk satu, dua, mungkin tak terhingga. Aku berusaha berjalan dengan hati-hati, menghindari akar pasak, meski sesekali kakiku tersangkut di akar lutut yang menyembul dari balik lumpur.

Aku didaulat menjadi tukang catat. Dia dengan GPS menandai tegakan yang ada di sana dan memberiku informasi-informasi lain yang harus kutulis. Sesekali dia atau rekannya mendaki akar tunjang yang mencuat dari tanah. Melingkarkan kedua tangannya untuk mengukur diameter batang bakau tersebut. Cincin berkilau di jari manisnya. Kami tidak banyak bicara lagi setelah cincin itu ada. Aku tersenyum getir. Dia tanya apakah aku capek. Aku bilang aku ingin ikut memanjat.

“Nanti saja, naik yang masih pancang,” katanya melompat ke lumpur dan menunjuk bakau yang besar batangnya saja masih lebih kecil dari lenganku. Gelaknya membuat beberapa burung yang tadi berkicau dekat kami langsung kabur.

Kami bekerja tanpa banyak bicara. Aku menggoreskan pensil pada kertas di papan catat. Semai. Perdu. Pohon. Hari selanjutnya aku dipercaya memegang altimeter untuk mengukur tinggi pohon. Avicennia. Rhizopora. Bruguiera. Aku makin lancar menulis nama-nama itu lagi.

Sesekali kesibukan kami ditingkahi sahut-sahutan dari lutung. Cuitan burung-burung. Rekannya senang memberitahuku. Itu burung Cipoh Kecat. Itu burung Madu Sriganti. Dia semacam buku panduan lapang Burung Jawa dan Bali karya MacKinnon yang hidup dan berjalan. Tapi kami tidak menemukan seekor banteng pun.

**

“Katanya warga suka dengar suaranya. Katanya sih,” ujar salah satu rekannya.

Dia mengangkat bahu. “Penelitian terakhir, katanya sudah nggak ada lagi di sini. Habitatnya makin sempit.”

“Iya, pembalakan liar, Mbak Eri,” rekan yang lain menambahkan.

Kami duduk di tepi pantai. Duduk selonjoran di bawah pohon ketapang yang bergoyang riang. Sekelompok monyet ekor panjang berlarian di ujung-ujung rantingnya. Ada yang membalas tatapanku, seekor induk yang menggendong anaknya.

“Kenapa nggak meneruskan jadi peneliti banteng saja, Mbak Eri?” tanya rekan yang sudah menyelesaikan makan siangnya. Barusan kami terlibat pembicaraan tentang penelitian yang dulu kulakukan di Jawa Timur.

“Hmm….” Aku memasukkan potongan gurita ke mulut. Mengunyahnya sambil membalas pandangan si rekan kerja.

“Dia sibuk nulis. Suatu hari mungkin nulis tentang banteng,” sahutnya. Kami beradu pandang. Menyadari tentang mimpi-mimpi yang terlepas.

**

“Bukan Percy Fawcett. Dia sih ke Amazon. Cari City of Z,” ujarnya, menanggapi tebakanku tentang siapa tokoh penjelajah yang menginspirasinya.

Kami sedang berhenti di tengah setapak. Dia membungkuk, mencari sudut bagus untuk memotret rafflesia. Aku mencatat kondisi rafflesia dan tumbuhan inangnya, memasukkan koordinatnya ke GPS. Yang kali ini lebih bagus dari pada sebelumnya. Kuncup rafflesia yang tadi kering dan jelas tak akan mekar, sementara yang ada di dekatku sedang digoda lalat-lalat gembira. Merekah penuh dan indah.

“Bukan Lawrence of Arabia juga dong ya,” aku menyebutkan judul film David Lean dan tertawa. Tidak ingat siapa tokoh penjelajah yang dulu pernah diceritakannya kepadaku.

“Robert Falcon Scott. Antartika di Kutub Selatan. Bukan Islandia.”

Pelan-pelan ingatanku tentang itu mulai terkuak. Robert Scott berhasil mencapai Kutub Selatan, di sana dia baru mengetahui jika beberapa bulan sebelumnya sudah ada penjelajah lain yang mencapai tempat itu. Dan ketika mereka mencari jalan pulang kembali, dia serta kelompoknya menemui nasib tragis. Aku mengenang ceritanya sepotong-potong, tapi ekspresinya lekat jelas. “Hmm… aku tahu Islandia di utara. Hanya saja dalam mimpiku waktu itu kamu ada di sana. Di tengah es, mencari-cari sesuatu.”

“Mungkin kamu kangen padaku,” godanya, mengerling kepadaku.

Aku mencibir, mencungkili daun-daun basah di atas tanah dengan ujung kayu yang kupungut dekat situ. Beberapa serangga keluar dari situ dan masuk ke balik daun busuk lainnya. Cacing menggeliat dari tanah yang kugali-gali. Semut-semut hilir mudik kebingungan, mungkin mangsanya melarikan diri. Dia kini berlutut, mendekatkan lensa kamera ke mahkota rafflesia yang bertotol-totol.

Jalan setapak yang akan kami lalui kosong dan sepi. Rekan-rekan lain sudah melaju lebih dulu ke plot paling ujung yang harus kami inventarisasi.

“Kenapa nggak coba cari jalan ke sana?” ujarku tak tahan kesunyian di tempat ini. “Ambil kuliah lagi di luar, bikin kesempatan untuk ekspedisi ke sana.”

Dia menatapku sekilas, lalu tercenung. “Aku kira, aku hanya senang mengenang betapa romantisnya perjalanan Scott karena dulu tempat itu belum pernah dijelajahi. Rasa persaingan yang ada antara penjelajah untuk jadi yang pertama. Sekarang sih… ya, nggak begitu istimewa lagi.”

“Kalau begitu… Mars?” sahutku.

Dia menoleh. Mimiknya mengejek. “Nanti suatu hari kalau Elon Musk ingin menumbuhkan hutan payau di sana.” Tapi dia tidak tertawa.

“Kamu nggak bisa meninggalkan tempat ini ya?” Aku memandangnya penuh pengertian. Aku dengar cerita tentang hidupnya yang sama sekali tidak kami ungkit di sini. Tentang keluarganya yang cerai-berai. Tentang dia yang harus ikut menanggung akibat dari perkara hukum ayahnya. Dan, aku sadar tidak berhak memulai membahas tentang itu.

Dia hanya memotret. Mengarahkan gaya si rafflesia, siapa tahu fotonya bisa tembus ke National Geographic.

**

Aku memijakkan kaki dengan hati-hati. Kami menuruni sebuah karang yang sangat besar. Pada sebuah teluk yang menjadi ujung kegiatan. Di sini hanya ada kami dan ombak besar yang terus-terusan mengamuk pada salah satu sisi batu karang. Airnya terlontar bagai cambuk lewat celah-celah batu. Pasir tergulung dan terempas tak henti-henti.

Cerita salah satu rekan masih tentang kakak tingkatnya semasa kuliah yang nyaris mati tergulung ombak terngiang saat aku meniti batu karang. Rekan kami itu berkisah sambil tertawa, sementara aku memandang air yang menggenang dekat kaki di bawah deraan takut. Meski begitu, tempat ini terasa begitu akrab. Bukan karena aku pernah kemari sebelumnya. Hanya saja, setelah sekian lama… aroma hutan dan laut terasa begitu menyenangkan. Memberi sensasi kembali pulang ke rumah yang amat dirindukan.

Dia menungguku yang turun dengan pelan-pelan. Mengulurkan tangannya sebagai pegangan. Aku tak punya pilihan selain menerimanya. Ingatanku melayang pada foto yang disertakannya dalam surel. Aku, dia, dan kelompok praktik lapang kami. Tawa kami gembira. Dia berdiri di sebelahku, tersenyum malu-malu. Pada foto-foto lain yang masih kusimpan, dia selalu berada di sampingku.

Sudah saatnya pulang. Kami berjalan berdampingan. Gerak kami agak cepat di dalam hutan agar tak terjebak gelap. Baru setelah berjumpa pantai, dia melambatkan langkah.

“Tempat ini rasanya masih sama.” Aku menyusuri batas pasir dan pantai. Menghidu dalam-dalam udara beraroma garam. Laut berkilauan oleh cahaya matahari sore. Deru ombak merdu melepaskan segala penat yang tadi ada.

“Semua berubah,” ujarnya, terdengar serius.

Saat aku memandang matanya, aku seakan mengunjungi tiga belas tahun lalu. Ketika dia berjalan di sebelahku, di sini. Di sinilah dulu dia bercerita tentang cita-citanya mengunjungi Antartika. Berapi-api membeberkan detail bagaimana dia nanti akan berdiri di puncak glasier dan kembali dengan data penting mengenai perubahan iklim.

Dan, di sini juga, pada perjalanan kami tiga belas tahun yang lalu, aku berbagi tentang rasa ingin tahuku pada banteng. Penelitian profesorku yang dilakukan tahun 80-an mengatakan masih terdapat keberadaan banteng di kawasan cagar alam ini. Karena tak kunjung ada kejelasan tentang itu, aku memilih pergi ke Taman Nasional Meru Betiri untuk melakukan penelitian banteng. Dia mengikuti. Kami melewatkan banyak waktu bersama. Namun semua hanya sampai di sana, ketika hati yang sepakat akhirnya tak lagi sekata.

“Terima kasih sudah mengajakku ke sini,” kataku tertahan. “Lama sekali tidak menemukan seseorang untuk diajak bicara tentang banteng dan lainnya.” Sekian tahun berlalu dan impian itu terlupa.

Dia membungkuk, menyerahkan sebuah kulit kerang mengilap kepadaku. “Aku harap aku bisa berubah,” ucapnya, memandangku penuh. “Tapi, tahun dan tahun berlalu aku belum dapat melupakan rasa antusiasmemu saat menceritakan tentang itu. Dan tiap kali aku kembali ke sini, aku berharap bisa mengundangmu serta.”

Kini aku yang berhenti, dia meneruskan berjalan. “Aku sudah berhenti memimpikan tentang itu, Thomas.” Tentang banteng. Tentang kebersamaan kita. Tapi aku tak pernah melupakan mimpimu tentang Antartika. Kuusap-usap permukaan kerang hingga kulit jariku tergores tepiannya yang tajam.

“Aku tahu.” Dia berbalik, menghadapku. Tak ada senyuman. “Tapi kamu kembali ke sini, Eridani.” Dia menyebut namaku lagi. Setelah sekian lama. Kami beradu pandang. Segalanya disentuh perubahan, mungkin kami yang tetap sama.

Aku mengubur impianku, melepaskannya demi mengejar hal yang lain. Dan dia, membenamkan mimpi sebagai konsekuensi pilihan yang dijalaninya. Tapi selalu ada orang istimewa yang mengingat mimpi-mimpi itu. Dan senja ini kami berjalan bersama. Tanpa banteng. Tanpa Antartika. Hanya setapak di tepi pantai yang memberi kami banyak waktu untuk bicara.

 

Pringsewu, 16-21 Mei 2015

Terima kasih untuk Fitri dan Jatil yang bantu mengingat-ingat tentang Sancang (dan paper tentang raflessia!).

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

§ 5 Responses to Mengenang Sancang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengenang Sancang at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: