Arcadia & Hadrian: Karunia

27 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Janji (bagian 26)


Dingin menjalar dari kaki Hadrian hingga ke lututnya sesaat setelah melangkahi ambang pintu. Dia terhuyung, mengernyit memandangi tempatnya berada sekarang. Dari belakangnya, Biru melompat keluar dan sama kagetnya dengan Hadrian. Deburan keras dan reaksi terkejut Biru jadi satu. Kini sebagian pakaian Hadrian basah sepenuhnya.

Pintu lain ada di seberangnya, setengah terbuka. Dari sana muncul Divus, diikuti sosok berkerudung merah. Hadrian enggan membalas senyum Divus yang lebar. Divus melambaikan tangannya, bertatapan dengan Hadrian. “Aku benci bau lumpur,” katanya, kemudian tercium aroma manis karamel. “Ini lebih baik.”

Angin menurunkan penutup kepala yang digunakan sosok di belakang Divus. Ekspresi perempuan berambut merah itu tampak datar dan tenang.

“Tempat terbaik yang terpikirkan olehku untuk mempertemukan kalian,” ujar Divus, mengamati keduanya. “Indah kan? Senja, langit yang punya warna semestinya, ombak-ombak lembut. Aku menyukai tempat ini.”

“Kamu melakukan seperti ini kepada setiap aku yang ingin berhadapan dengan orang yang harus kubunuh?” tanya perempuan itu pada Divus.

Setiap kamu?” balas Divus, berkacak pinggang. Dia mengusap rambutnya yang ikal, “Aku melakukan apa yang aku bisa. Dan aku bisa melakukannya untuk setiap kamu. Ini bukan Sempena, ini masih di dunia yang kalian tinggali. Dan, kalian tahu, ini sungguh melelahkan. Lakukan, lakukan apa yang harus kalian tuntaskan.”

Tak ada sihir yang bisa dilakukan di sini. Hadrian membalas tatapan perempuan itu. Mereka pernah bertemu sebelumnya, dulu. Tak ada yang membekas dari perjumpaan itu. Hingga mereka bersilang jalan lagi ketika perempuan itu menemui Arcadia dan menyebabkan Samantha membunuh Thomas.

“Kamu tahu, semua ini sia-sia Hadrian. Kamu bisa membunuhku dan tak akan ada yang berubah. Ya, mungkin kamu akan selamat.”

“Kamu dan para Puan bisa langsung menghabisi orang-orang yang kalian mau,” ujar Hadrian.

“Karena kami mencoba menyelamatkan kalian, para Pelintas, juga orang-orang yang berharga dan pangkal masalah seperti kamu. Biar kami menghukum mereka. Kematian adalah karunia istimewa yang bisa kami berikan untuk menghormati kalian. Kamu mungkin sudah melihat tahun-tahun ke depan jika kamu tidak membiarkan kami melakukan yang seharusnya. Tidakkah kamu ingin melihat orang-orang yang kamu sayangi, Arcadia, anak-anakmu nanti, menderita bukan karena kesalahanmu, melainkan sekelompok orang yang tamak?” Perempuan itu bergerak maju. “Kami ingin memberi mereka pelajaran berharga, Hadrian. Lagi pula, kamu tidak seharusnya berada di dunia ini.”

“Jika kamu memang harus membunuhku, lakukan saja,” balas Hadrian dingin. “Biar terjadi apa yang seharusnya terjadi.”

Bersambung

Tagged: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Arcadia & Hadrian: Karunia at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: