Arcadia & Hadrian: Janji Q

26 Juni 2015 § 1 Komentar

Cerita sebelumnya: Penghuni mimpi buruk (bagian 25)


 

Quentin mengikuti langkah-langkah lebar Arcadia. Gadis itu mengerudungkan mantelnya hingga menutupi seluruh rambut dan sebagian wajahnya. Arah yang mereka lalui sudah Quentin akrabi. Dia merasa tahu ke mana mereka akan menuju tanpa perlu menanyakannya kepada Arcadia. Saat dia menyadari itu, waspadanya langsung meningkat. Lalu lalang pengguna jalan di sekitarnya sangat normal. Namun, Quentin tahu ada yang tidak biasa sedang terjadi. Barusan dia berpapasan dengan kolega yang berteman baik dengannya tapi orang itu melengos dan lewat begitu saja. Belum lagi, seorang perempuan yang bertengkar dengan anak kecil karena anak kecil itu mengakui bahwa perempuan itu adalah ibunya. Seakan-akan orang-orang itu melupakan sesuatu.

Yang paling mengusiknya, tentu kedatangan Divus.

Dan, dia sangat sadar jika dunia kian suram. Warna-warnanya luntur dan segala seakan tampak kelabu.

Gedung paling tinggi di blok yang mereka lalui berkilauan cerah. Quentin menyipitkan mata, mengamati tempat itu. Harusnya mereka menyeberang sekarang, tetapi Arcadia berjalan tanpa henti. Dan Quentin tetap merasa tak perlu menanyakan apa-apa.

Gadis itu menyambar tangannya, dan mereka berdua berbelok ke sebuah gang antar gedung. Mereka baru berhenti di tengah-tengah gang yang remang oleh bayangan gedung. Arcadia menurunkan kerudungnya, mengeluarkan sebuah gunting dari sakunya.

“Bisa bantu aku?” ujarnya, memotong ujung rambut panjangnya. Dia menatap Quentin tegas. “Sependek mungkin. Oke?”

Quentin menerima gunting itu tanpa suara. “Hadrian tidak akan suka,” balas Quentin mulai menggunting. Hadrian mengajaknya bicara beberpaa hari lalu tentang gadis yang sedang dia pangkas rambutnya ini.

“Jika sudah selesai, bisakah kau membakarnya sampai habis?” pintu Arcadia. “Aku belum bisa menggunakan tanganku.”

“Sudah cukup pendek?” tanya Quentin, dalam hati menyayangkan rambut bagus yang kini berceceran di dekat kaki mereka.

Gadis itu mengelus rambutnya, “Iya cukup. Terima kasih, Quentin.”

Lelaki itu berjongkok, merentangkan telapak tangan kirinya. Hadrian memang memintanya untuk melakukan sesuatu. Potongan rambut itu berdesis dan langsung membara.

“Q, kau lihat satu-satunya kendaraan yang ada di depan gedung paling tinggi?”

Quentin berdiri dan mengangguk, sambil memadamkan bara dengan botnya.

“Aku sedang di sana sekarang. Menunggu kedatangan Arianna. Kami akan membuka portal besar ke masa lalu.”

Pandangan mereka beradu. Hadrian memaksa Quentin untuk berjanji kepadanya.

‘Jika Arcadia memintamu melakukan sesuatu, penuhilah.’

“Q, lakukan ini. Ledakkan mobil itu. Aku tahu kamu punya banyak mantra yang tak terdeteksi,” ucap Arcadia tanpa ragu.

Quentin menatap horor. Dan Quentin mengabulkan permintaan Hadrian untuk berjanji. Dia akan melakukan apa pun yang Arcadia minta, tapi bukan untuk membuat gadis itu mati. Dia tak mau melakukannya.

Bersambung

Tagged: ,

§ One Response to Arcadia & Hadrian: Janji Q

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Janji Q at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: