hujan untukmu

31 Juli 2015 § Tinggalkan komentar

“Apa yang ingin kau dapatkan di hari ulang tahunmu?”

“Hujan.”

Jawabannya jelas di tengah lagu pop mendayu yang meluncur dari pengeras suara. Langkah kaki kami pun tak berhenti, menyusuri lorong yang kanan dan kirinya penuh warna. Bukan pelangi. Bukan gemerlap gemintang.

Dan kamu berhenti.

Permintaanmu tidak mustahil. Hanya saja, langit sendiri mogok berbagi air sejak dua bulan lalu. Pengamat bilang, kondisi ini akan bertahan hingga September.

Hari ini, baru di penghujung Juli.

“Hei, stop,” aku menarik lengan kemejamu.

Serta merta gerak tanganmu membeku. Pandanganmu berlabuh padaku. Aku menarik tanganku, kamu memasukkan satu lagi dalam keranjang.

Teh. Teh. Kopi. Kopi. Teh. Teh. Teh. Teh. Teh. Teh.

“Kita butuh kopi, Mas.” Aku meraih sebungkus kopi.

Kamu mematung, sama sekali tak ada upaya mengembalikan teh-teh yang sudah memenuhi troli. “Aku akan bayar.”

Aku hanya mengangkat bahu. Kopi. Kopi. Kopi. Berapa banyak yang harus aku beli? Satu lagi kutambahkan di atas tumpukan.

“Kamu punya harapan apa di ulang tahunmu yang lalu?” tanyamu ketika kita berjalan lagi.

Aku mengusap-usap dagu. Melayangkan pikiran ke beberapa bulan lalu. Nyaris tak ada yang menarik. Aku hanya ingat hujan hari itu, secangkir kopi, dan biografi Stanley Kubrick di pangkuan. Itu pun bukan hadiah, aku tidak sengaja menemukannya di dasar kardus barang-barang pindahan yang teronggok di kamar. Di tengah-tengah semua cerita menarik dalam buku itu, pikiranku tersita pada satu hal: ‘betapa menyenangkannya untuk duduk berdua, ditemani hujan, di penghujung hari yang kelabu’.

“Aku ingin jatuh cinta.”

Dia memandangku lekat-lekat.

“Benar-benar jatuh cinta.”

“Untuk apa?” sahutnya datar.

“Pengalaman. Sekali saja seumur hidup, aku ingin benar-benar jatuh cinta. Tergila-gila. Menangisi seseorang karena terlalu mencintainya.”

Tatapan kita beradu lagi. Gelap matamu memudarkan warna-warna kotak produk yang tersusun rapi di rak. Sejenak, tapi menit-menitnya seakan membelah diri dengan cepat. Waktu selalu berjalan tergesa-gesa saat aku ada di momen itu. Menikmati diriku sendiri di matamu. Kesempatan yang jarang ada.

“Semoga beruntung.” Kamu menyalipku, meninggalkan aku yang masih terpaku di tengah lorong supermarket.

**

“Memangnya aku masih punya kesempatan lagi untuk mengucapkan permintaan di hari ulang tahunku?” Kamu menggaruk alisnya yang tebal dan melengkung.

“Setiap hari kan kita juga pasti punya permintaan. Harapan.” Kita berjalan cepat dari restoran yang selalu jadi pilihan pertama.

“Hmm….” Keningmu berkerut dalam.

“Apa keinginanmu yang keluar dari hatimu tiap hari?” Aku mengipas-ngipas leher dengan tangan. Diam-diam dalam hati aku sungguh ingin keinginannya terkabul.

“Aku? Keinginanku?” Kamu mengulang pertanyaanku. “Jelas, aku ingin semua orang sehat. Atau aku boleh mengajukan permintaan lain?”

“Apa?” Perhatianku kembali padamu.

“Genggam lagi tanganku,” ucapnya tanpa ragu.

Aku bersedekap. Mengunci bibir. Sampai lebih dulu di tepi jalan yang ramai kendaraan.

“Ayo genggam tanganku,” kamu sudah sampai di sebelahku.

Aku tetap menahan diri. Matahari sore masih terang. Cahayanya menembus rimbun pepohonan. Sampai di kakiku, sampai di wajahnya.

Kamu sudah maju hendak menyeberang, saat aku masih berdiri kikuk. Laju kendaraan yang terus menerus selalu memberiku gugup. Tampaknya kamu jadi urung dan kembali lagi ke sisiku.

Angin berembus panas. Bulir-bulir keringat mengalir di kulit. Dan tanpa aba-aba, sesuatu menyentuh keningku. Lalu punggung tanganku. Satu-satu. Selanjutnya, terlalu banyak untuk kuhitung.

Hujan di bawah matahari. Titik beningnya menembus sinar surya yang belum pudar. Terus dan terus. Aku terpana. Kamu juga. Beberapa pejalan kaki dekat kami diam sejenak. Setelah dua bulan, kota kecil ini disambangi hujan.

“Ayo, Tatyana,” desakmu.

Mobil kita ada di seberang jalan. Trotoar dipenuh manusia yang lari-lari mencari tempat meneduh. Kita masih berada di tempat yang sama, menantang hujan.

Wajahmu basah. Rambutmu yang tebal dan halus kini kuyup. Tanganmu terjulur kepadaku. Yang kanan sepi. Yang kiri sudah berisi. Kamu memberiku yang kiri, yang berhias cincin kawinmu. Aku menghela napas. Tak enak karena perubahan cuaca yang mendadak. Kutempatkan tanganku di genggamanmu.

Kamu benar, rasanya memang sangat pas.

Di bawah guyuran hujan, kamu menghalau lalu lintas yang kacau. Orang berduyun-duyun mengikuti kita. Jantungku berdegup kencang ketika menyeberang–ingat kecelakaan ibuku yang disebabkan kombinasi hujan dan pengemudi ugal-ugalan. Namun dekapan jarimu memberiku keberanian dan kehangatan.

Tak lama dan kakiku memijak trotoar seberang. Kamu belum membebaskan tanganku. Aku tak lagi ingin menarik jari-jariku menjauh. Kamu baru tahu apa keinginanku, tapi kamu pun jelas tahu bahwa itu sudah terkabul. Barusan aku membisikimu: ‘aku mencintaimu’. Pelan dan deru hujan menghanyutkannya.

Selamat ulang tahun.

30 juli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading hujan untukmu at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: