Montase

12 Januari 2016 § Tinggalkan komentar

(sumber: foodiecrush.com)

(sumber: foodiecrush.com)


 

“Only the dead have seen the end of war.”

– George Santayana


 

1998 a.t.b.

“Kamu nggak mungkin jadi astronaut.”

Kalimat itu diucapkan jujur, meski tidak begitu polos. Sejenak dan kesunyian kembali melingkungi di antara rak buku-rak buku raksasa dan pilar-pilar pualam yang menyangga atap penuh lukisan indah. Cahaya matahari pagi menerobos jendela besar, menggarisi permukaan Perpustakaan Istana Pendragon yang mengilat.

“Kakekku menyetujui program Prometheus untuk misi ke Mars. Mereka akan memulai segera,” jawab Schneizel acuh tak acuh. Tubuh bocah delapan tahun itu menengkurap di lantai marmer. Tak peduli meski dingin menggigiti kulitnya.

“Aku sudah membaca mengenai proyek tersebut. Tapi Maharaja pasti menginginkanmu menjadi diplomat, gubernur, atau perdana menteri.” Anak lelaki yang berdiri di belakang Schneizel kembali bersuara. Merecoki. Kacamata tebal dan besar menggantung di wajah mungilnya. Sambil bersandar ke tangga kayu di samping rak buku, dia agak menjinjit untuk melihat lebih jelas apa yang sedang digambar sang pangeran.

“Dua puluh tahun lagi, Asplund, mereka sudah bisa mendirikan istana dan sekolah di sana. Aku akan jadi Gubernur Koloni Mars. Aku akan membangun pesawatku sendiri. Yang besar. Yang bisa memuat banyak orang. Kamu akan jadi kepala divisi riset teknologiku.” Schneizel menanggapi sekenanya. Jari-jarinya menggerakkan pensil. Sesekali menghapus garis yang sudah ada. Menambahkan setrip lain hingga citra itu kini agak tampak bentuknya.

“Oke. Aku akan membantumu. Kamu butuh hab, kargo, dan modul propulsi. Kamu tidak bisa menerbangkan tebing dan istana sekaligus seperti itu. Ini menggelikan.” Si kacamata, Asplund menggeser—mendorong paksa Schneizel. Menguasai pensil dan buku si pangeran. Menyetip sedikit angka dari perhitungan persamaan roket Tsiolkovskii yang dicorat-coret Schneizel di samping desain pesawat luar angkasanya.

Mata Schneizel membola. “Tidak, tidak. Delta-V-nya sudah tepat. Apa yang kamu lakukan, Asplund?!” Anak lelaki berambut pirang itu mencoba merebut kertas hitungnya dengan sengit.

“Kamu baru saja mengangkatku jadi kepala divisi risetmu!” Asplund berkilah dan berkelit cepat. Dia terkekeh, menimpa hitung-hitungan Schneizel yang rapi dengan tulisannya yang tidak keruan.

“Kembalikan padaku, kampret!”

Lloyd Asplund terbeliak. Diam dan mangap. “Bartleeyyyy! Bartley!!! Kamu harus dengar yang barusan dikatakan Pangeran Kedua!” Jeritan itu melengking. Menghamburkan kelengangan yang tadi pekat.

Schneizel mendelik dan menerjang Asplund. Anak lelaki yang dua tahun lebih tua darinya itu mengelak sigap. Berlari ke ujung lorong antara dua rak buku raksasa tersebut.

“Dia akan menghukummu kalau tahu ngomong begitu,” Asplund tergelak sampai membungkuk-bungkuk dan memegangi perutnya. Rambut ikal kelabunya berguncang berantakan.

Kaki kecil Schneizel bergerak lagi. Ujung sepatunya menyepak novel The World Set Free. Buku yang sudah menguning itu menghantam bagian bawah tangga kayu. Asplund tertawa lebih keras. Schneizel mengepalkan tangan. Menatap gusar anak lelaki yang menulisi lagi kertas hitungnya sambil berdiri.

Saat itulah Schneizel bertindak. Menyergap dengan penuh ketepatan. Jemarinya mencapai tepi lembaran. Sejenak kedua anak itu saling tarik. Saling menyunggingkan tatapan bengis. Kertas tipis itu pun tak bisa menahan lebih lama kekuatan yang mengganjur dari dua sisi. Menyebabkan keduanya terhuyung dan menjerit dramatis. Yang tersisa hanya potongan kertas di tangan masing-masing.

Suara langkah kaki membisukan mereka. Sudah terlalu dekat dan tak bisa menghindar. Keduanya mengumpat tanpa suara, menyalahkan satu sama lain.

“Pangeran Schneizel, Lord Asplund, ada apa?” Bartley bertanya dengan panik dari balik rak buku. Pria tambun berseragam militer itu menyalang ngeri. “Apa yang kalian lakukan di sini?! Kalian belum boleh mengunjungi bagian perpustakaan yang ini. Aku akan melaporkannya kepada Yang Mulia Anneliese.”

**

2000 a.t.b.

Schneizel berhenti mengguratkan pensil. Derap kaki itu makin nyaring. Dia melipat dan menyelipkan kertas catatannya ke dalam buku bersampul hitam. Menumpuknya di bawah Mahabharata. Dua orang bicara di balik pintu perpustakaan rumahnya. Bukan pelayan, penjaga, atau saudara-saudaranya. Schneizel menyingkap Spaceship Handbook, pada halaman acak yang menampilkan diagram pesawat Apollo. Dia menariknya dan menambahkan marginalia di pinggir halaman saat pintu di belakangnya terbuka.

Tanpa melihat pun dia tahu siapa yang berkunjung. Dia meneruskan menggambar pesawatnya. Mengerling pada tangan kurus yang menggeser Space Propulsion and Analysis Design, lalu menggantikannya dengan tiga tumpuk buku. Foundation. Schneizel sudah membaca buku yang pertama, tapi memilih menyelesaikan The History of the Decline and Fall of the Roman Empire terlebih dahulu. Isinya sama saja. Huh.

“Ibuku menitipkan salam untukmu. Dia bilang aku harus datang berkunjung sebelum aku masuk ke sekolah asrama minggu depan.” Asplund mencomot sepotong éclair. “PR dari mentormu lagi? Siapa? Lord Szilard? Lord Cumberbatch?”

Schneizel berdecak. “Berisik,” gumamnya pelan. Dia menggeser posisi duduknya sedikit, menutupi kertasnya dengan sebelah tangan sambil terus menggambar. Bukan tugas dari mentor yang dikerjakannya sekarang. Semua masih tertumpuk rapi, belum ingin Schneizel sentuh. Kecuali Profesor Nolan, guru-gurunya membosankan—protes pun tak ada gunanya. Pelajaran-pelajaran itu adalah kewajiban dari ayahnya, yang kini Maharaja Britannia. Tak ada yang bisa membantah kata-kata beliau.

“Kamu ingin membuatnya terus melayang tanpa batas waktu? Gravitasi akan menyeret tebing dan istanamu itu ke bawah lagi dan lagi.” Asplund kembali berkomentar.

“Mengapung, Asplund. Mengapung.” Schneizel mengoreksi, mendekatkan buku yang tadi disingkirkan Asplund.

“Kamu mengapung di permukaan air!” Asplund mendebat alot.

“Mengapung. Pokoknya mengapung!” seru Schneizel ngotot.

Seruan Schneizel menyenyapkan ruangan. Derak jendela yang tertiup angin mengisi jeda itu. Schneizel membalik bukunya, menambahkan catatan di kertas gambarnya. Beberapa kalimat dan dia berhenti—baru menyadari jika menuliskannya dalam bahasa Latin. Mencoret semuanya dan menggantinya dengan bahasa Inggris.

Asplund mendengus dan bersedekap. “Kamu butuh banyak sekali Sakuradite untuk itu,” katanya, menunjuk pinggiran kertas Schneizel.

“Aku akan mendapatkannya,” sahut Schneizel mengibaskan tangan Asplund. Dia mengigit sepotong éclair dan menjilati sisa cokelat di ujung jarinya.

“Kandungan Sakuradite di Area 4 dan Area 6 menipis. Maharaja mengalokasikan semuanya untuk pengembangan robot humanoid berpilot dan kendaraan tempur.” Asplund mendorong posisi kacamatanya agar kembali tepat. Dia mengelus-elus keningnya.

“Aku akan meminta Bartley menyisihkannya untukku. Dan ayahmu.” Schneizel akhirnya berhenti menggambar—mendesain, lebih tepatnya. Ada noda cokelat di bagian bawah kertas gambarnya. Dia menggarukkan pensil ke dahinya, lalu meletakkannya. “Aku hanya belum menemukan cara sederhana untuk menyimpan itu.”

“Ah, tentu saja bisa. Itu gampang.” Asplund yang berdiri menggelukkan punggung menyeringai kecil. “Tapi butuh banyak uang untuk membuat itu.”

“Aku punya,” katanya jenuh. Dia menghela napas panjang dan memangku wajah. Tatapannya menembus jendela-jendela besar perpustakaan. Di luar sana, mawar-mawar bermacam warna mekar di bawah sinar matahari musim semi. Tanpa sengaja Schneizel menyenggol tumpukan buku lain di dekatnya. Buku catatan bersampul kulit itu jatuh ke lantai bersama Mahabharata.

“Maharaja pasti akan tahu. Menurutmu Beliau tidak akan peduli dan melarangmu?”

Schneizel mengetuk-ngetuk halaman buku. “Dia mungkin tidak akan peduli. Dia terlalu sibuk mengurusi Britannia dan merencanakan invasi ke Indochina sekarang. Tapi, aku akan bicara pada ayahku. Tenang saja.”

Anak sepuluh tahun itu meloncat dari kursi dan memunguti buku-bukunya sendiri. Dia mendekap buku hitam peninggalan ibunya. Maharani Anneliese el Britannia meninggal karena sakit. Untuk bangsa semaju Britannia, sakit adalah penyebab kematian yang langka bagi keluarga kerajaan. Tapi kadang itu terjadi. Atau, seseorang mendalangi itu terjadi.

**

Baca kelanjutannya di fanfiction.net. 🙂

**

Selamat ulang tahun, Schneizel.

Montase (Hikayat Damocles) — Code Geass: Lelouch of Rebellion @ Sunrise, Gorō Taniguchi, Ichirō Ōkouchi, & Clamp

Ditulis untuk Science (Fan)fiction day 2016. Terima kasih untuk Ninda dan Danis yang bantu ini itu.

Catatan: Semua judul buku di atas ada di dunia nyata (tahun terbit dalam Masehi/AD). The World Set Free (H.G. Wells, 1914), Mahabharata (Begawan Wyasa), Spaceship Handbook (Jack Hagerty, Jon C. Rogers, 2001), Space Propulsion and Analysis Design (Ronald Humble, Gregory Henry, Wiley Larson, 1995), Foundation (Isaac Asimov, 1951), dan The History of the Decline and Fall of the Roman Empire (Edward Gibbon, 1776).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Montase at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: