Her Name Is Tatyana

19 Oktober 2016 § Tinggalkan komentar

Review Potret, cerita bersambung yang pernah kupost di Storial.co.

Times New Woman

img-20161019-wa0000.jpg cover by Aditia Yudis

Pernikahan bukanlah permainan catur.

Aku pernah janji mau mengulas buku “Potret” karya Aditia Yudis, salah satu serial terpopuler di situs storial.co. Lalu janji itu sempat terlupakan lantaran kesibukanku yang semakin menggila. Lalu teringat lagi setelah menyadari kesamaan situasiku sekarang dengan tokoh utama serial itu, Tatyana.

Ehem, mungkin kita bisa mulai dari plotnya. Potret bercerita tentang perjalanan Tatyana dan Saddam menuju hari pernikahan mereka. Selama itu, mereka menemui banyak rintangan dari (sebagian besar) saudara-saudara Saddam (dan ayah mereka). Semuanya berawal dari ucapan dingin Saddam saat makan mie di paviliun Tatyana: “Kita nikah, yuk.”

Lihat pos aslinya 453 kata lagi

Montase

12 Januari 2016 § Tinggalkan komentar

(sumber: foodiecrush.com)

(sumber: foodiecrush.com)


 

“Only the dead have seen the end of war.”

– George Santayana


 

1998 a.t.b.

“Kamu nggak mungkin jadi astronaut.”

Kalimat itu diucapkan jujur, meski tidak begitu polos. Sejenak dan kesunyian kembali melingkungi di antara rak buku-rak buku raksasa dan pilar-pilar pualam yang menyangga atap penuh lukisan indah. Cahaya matahari pagi menerobos jendela besar, menggarisi permukaan Perpustakaan Istana Pendragon yang mengilat.

“Kakekku menyetujui program Prometheus untuk misi ke Mars. Mereka akan memulai segera,” jawab Schneizel acuh tak acuh. Tubuh bocah delapan tahun itu menengkurap di lantai marmer. Tak peduli meski dingin menggigiti kulitnya.

“Aku sudah membaca mengenai proyek tersebut. Tapi Maharaja pasti menginginkanmu menjadi diplomat, gubernur, atau perdana menteri.” Anak lelaki yang berdiri di belakang Schneizel kembali bersuara. Merecoki. Kacamata tebal dan besar menggantung di wajah mungilnya. Sambil bersandar ke tangga kayu di samping rak buku, dia agak menjinjit untuk melihat lebih jelas apa yang sedang digambar sang pangeran.

“Dua puluh tahun lagi, Asplund, mereka sudah bisa mendirikan istana dan sekolah di sana. Aku akan jadi Gubernur Koloni Mars. Aku akan membangun pesawatku sendiri. Yang besar. Yang bisa memuat banyak orang. Kamu akan jadi kepala divisi riset teknologiku.” Schneizel menanggapi sekenanya. Jari-jarinya menggerakkan pensil. Sesekali menghapus garis yang sudah ada. Menambahkan setrip lain hingga citra itu kini agak tampak bentuknya. « Read the rest of this entry »

sekakmat

31 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

hasil ngobrol dengan karakter yang lagi dikerjain, eh ditulisin.


Knight-chess

“Pernahkah kamu berada di sebuah momentum….”

Dia menginterupsi kata-kataku sesaat dengan memajukan bidaknya satu langkah. Aku bergeming. Pionku berseberangan dengan miliknya. Dia berusaha membuatku untuk melahap pionnya. Tapi…, matanya singgah di pandanganku lagi.

“Hmm… momentum ketika kamu menyadari jika kamu jatuh cinta dan ketakutan pada saat bersamaan?” tanyaku, mendorong bidak hitamku dengan ujung telunjuk hingga posisinya bersisian.

Dia memangku wajah. Memasang raut itu lagi. Jenuh. Hanya butuh sepuluh detik dan dia mendorong bidaknya yang lain.

Sial. Cepat amat. « Read the rest of this entry »

chrysanths

26 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

Chrysanthemum-

Pada suatu pagi, aku akan tahu siapa yang sesungguhnya kamu cintai.

Kursi kita bersebelahan di sebuah balkon. Menghadap ke hamparan ladang bunga yang berbaris lurus-lurus. Merah, jambon, kuning, jingga, biru. Berselang-seling, menyemarakkan permulaan hari yang diselimuti halimun.

Kamu menggenggam mug berisi teh. Ada ekspresi spesial setiap kali kamu mengambil teguk pertama dari teh yang kuseduhkan. Pendar di matamu, kecap lidahmu, dan gerak bibirmu. Lalu kamu akan tersenyum kepadaku dan memuji: ‘ini teh terenak di dunia‘.

« Read the rest of this entry »

hujan untukmu

31 Juli 2015 § Tinggalkan komentar

“Apa yang ingin kau dapatkan di hari ulang tahunmu?”

“Hujan.”

Jawabannya jelas di tengah lagu pop mendayu yang meluncur dari pengeras suara. Langkah kaki kami pun tak berhenti, menyusuri lorong yang kanan dan kirinya penuh warna. Bukan pelangi. Bukan gemerlap gemintang.

Dan kamu berhenti.

Permintaanmu tidak mustahil. Hanya saja, langit sendiri mogok berbagi air sejak dua bulan lalu. Pengamat bilang, kondisi ini akan bertahan hingga September.

Hari ini, baru di penghujung Juli. « Read the rest of this entry »

matahari yang terbit di matanya

14 Juli 2015 § Tinggalkan komentar

Aku pernah melihat matahari terbit dari matanya. Hangat dan berkilauan. Seperti halnya aku yang sering menunggu matahari betulan muncul. Duduk dengan segelas susu panas sesudah azan subuh. Menghadap timur, bertatap-tatapan dengan Venus, sambil mulai menghitung larik cahaya yang hadir. Saat itu ketika dunia paling damai. Tak ada yang memburumu. Tak ada yang menghakimi keputusanmu.

“Ketika aku menuju ke sini, matahari ada di atas kepalaku. Secerah kulit lemon,” katanya, berdiri tegap sementara pengunjung di taman pemakaman ini berlarian menghindari tetes air.

Pandanganku terpaku pada nisan. Badan marmernya bersih, seolah baru ditanam kemarin. Air yang jatuh membersihkan permukaannya. Tapi tak ada butiran air yang sampai ke kepalaku, payung merah yang kugenggam akan jadi pelindung.

“Kamu datang ke sini dan mendung bergulung-gulung. Bayang-bayang menghilang. Dan sekarang…,” ujarnya lagi, menyeka air dari wajahnya. “Kamu seperti Putri Hujan yang menyimpan gerimis dalam keranjangmu.”

Laki-laki di sampingku, tubuhnya terbalut mantel gelap dan syal tebal melingkari lehernya. Dia tahu hujan akan turun bila kami bertemu.

“Aku pernah melewati dua bulan di tempat yang sama sekali tak turun hujan. Jadi argumenmu tidak valid, Oscar.”

“Karena di sana kamu bahagia. Karena tidak ada yang membebankanmu atas kematian ayahmu.”

Tubuhku menegang. “Kamu tidak seharusnya datang ke sini,” kataku tegas. Di samping sebuket lily yang kubawa, sudah lebih dulu ada lavendel pemberian Oscar tergeletak di sana.

“Aku hanya memenuhi janjiku kepadamu, Ava. Aku tidak akan pernah meninggalkamu.”

Pandangan kami beradu. Banyak yang bilang mata hijau birunya persis sama dengan milikku. Rambutnya yang cokelat terang, kini menggelap karena mulai basah.

“Kamu berjanji tak akan menemuiku lagi.”

“Aku berjanji padanya.” Oscar menunjuk nisan. Ekspresi wajahnya menegas. “Bukan padamu. Dan aku tak pernah menemuimu, meski aku bisa saja tiba-tiba muncul di depan flatmu. Tak seorang pun akan curiga jika aku melakukan itu.”

Aku menghela napas. Mengamati matanya yang teduh. Mengapa kita tidak bersama?

“Ayah meninggal karena aku mencintaimu.” Hari itu masih teringat jelas dalam ingatanku. Kakinya terjulur, melayang di atas lantai. Sebuah tali diikatkan di kasau. Aku memejamkan mataku sekarang. Tak sanggup mengenang muka ayah.

“Dia membunuh dirinya sendiri karena ingin kita tak akan pernah melupakannya, Ava.”

Aku menelan ludah. Tubuhku menggigil. “Dia membencimu, Oscar.”

“Tentu saja dia membenciku karena aku gagal menjaga adik perempuanku sendiri dan malah jatuh cinta kepadanya?” Tatapannya menyengit dan kata-katanya dilontarkan sungguh nyelekit. “Pernahkah kamu menyadari mengapa dia memilih mati? Bukan perihal dosa, Ava. Bukan. Melainkan dia sungguh membenci dan mencintai kita. Satu-satunya jalan agar kita bisa bersama adalah lewat kematiannya.”

Semua itu seperti sesuatu yang sudah lama dipendamnya dan sekarang harus meluap. Pandangan matanya terluka. Mustahil matahari akan terbit dari sana. Justru sekarang aku menemukan senja, matahari yang merangkak untuk sembunyi. Dia bilang mencintaiku, namun selalu ada pilu menyertai di kedua matanya.

Itulah mengapa aku selalu pergi membawa hujan. Aku ingin mengingat pahit lewat matanya. Mengenang kesalahan yang kami perbuat berdua. Sebab, momen ketika aku jatuh cinta selalu bermula saat aku mendapati matahari terbit di matanya.

(478 kata)

Arcadia & Hadrian: Yang lebih biru dibanding lautan

30 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Pertemukan aku dengan ombak (bagian 29/terakhir)

the master

citra dari adegan pembuka di film the master.

Apa yang lebih biru dibanding lautan?

Pertanyaan itu menghampiriku saat mencoba menghitung buih yang pecah. Aku mulai membilangnya saat berdiri di buritan kapal–semua hanya biru, putih, biru muda, laut, ombak, dan buih. Kubiarkan rambutku diterbangkan angin. Aku senang berada di sini. Tak ada penyesalan ketika aku memutuskan untuk berkunjung.

“Nona.” Seorang pria tersenyum sopan dan berdiri berjarak denganku. Dia tersenyum. “Rambut Anda sangat indah,” pujinya, menatapku hormat.

Aku mengembangkan senyum malu-malu. “Terima kasih.”

Dia terdiam sejenak, lalu pamit kepadaku. Pria itu menyeberangi buritan, menuju selasar di bagian kiri kapal. Saat itulah, aku mengingat lagi tujuanku ke sini. Sosok yang berdiri di tepi pagar teras itu menyita perhatianku. Sejak tadi dia berada di sana, dilewati orang-orang dan tak ada yang berhenti menyapanya. Kehadirannya mungkin tak terdeteksi, atau orang-orang memang tak punya alasan apa pun untuk menghampirinya.

Belum lama sejak pertemuan kami di toko buku. Aku datang lagi ke tempat itu tapi tak pernah menemukannya lagi. Aku yang belum pernah melintas menuju masa depan pun melakukannya, untuk tahu apakah benar yang dikatakannya bahwa kami akan bertemu lagi. Agak sulit untuk menemukannya sebab aku hanya tahu namanya saja. Aku mengunjungi banyak masa depan yang mungkin terjadi, seringkali kembali dengan tagan kosong dan di sinilah, akhirnya aku menemukannya. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Daily drama category at Hero of The Drama.