sekakmat

31 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

hasil ngobrol dengan karakter yang lagi dikerjain, eh ditulisin.


Knight-chess

“Pernahkah kamu berada di sebuah momentum….”

Dia menginterupsi kata-kataku sesaat dengan memajukan bidaknya satu langkah. Aku bergeming. Pionku berseberangan dengan miliknya. Dia berusaha membuatku untuk melahap pionnya. Tapi…, matanya singgah di pandanganku lagi.

“Hmm… momentum ketika kamu menyadari jika kamu jatuh cinta dan ketakutan pada saat bersamaan?” tanyaku, mendorong bidak hitamku dengan ujung telunjuk hingga posisinya bersisian.

Dia memangku wajah. Memasang raut itu lagi. Jenuh. Hanya butuh sepuluh detik dan dia mendorong bidaknya yang lain.

Sial. Cepat amat.

“Kamu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi atau akhir dari event jatuh cintamu itu?” tanyanya.

Aku mereguk teh manis dari cangkir kaleng tua dan bersila di atas kursi. “Aku harusnya kan menikmati,” kataku sambil menguntir ujung rambut panjangku.

Dia mendengus. “Ya sudah. Dinikmati,” katanya, mengetuk-ngetuk papan catur, mengingatkan giliranku.

“Susah.” Aku mengambil langkah diagonal untuk ratuku. “Cuss.”

Lagi, secepat kedipan mata dan belum tegukanku turun melewati mulut, dia sudah memindahkan kudanya.

Aku mengelus daguku berulang-ulang. Langkah-langkahnya tidak kelihatan bahaya–belum ada bahaya. Namun dalam lima sampai tujuh kesempatan ke depan, aku sudah tahu bagaimana permainan ini akan berakhir.

Kupindahkan kudaku. “Dengarkan aku dulu.”

Ratunya melahap kudaku.

“Ehhh… kok gitu?” Aku melotot. “Dari mana itu?” seruku agak histeris. Lututku menyenggol pinggiran meja dan nyaris memporak-porandakan semua yang ada di permukaannya.

“Lanjutkan,” katanya memainkan kudaku di tangannya dengan raut sedingin glasier.

Sial.

Aku mengambil kesempatan itu. Menyusun strategi lain berdasarkan posisi di papan catur. Namun, aku tidak langsung bergerak, aku harus membuatnya mendengar ini terlebih dahulu. “Momentum ketika kamu jatuh cinta dan tahu jika nantinya itu akan berakhir. Kamu membayangkan ada suatu hari di masa depan ketika kamu menatap fotonya dan dia nggak berarti apa-apa lagi. Hanya sekadar, pernah mencintai. Pernah jadi yang istimewa.

Tapi di momen itu, kamu sadar jika kamu jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta yang amat sangat dan kamu ingin selamanya. Namun….”

Dia menyenderkan punggungnya dan duduk malas. Cahaya matahari sore memandikan bidak-bidak kami. Putih untuknya. Hitam bagiku. Aku mengipas-ngipas leher dengan tangan. Panas sore ini agaknya menyebabkan pikiranku sedikit kacau.

“Ketika kamu memulai sesuatu, kamu sedang menuju akhir. Ketika kamu mulai memiliki sesuatu, di situ perpisahan berawal. Ketika….”

“Hey stop!” Aku melemparnya dengan satu pion putihnya yang sudah jadi milikku.

Tawanya terlontar ke udara dan dia bisa menangkap pion itu dengan tepat. Aku memberengut. Menggeser ratuku lagi dan, “skak.” Kuucapkan itu tanpa kebanggaan. Malah penuh kecemasan karena aku sama sekali tidak bisa membaca arah permainannya.

Dasar kampret.

“Jangan khawatir,” katanya.

Mataku membola saat jari-jarinya yang panjang itu mengangkat bentengnya dengan gerak lambat. Bibirnya menyunggingkan seringai penuh. Dengan bidaknya itu dia menghantam ratuku hingga terguling di atas papan. Tanganku terkepal dan pandanganku menyengit.

Berengsek.

Aku mengerling padanya. Matanya berpendar di tengah pandangan yang selalu tajam dan waspada itu. Elok dan elegan. Sepasang mata yang bisa mencuri waktumu sejenak untuk mengamatinya.

“Kamu harusnya siaga dan lihat sekitarmu,” ujarnya, meraih gelas tehnya. Dia membenahi posisi duduknya. Kini lebih tegak hingga sebagian wajahnya terbias sisa-sisa cahaya senja.

“Gimana mau siaga kalau kamu nggak mau dengerin kata-kataku.” Kuamati matanya dengan saksama.

“Oke,” dia mengulum senyum dan meneguk minumannya.

Aku menghela napas panjang. Mengumpulkan kata-kata yang tadi berceceran. “Momen itu ketika… aku buru-buru menulis. Menulis selama perasaan itu masih ada dan berbunga. Menulis sebelum perasaan itu lenyap.”

“Aku nggak tahu tentang itu, kalau kamu harus menulis sambil berkejaran dengan waktu. Tapi kamu seharusnya bisa melihat momentum itu datang dan mengantisipasinya.”

Angin bersiul lewat jendela. Menggoyangkan kerai yang sejak tadi jadi penonton kami. Aku mencerna kata-katanya. Dia benar, aku bisa. Hanya saja, ada berbagai faktor yang membikin aku sulit memprediksi plot dari event kali ini. Aku selalu merasa tahu dan dapat mengendalikan situasi. Kali ini, lawanku dan momentum itu memaksaku untuk tidak maju dengan gegabah.

Dia mengusap rambutnya yang tebal dan lembut.

“Aku bisa. Yang sulit adalah mengetahui kapan momen itu berakhir. Momen-momen itu menyenangkan. Sesuatu yang aku rindukan ketika tidak ada,” kataku dengan tatapan mengawang. “Di momen itu, aku buru-buru menulis dan menyelesaikannya. Dan tulisan itu….”

Pandangan kami bertaut. Ah….

“Sebagai bukti kalau kamu pernah mencintai dia?” sahutnya.

Biasanya, menghadapi tatapannya, aku akan cepat menyerah. Memalingkan pandangan, mencoba membuat objek lain lebih menarik daripada kedua bola matanya. Kini aku bertahan, bukan sekadar lebih lama dan memenangkan adu pandang antara kami. Aku ingin dia membaca apa yang kusembunyikan di balik amatanku.

“Sebagai kenang-kenangan kalau aku pernah mencintai kamu. Sebagai pengingat jika suatu hari aku menyesal pernah mencintai kamu dan memilih melepaskan.” Aku menimpalinya pelan.

Ekspresi wajahnya tak berubah.

Dan saat ini, perlahan detik demi detik bergulingan begitu lambat. Seakan sedang memberiku kesempatan untuk menikmati momen ini lebih lama dan penuh keresahan.

“Seseorang bilang padaku, jika kamu memiliki seseorang yang tidak ingin kamu lepaskan, beri jarak antara kalian.” Aku bilang lagi agar hening tidak meningkahi pertemuan ini.

“Sehingga kamu tidak akan menyadari jika perlahan-lahan jarak itu memelar.”

“Aku tidak ingin kehilangan kamu.” Aku memindahkan sebuah bidakku sehingga raja yang harusnya kulindungi ada di jangkauan raih ratunya.

Alisnya bertaut. “Langkahmu ilegal.”

Ya. Tidak seharusnya, aku membiarkan rajaku dalam posisi yang langsung bisa dimangsa lawan. Ilegal, dia benar. “Memangnya apa pilihan yang aku punya?”

Sisa cahaya matahari kini jadi satu-satunya penerang ruangan itu. Sebagian kamar tua ini sudah berubah remang dan mengerikan. Setiap kali angin mengembus ke dalam, aku merasa mendengar derak dan derik di balik semua furnitur kayu antiknya.

“Kita bisa bertukar sisi. Aku akan memecahkan situasimu.” Dia mengembalikan gelasnya ke meja.

“Kamu lucu,” komentarku.

Semenit lebih, dia mendiamkanku dan bidak-bidaknya.

“Kamu nggak akan mundur, kan?” tanyaku.

“Kamu curang.” Dia menatapku lekat-lekat. “Aku merasa kamu pantas diperjuangkan dengan lebih layak.”

“Ha! Karena bagaimana pun langkah-langkah yang kuambil, kamu selalu sepuluh langkah di depan. Hasilnya sama saja, aku selalu kalah darimu.”

Dia tertawa lagi, kali ini hingga tubuhnya agak terguncang. “Karena itu aku tahu. Aku menunggu hari ini. Momen ini.”

Senyumnya mengembang. Tatapan matanya hanya untukku. Ini momen yang selalu kutunggu, saat dia mengucapkan itu. Momen ketika aku menyadari aku jatuh cinta kepadanya.

“Sekakmat.”

Pringsewu, 30-10-15

diposting juga di storial.co.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading sekakmat at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: