Manhattan Skyline

19 September 2012 § 4 Komentar

image

Jika jatuh cinta bisa memilih, aku akan membiarkan diriku jatuh pada keduanya. Dua yang sangat kucintai.

Mataku terpancang lurus kepada poster berukuran besar di dinding apartemenku. Panorama pencakar langit dengan latar langit biru di midtown Manhattan, New York, yang menjadi objek utama poster tersebut. Puncak Empire State Building yang menjulang di antara sosok-sosok gedung lainnya. Aku selalu memimpikan berada di sana, berjalan cepat setiap pagi di antara megahnya.

Satu hal yang tampak tidak seharusnya berada di tengah potret arsitektur Kota Ney York itu adalah secarik kertas putih dengan tulisan tangan yang tertempel persis di sebelah Empire State Building. Coretan pena yang sangat kukenal bentuknya, milikmu.

**

« Read the rest of this entry »

Iklan

September

11 September 2012 § Tinggalkan komentar

Di meja sudut kedai kopi itu aku mendamparkan diri bersamamu. Di bawah nyala lembut lampu-lampu di dalam ruangan kedai kopi tersebut sudah berjam-jam percakapan kita terjalin. Berkali-kali tatapan kita bertemu. Berulang kali pembicaraan kita berbenturan. Cangkir berisi kopi milikku dan milikmu pun sudah diisi ulang. Namun tak ada yang membuat kita berhenti bercerita, kecuali malam yang melarut.

“Ra, dari dulu aku pengin banget bilang ini ke kamu,” katamu sambil meletakkan gelas kopi ke atas meja kayu berbentuk bundar itu.

Aku balas menatapmu ingin tahu.

“Kamu ngingetin aku sama Emma Morley,” bilangmu dengan sunggingan senyum manis menghiasi bibirmu.

Mataku menyipit memandangmu. “Emma… Morley?”

“One Day. Si Anne Hathaway. Jim Strurgess. 15 Juli.”
« Read the rest of this entry »

Langit Biru (Sang Arsitek dan Gadis Api)

1 September 2012 § 2 Komentar

Ketika kamu harus membayar mahal untuk melihat langit biru….

**

Aku berlari di bawah bayang-bayang gedung pencakar lari. Di belakangku, menggema rangkaian derap-derap langkah dari para guardian. Guardian, huh, setiap kali mengatakannya cuma celaan yang rasa ingin kumuntahkan. Guardian, seharusnya menjadi pelindung. Oh, mereka memang melindungi, hanya kepada mereka yang terpilih.

Kuloncati tumpukan sampah, cicit tikus terdengar di mana berlarian karena terusik oleh keramaian yang aku buat. Sinar-sinar dari lampu yang sekarat menerangi lorong itu. Air berkecipak karena pijakan sepatu bootku. Selanjutnya semua suara itu digantikan hal lain, sebuah letusan. Mereka benar-benar serius. Letusan senapan itu terdengar lagi. Berdesing si sisi telingaku.

Aku terjatuh. Dipaksa untuk jatuh dan berlutut. Ini pertama kali aku berada di puncak Gaia Tower, gedung tertinggi di New United States. Sinar matahari menerobos masuk lewat jendela-jendela kaca besar di luar dinding bangunan. Bentuknya mengikuti terali jendela yang dibuat dengan motif-motif prisma yang kelihatannya abstrak. Di belakang sosoknya, kacanya langsung menghadap langit. Langit yang biru.

Lagi, aku dipaksa kembali, kini dengan dahi yang diangkat dengan ujung senapan, pandanganku pun tak bisa luput dari seseorang di hadapanku itu. Mata birunya mengarah tepat kepadaku. Tatapan mata yang dalam, membuat tubuhku gemetar dalam sekejap. Tubuh tinggi dan bidangnya dihiasi jubah hitam. Paling berbeda dengan orang-orang lain yang ada di dalam sini yang berjubah putih. Aku meneguk ludah. Ketakutan dan terpesona pada saat yang sama.

Itu pertama kalinya aku melihat langit biru dan dia, Sang Arsitek.

**

Mataku masih belum bisa mengenyahkan gambaran api yang menari-nari. Dari ujung bangunan itu dengan sebuah sumbu kecil aku menyulutnya. Butuh waktu lumayan lama membuat api tersebut dengan sepasang batu api yang kugunakan. Namun semua tidak sia-sia, api itu bekerja cepat, laksana raksasa yang kelaparan. Melahap sisi demi sisi bangunan itu, bahkan tanpa perlu usaha keras karena bangunan itu tak bisa lari kemanapun.

Sebab itulah aku berlari di kelokan-kelokan gang sempit seperti sekarang. Ini bukalah aksi pertama yang kulakukan. Gedung-gedung super tinggi itu telah merebut hak kami. Kami adalah penduduk miskin dan kekurangan yang tinggal di lantai dasar dan basement gedung. Hanya harga sewa tempat itu yang bisa kami bayar, termasuk membayar kawanan tikus yang hidup berkeliaran, penerangan yang tidak memadai, dan air limbah yang terus-menerus bocor dari mereka yang hidup di Level.

Bahkan bisa tinggal di Level terendah pun sama sekali tidak menjamin kamu bisa melihat langit biru.

**

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the #30HariLagukuBercerita category at Hero of The Drama.