chrysanths

26 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

Chrysanthemum-

Pada suatu pagi, aku akan tahu siapa yang sesungguhnya kamu cintai.

Kursi kita bersebelahan di sebuah balkon. Menghadap ke hamparan ladang bunga yang berbaris lurus-lurus. Merah, jambon, kuning, jingga, biru. Berselang-seling, menyemarakkan permulaan hari yang diselimuti halimun.

Kamu menggenggam mug berisi teh. Ada ekspresi spesial setiap kali kamu mengambil teguk pertama dari teh yang kuseduhkan. Pendar di matamu, kecap lidahmu, dan gerak bibirmu. Lalu kamu akan tersenyum kepadaku dan memuji: ‘ini teh terenak di dunia‘.

Dunia dan aku tahu kamu hanya menggombal. Tapi aku tersipu-sipu. Memalingkan muka, berharap kamu dengan jari-jemarimu yang panjang halus itu membawa wajahku kembali menghadapmu. Kadang-kadang, harapanku itu terwujud. Seringkali, kamu hanya meraih tanganku dan menggenggamnya.

Aku akan menggeser kursi, biar berdempetan. Biar aku bisa merebahkan kepala di dekat lehermu. Jadi setiap saat aku bisa mencuri kesempatan untuk mengecupnya. Aku butuh itu agar tehku terasa lebih nikmat. Kamu tak pernah keberatan.

Dengan vokalmu yang berat dan lembut, kamu akan mulai bercerita tanpa diminta. Tentang dunia-dunia yang jauh dari jangkauanku dan jadi bagian hidupmu. Kamu adalah pencerita yang baik, mendengarmu serupa pengalaman membaca buku yang menyenangkan. Aku harap bisa bangun dengan cerita-ceritamu setiap hari.

Ah, aku berharap punya setiap hari. Sayangnya, bagi kita hanya ada sesekali.

Pagi itu, sebelum tegukan terakhir tehmu, kamu mengucapkan namanya. L. L. L. L. Aku tak sanggup melanjutkannya. Aku bisa meneriakkan dalam hati. L. Sesampainya di mulut, ujung nama itu meruntuhkan rasa manis yang tadi ada, mengusir segar teh yang tadi tinggal.

Kamu meletakkan cangkirmu tanpa suara. Mendekatkan punggung tanganku ke bibirmu dan menciuminya. Jika kamu memujaku sebanyak ini, mengapa mencintainya?

Karena aku tak bisa meninggalkannya.

Itu bukan cinta.

Cinta bisa hadir berbagai macam. Berbagai wujud.

Aku ingin minta kamu tetap di sini, tapi itu sia-sia saja.

Aku mencintainya karena dia membutuhkanku. Kamu mengerti aku, itu lebih dari cinta.

Mungkin itu hanya pemanis yang keluar dari mulutmu. Namun saat kucecap bibirmu, hanya jejak teh yang terasa di sana. Sedikit pahit, secuil manis. Aku tidak ingin mengakhiri ini semua.

Ucapkan namaku.

Chrysanths. 

Lagi.

Chrysanths.

Pagi ini, mungkin giliran aku yang kamu cintai. Tapi aku akan tetap menunggu. Suatu hari nanti, seluruh pagi yang akan kita jalani, kamu hanya akan mencintaiku.

26 oktober 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading chrysanths at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: