Akur kembali dengan naskah yang lama ditinggalkan

4 Juli 2015 § 2 Komentar

Seringkali setelah menyelesaikan satu naskah, masih ada jalan yang panjang untuk diterbitkan. Kadang-kadang harus menunggu hingga beberapa bulan atau tahun. Tidak jarang ketika harus kembali lagi ke naskah untuk proses revisi setelah sekian lama, rasanya sulit sekali akrab lagi.

Bukan hanya jeda ketika menanti naskah diproses menjadi buku, jeda di tengah proses penulisan pun bisa berefek menjauhkan. Sehari menjadi seminggu, seminggu menjadi sebulan, sebulan menjadi tiga bulan, akhirnya setahun naskah itu terkatung-katung tanpa disentuh. Sewaktu harus kembali untuk mengerjakan, ada perasaan canggung, seperti halnya dua teman yang lama tak jumpa. Kehilangan perasaan senasib, sepenanggungan yang dulu dijalani bersama. Kehilangan kesenangan, antusias, dan rasa jatuh cinta pada karakter-karakter serta ceritanya.

Aku sendiri pernah mengalami hal itu, lebih tepatnya sering. Pengalamanku saat mengerjakan novel Time After Time, dari menulis draf satu hingga terbit memakan waktu hampir dua tahun. Di antara jedanya aku sempat mengerjakan naskah-naskah lain dan meski sempat kabur-kabur dari Time After Time, aku selalu mengerahkan diri untuk kembali. Tidak mudah memang mengembalikan momen yang sama ketika mengerjakan di awal-awal setelah lama meninggalkan, tapi kewajiban yang harus dipenuhi membuat aku tidak menyerah untuk mencoba akur kembali. #aseeek

Ada beberapa cara yang berhasil membuatku terkoneksi kembali dengan cerita yang lama kutinggalkan. Tapi, di atas segala cara tersebut tentunya harus ada niat yang kuat–entah itu pengin lihat draf itu akhirnya selesai, atau inget-inget muka editor aja.😛

Jadi, beberapa cara yang bisa kulakukan adalah:

1. Membaca cepat draf dan bagian yang sudah ditulis, termasuk catatan-catatan, outline, dan sinopsis. Sungguh, ini adalah bagian terberat. Tapi, kalau sudah ketemu bagian yang klik akan membuat membaca jadi lebih ringan.

Setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan, aku hari itu pasti beda dengan aku saat menulis draf tersebut. Aku nggak akan memaksa diri untuk menjadi sama dengan waktu itu, melainkan melihat keseluruhan (atau bagian) draf dari kacamataku yang sekarang. Mana bagian yang bekerja dan menarik aku membaca dengan tekun? Mana bagian yang bikin aku malas baca dan memilih untuk di-skip saja? Kemudian, aku mencari tahu dan mencatat, mengapa bagian itu bisa menarik dan mengapa bagian lain membuatku malas baca. Alasan-alasan yang membuatku betah membaca itu yang kuaplikasikan untuk meneruskan mengerjakan atau merevisi draf tersebut.

2. Mengunjungi playlist untuk draf tersebut.

Bagiku, sangatlah penting setiap draf punya lagu khusus untuk membangun dan mempertahankan suasana. Setiap draf punya playlist, yang seringnya aku hanya ingat satu atau dua lagunya saja. Mendengarkan musik atau lagu yang berkaitan dengan draf tersebut adalah cara paling mudah bagiku untuk masuk kembali dalam cerita. Mood dalam cerita kembali terbangun dan kerasa sambungan dengan karakter muncul lagi.

Memang sih nggak semua orang bisa mendengarkan lagu sambil menulis. Mungkin yang nggak biasa dengan lagu bisa lewat jurnal karakter atau hal-hal lain yang bisa dengan mudah menarik masuk lagi dalam cerita.

3. Menulis ulang sinopsis.

Meski sudah punya sinopsis, aku selalu melakukan ini. Selengkap dan sistematis mungkin. Menulis ulang sinopsis membuatku ingat kembali apa yang terjadi di seluruh cerita. Detail demi detail, sebab dan akibat, pilihan-pilihan karakter, faktor luar, motivasi, dan sebagainya. Aku kembali diharuskan bisa melihat gambaran besar dari cerita itu, sebelum masuk ke dalamnya dan melebur bersama karakter-karakternya.

4. Menulis side story dari naskah tersebut.

Aku sering mulai dari sini. Karena tidak jarang, langsung masuk ke draf dan membongkar bagian-bagiannya terasa canggung dan sulit. Jadi, aku mulai dengan menulis hal-hal yang di luar outline. Menulis tentang karakter dan interaksinya dengan karakter lain. Menulis salah satu scene dari sudut pandang yang berbeda. Ini sebagai latihan lagi, menyelaraskan tulisan sekarang dengan draf yang dulu, melihat cerita dengan sudut pandang dan persepsi yang baru. Biasanya aku tulis sebagai flash fiction, cerpen, atau hanya potongan adegan.

 

Seperti itulah empat cara yang biasa kulakukan untuk akur kembali dengan naskah yang lama harus berjauhan. Waktunya bisa beberapa hari sampai sebulan, tergantung lama waktu ditinggalnya naskah tersebut. Tapi tiap orang bisa beda-beda sih. Sebenarnya aku sekarang juga sedang mengalami hal ini–sedang berusaha akur dengan naskah yang kutinggalkan untuk mengerjakan yang lain. Aku sedang berusaha kembali. Semoga ini bisa bermanfaat bagi kalian! Hoa.

 

Novelku, Time After Time, sudah terbit di toko-toko buku terdekat. Kisah tentang perjalanan seorang gadis melintasi waktu untuk menguak rahasia yang disembunyikan ayahnya tentang ibunya.

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

§ 2 Responses to Akur kembali dengan naskah yang lama ditinggalkan

  • beenimnida mengatakan:

    adit, aku mau tanya. apa yang ada di benak kamu ketika seorang reader menghubungimu dan mengatakan banyak hal mengenai bukumu. bukan hanya pujian, tapi beberapa hal seperti misalnya: ganjalan dari adegan yang kamu pilih, ketidaksinkronan dialog yang kamu ciptakan. bagaimana kamu menyikapi hal itu?

    kamu membentuk sebuah dunia dengan bukumu, tapi kepala orang yang membacanya ada banyak, sehingga mungkin yang kamu maksud tidak diterima dengan pas di benak orang lain. bagaimana kamu membedakan komentar-komentar yang masuk? apakah “komentar ini adalah masukan yang absurd dan tidak perlu kamu tanggapi” atau “komentar ini benar juga; masuk akal juga, seharusnya aku membuatnya menjadi begitu.” bagaimana kamu menghadapi dan menanggapi hal itu?

    bagaimana perasaanmu tentang komentar-komentar yang menyeluruh seperti itu?

  • Adis mengatakan:

    Kalau perasaan, tentu aku senang ada yang membaca dan merespons sampai sedetail itu.😀

    Aku punya kriteria sendiri bagaimana memilah komentar, biasanya berdasarkan apakah itu opini atau masukan/kritik yang memang harus kuperbaiki. Juga tingkat relevansinya sih, hanya ke tulisan itu aja atau memang ke teknik menulisku secara umum.

    Kalau memang ada komentar yang ‘masuk akal harusnya aku bikin begitu’, aku akan cari tahu kenapa aku nggak sampai mikir ke situ. Hahaha.

    Ya, intinya sih aku senang ada yang komentar. Kalau dipuji aku bersyukur, kalau ada yang bilang kurang pun–aku bersyukur.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Akur kembali dengan naskah yang lama ditinggalkan at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: