Sosok ‘Ayah’ dalam Time After Time

27 November 2015 § Tinggalkan komentar

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Time After Time sudah beredar di toko-toko buku dan online!

Sejujurnya, aku nggak terlalu ingat dari mana karakter ‘Ayah’ ini muncul. Sepertinya sih dari kebutuhan cerita aja, tapi kemudian jadi karakter favoritku dalam novel ini. Plot beliau yang berbohong sampai meninggal kepada anaknya agar anaknya nggak membenci perempuan yang dicintainya–itu bagian paling kusuka dari Time After Time sendiri.

Sebelum-sebelumnya, aku jarang menulis tentang keluarga, terutama hubungan anak dan orangtuanya. Di novel Time After Time, tentu saja karakter ‘Ayah’ atau Dimas sedikit banyak terinspirasi oleh ayahku sendiri. Di salah satu draf awal, Ayah lebih punya banyak adegan daripada versi terbitnya. Ada interaksi-interaksi dengan Lasja sebelum beliau meninggal, kemudian ketika sakit, dan akhirnya meninggal. Bahkan sakitnya beliau juga aku ambil dari sakit yang menimpa ayahku sendiri. 

Yup, di tengah-tengah mengerjakan novel ini memang ayahku mengalami serangan stroke kedua. Akhirnya, Time After Time setengah dikerjakan di Bogor, dan sisanya diselesaikan di Lampung. Ibuku memintaku pulang untuk merawat ayahku. Yang, aku sendiri nggak begitu menyukai kampung tempat tinggalku itu.

Namun yang paling membuat aku kaget (sebenarnya kata kaget kurang tepat) dan bikin pengerjaan Time After Time tersendat sedikit adalah betapa berbedanya ayahku sebelum dan sesudah sakit. Ketika stroke pertama beliau bisa pulih seperti semula. Setelah serangan kedua ini, beliau bisa pulih tapi nggak seperti dulu lagi. Selain fisik, tentunya yang berubah adalah sikap dan perangainya.

Hubunganku dan ayahku nggak sedekat Lasja dan ayahnya. Terlebih setelah aku kuliah di Bogor, yang banyak momen yang hilang. Kami bukan tipe yang saling bercerita apa yang terjadi atau saling memberi saran ketika ada masalah. Bagiku, beliau selalu sosok yang sama yang kukenal sejak kecil dan mungkin aku ngerasa diriku juga gitu–sama. Tapi sebenarnya, kami sama-sama berubah.

Dan itu bikin semuanya jadi sulit.

Ayahku selalu jadi seseorang yang kusegani dan kukagumi. Panutan dan idola (tapi bukan dalam kapasitas seperti aku mengidolakan Benedict Cumberbatch, Christopher Nolan, atau Schneizel el Britannia–huahaha). Seluruh penilaian dan label yang aku buat untuk ayahku itu runtuh ketika aku kembali lagi ke sini dan menemani beliau yang memulihkan diri setelah serangan stroke kedua tersebut.

Itu waktu-waktu yang berat. Bertengkar dan bertengkar dengan beliau yang bahkan tidak bisa berpikir benar/berat lagi. Aku setengah bodoh dan egois. Suatu kali aku pikir aku membenci beliau dan aku ingin situasi buruk itu segera berakhir.

Harapan itu terwujud, setahun yang lalu. Tanpa hujan, tanpa angin, pembuluh darah di otak ayahku pecah. Tidak sampai dua puluh empat jam, beliau pun meninggalkanku, adik-adik, dan ibuku. Sebagian dari aku lega karena bisa berhenti bertengkar dengan beliau, lega karena beliau akhirnya sembuh dari sakitnya. Sedih. Tapi aku mengerti, sakit atau tidak, kematian pasti akan datang. Kematian adalah takdir yang tak bisa dihindari.

Apa yang terjadi setelah ayahku meninggal, sama sekali berbeda dengan yang menimpa Lasja. Tidak ada kompas ajaib dan rahasia yang perlu dikuak. Hari-hari berjalan seperti biasa. Aku masih tinggal di kota kampung yang membosankan ini. Dan setelah dua tahun, akhirnya Time After Time bisa terbit. Meski novel tersebut nggak lepas dari ketidaksempurnaannya (halah), semua momen yang terjadi selama menulisnya, membuat Time After Time punya makna spesial untukku (aku harap untuk kamu juga!).

Beberapa waktu lalu, aku bilang kepada seseorang kalau apa yang kita tulis seringkali merupa menjadi doa. Aku menceritakan ini bukan untuk membuktikan kalau tulisan bisa berubah jadi realitas. Justru karena aku menulis tentang Lasja dan ayahnya, itu membantuku melihat dan mengenang hubunganku dengan ayahku sendiri. Itu salah satu alasan karakter Ayah di Time After Time jadi spesial untukku. Aku nggak punya banyak cerita yang wah tentang ayahku, tapi mungkin setelah hari kematian beliau setahun lalu, setiap ayah dalam cerita yang aku tulis akan menyimpan sepotong dan sepotong kenangan tentang beliau.

“Some people die, and it’s not even really sad, it’s just a thing that happens.” – Neil Gaiman

 

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sosok ‘Ayah’ dalam Time After Time at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: