Berburu Pangeran

17 Januari 2016 § 1 Komentar

richard madden prince charming

Richard Madden sebagai Prince Charming di Cinderella 2015. Cakepnyaaaaaa.

Malam lalu, ketika berbaring dalam kegelapan, pikiran ini merasukiku. Selama empat bulan terakhir, aku mengerjakan cerita tentang keluarga kerajaan dan bangsawan. Lalu, beberapa waktu lalu, aku membaca cerita tentang pangeran gitu yang kabur dari kerajaannya karena menolak nggg dijodohkan. Mungkin itu berlanjut jadi cerita yang bagus, tapi jujur saja bikin aku mengernyitkan dahi. Karena, bagaimana seorang pangeran nggak bisa menghadapi masalah seperti itu? Apalagi, kalau perjodohan itu berkaitan dan beralasan politis/ekonomi, bisa saja si keluarga/kerajaan putri yang akan dijodohkan merasa dilecehkan harga dirinya. Dan apa… perang atau banyak implikasi yang kurang baik lainnya.

Bagi kamu yang suka sejarah atau nonton miniseri bersetting masa-masa kerajaan gitu, pasti tahu betapa dramanya menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Bersaing mendapatkan takhta. Kehidupan yang nggak sebebas merpati. Harus mau dijodohkan atas nama stabilitas politik dan perjanjian ekonomi. Dan bla bla bla lainnya.

Jadi, dari apa yang aku kumpulkan selama beberapa bulan terakhir, aku pengin sekali menulis tentang…, kalau kamu menulis kisah tentang cinta bersama pangeran–aku akan memberi tips. Sehingga ceritamu lebih berlapis, lebih terasa realistis (sesuaikan dengan periode). Tapi, sesuai judulnya, ini berburu pangeran, dan nggak bisa dibalik.

Kita mulai dari, misalnya kamu jatuh cinta dengan seorang pangeran, dan dia juga mencintaimu. Lalu, kamu berhasil untuk jadi pasangannya. Dan… tips, ini, tips.

1. Riset tentang dasar atau hukum suksesi (order of succession) di kerajaan/kekaisaran pangeranmu tersebut. Ada banyak macamnya lho. Dan ini penting, kalau kamu menginginkan menjadi ‘Ratu’ atau keturunanmu kelak berkuasa.

Nah ini macam-macam variasinya lho ya. Ada absolute primogeniture, yang apa pun gendernya bisa menjadi penerus kerajaan kelak. Ada pula agnatic primogeniture, yang urutan suksesinya tergantu pada kekerabatan–biasanya diberi penomoran dan yang paling senior, paling dekat posisinya dengan monarch saat itu, dia yang akan mewarisi takhta kelak. Ada pula Salic Law dan macam-macam lainnya.

Mengapa ini penting? Tentu saja, ini bumbu utama perebutan takhta. Bayangkan, bayangkan, bayangkan.

2. Berdasarkan riset mengenai proses suksesi di kerajaan pangeranmu tadi, cari tahu posisi pangeranmu itu. Putra makhota-kah (heir apparent)? Atau pangeran tapi hanya ‘heir presumptive‘–ada di urutan pertama tapi bisa digeser oleh anak si raja?

Umpamakan, kerajaan pangeranmu menggunakan dasar suksesi primogeniture. Ternyata pangeranmu adalah pangeran kedua, juga urutan kedua dari takhta. Kalau kakaknya naik jadi raja, dia akan menempati posisi sebagai heir presumptive. Kemungkinan dia menjadi raja atau kaisar tidak akan terlalu besar, karena ketika kakaknya/raja punya anak, maka yang jadi penerus (heir apparent) adalah anak si kakak/raja itu.

Kalau itu yang terjadi, urutan takhta pangeranmu pun akan mundur juga. Paling banter bakal cuma jadi regent anak si kakak (pedih). Dia bisa jadi raja kalau pangeran pertama/putra makhota/kakaknya wafat dan belum punya anak. Atau habisi-singkirkan aja bapak/raja dan kakak/putra makhota, dan yuhuu takhta ada di tangannya. Seru.

3. Dua poin di atas tadi penting banget kalau kamu berorientasi jadi ratu atau maharani (empress). Tapi jangan senang dulu, kalau pangeran yang berhasil jadi suamimu tadi naik takhta. Cek dan ricek, tetapkan posisi ’empress’-mu itu yang seperti apa? Apa kamu diakui secarah sah sebagai istri/pendampingnya (empress/queen consort), punya hak pada pemerintahan dan militer, sama seperti suamimu? Apa kamu cuma dijadikan istri untuk mengandung keturunan-keturunan suamimu kelak? Dan, jangan heran atau menutup mata dengan tradisi harem, mistress, cocubine, atau malah istri-istri yang lain. Orientasi raja/kaisar adalah mengamankan kekuasaan mereka di tangan darah yang sama. Jadi ya… ya… ya….

Lukisan dari keluarga Louis XIV

Lukisan dari keluarga Louis XIV (sumber)

4. Jangan percaya siapa pun di court. Waspada pada orang-orang dekat, untukmu (yang ratu/empress), terutama Mistress of Robes/Lady in Waiting. Sosok yang menduduki jabatan itu akan jadi orang yang akan mengatur dan memberi masukan sama siapa kamu harus bergaul serta macam-macam lainnya. Sederhananya, dia adalah asistenmu.

Biasanya, biasanya, jabatan itu cukup politis, atau oleh raja/kaisar/pangeranmu digunakan untuk menyimpan perempuan kesukaannya yang nggak bisa dia miliki agar tetap dekat dengannya. Ya? Ya? Jadi, jangan heran kalau nanti suamimu bobok-bobok cantik dengan Mistress of Robes/Lady in Waiting-mu. Ingat cerita Henry VIII.

5. Dipoligami belum cukup? Selidiki dengan tuntas tradisi keluarga pangeranmu. Apakah ada indikasi inses? Duh, ini tradisi biasa di keluarga kerajaan. Umumnya bertujuan untuk menjaga kemurnian. Sesama saudara, sesama sepupu. Bisa jadi, adik iparmu adalah sainganmu. Hayo lho!

6. Mempertahankan lebih sulit dibanding mendapatkan. Meski sudah menjadi pasangannya/istrinya, semua masih menginginkan pangeranmu, apalagi kalau dia sudah jadi raja/kaisar. Semua.

7. Pelajari tentang seni memerintah, seni perang, seni bergaul di court. Jadilah bukan hanya cerdas, tapi juga cerdik dan licik. Intrik akan mengikutimu seumur hidup.

Sesuaikan dengan persona yang kamu pakai di depan publik sesuai dengan pangeranmu. Memang ada tim PR, tapi tetap saja, bangun karisma untuk menjerat perhatian orang-orang.

Bacalah The Prince-nya Machiavelli, Art of War-nya Sun Tzu, The 48 Laws of Power-nya Robert Greene, dan banyak buku lainnya. Itu sedikit. Tapi paling penting ketahui sejarah kerajaan pangeranmu itu.

8. Jangan naif. Jangan naif. Jangan naif.

9. Tentu saja, paling penting adalah kualitas dari pangeranmu sendiri. Orientasinya apa? Kalau memang takhta, cek bagaimana cara dia mewujudkannya. Pastikan dia tahu apa yang dia lakukan. Dengan cara yang elegan. Karena apa yang dia lakukan, otomatis akan mempengaruhi posisi dan keamananmu juga. Cek juga posisinya di antara royal family gimana, terus gimana pandangan court terhadap dia. Banyak dukungankah?

Kalau pangeranmu itu lembek, mendingan tinggalin aja. Cari manusia biasa aja. Hidup sederhana dan bahagia. Nggak perlu kecebur di court yang megah, berkilau, indah, rumit, dan berdarah.

Hahaha. Jadi, itu sedikit dari yang aku bisa sampaikan tentang menulis ‘berburu pangeran’. Memang agak western-sentris banget. Setiap kerajaan atau kekaisaran punya budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Istilah yang digunakan pun bisa berbeda-beda, seperti untuk putra mahkota tadi. Jangan takut untuk membuat unik kerajaan fiktif yang kamu bangun.

Di atas juga mungkin ada salah atau kurang akurat. Aku bukan ahli historia, juga nggak terlalu ahli di bidang ini. Dan rasanya aku menyederhanakan beberapa hal di atas. Hahaha. Kalau kalian punya tambahan info, boleh lho tulis di komentar. Ini postingan seru-seruan aja. Tapi semoga bermanfaat bagi kalian!

Tagged:

§ One Response to Berburu Pangeran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Berburu Pangeran at Hero of The Drama.

meta

%d blogger menyukai ini: