Arcadia & Hadrian: Hijau yang datang

22 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Darah (bagian 21)


Seharusnya dia melihat itu.

Darah melumuri tangannya. Di baliknya rasa sakit menggigit merambat hingga kepalanya. Pisau itu terhunjam sekali lagi ke arahnya. Hadrian menghindar, jatuh terguling di lantai. Orang itu kerasukan. Sambil terus menghadapi serang, Hadrian membaca mantra. Ruangan itu berguncang keras. Sosok di depan Hadrian tersungkur, tubuhnya terjerat dan terbungkus karpet yang tadi menutupi lantai.

Dengan napas terengah-engah Hadrian melintasi ruangan. Barang-barang berserakan di antara kakinya, pecah dan terguling. Napasnya nyaris berhenti saat melihat darah yang mengalir di lantai. Dia berlutut di samping sosok itu. Thomas memegangi lehernya yang terus mengucurkan darah. Matanya melotot dan frustasi. Bibirnya bergerak-gerak meminta tolong. Napasnya menderu keras. Hadrian gemetaran, dia mengangkat tubuh Thomas dan menyeretnya keluar.

Seharusnya Hadrian tahu lebih dulu sebelum Samantha mengayunkan pisaunya membabi-buta.

**

Lusi mengepak beberapa barang penting ke tasnya. Suara-suara dari balik dinding itu makin keras. Menjerit dan meraung. Sesuatu sudah menyakiti mereka. Dan Lusi tidak punya kuasa untuk menolong. Teriakan itu membuatnya menggigil ketakutan. Dia akan pergi, tapi bukan untuk lari.

Dia bisa tetap di sini dan besok dia akan bangun tanpa ingatan tentang suami dan anak-anaknya. Semua sudah meninggal, tetapi dalam memori Lusi mereka masih selalu hidup. Dia tidak akan membiarkan mereka merenggut apa yang masih dia punyai.

Saat dia membuka pintu, orang-orang masih bersikap tenang. Mereka mungkin tak peduli akan apa yang terjadi. Atau tak tahu sama sekali. Akan tetapi, Lusi yakin ada di antara mereka yang masih mengenali pertanda. Ada yang hancur di balik semua situasi normal ini.

**

Di ruang baca flat Surya, keremangan tempat itu perlahan tergusur oleh cahaya kehijauan yang tipis namun jelas. Udara di sana menjadi dingin dan sejuk. Asal cahaya itu bisa ditelusuri, dari sebuah lukisan yang terpasang di dinding. Gambarnya di dalam sana bergerak pelan dan halus, seolah baru saja dibangunkan dari tidur panjang. Tanpa seorang pun melihat, perempuan bergaun hijau itu memanjat pinggiran frame dan melangkah keluar dari sana.

Pada kapel di pinggiran kota. Sore itu semestinya lantainya penuh cahaya biru. Kali ini berbeda, birunya terusir oleh hijau yang terang dan lembut. Lukisan di langit-langitnya bergerak seperti gambar di televisi. Kupu-kupunya berterbangan. Kelelawan berhamburan keluar. Laba-laba turun menggunakan ekornya ke lantai. Terakhir, sesosok perempuan anggun bergaun hijau cerah menuruni tangga yang dibangun dari anyaman ranting dan jaring sutra.

Sosok-sosok itu serupa. Ekspresi mereka murung dan sedih. Bola mata mereka yang biru begitu sendu. Kepedihan yang ditampilkan itu berasal dari dasar hati mereka. Dan untuk itulah mereka kembali ke dunia yang sudah mengusir mereka.

Tak ada satu pun dari kejadian itu yang muncul dalam pikiran Hadrian. Seharusnya dia tahu.

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Hijau yang datang at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: