Bubuk Kecemburuan

20 Mei 2014 § Tinggalkan komentar

Midore pernah jatuh hati. Ribuan purnama yang lalu. Ratusan kali matahari kembali ke posisi yang sama. Ia tak pernah lupa. Terlebih setiap kali meracik sari kacang kerdil, kesukaan Jonah.

Namanya Jonah, pemuda dari desa Morgorah. Terletak di kaki bukit yang sepenuhnya ditumbuhi pohon berbunga kristal biru. Salju turun sepanjang tahun. Ajaibnya, di sana, kacang kerdil terus tumbuh.

Perjalanan Midore ke sana untuk melengkapi ujian ramuan. Dari sudut ke sudut tanah Gaia, ia jelajahi. Perkamen berisi catatan hal-hal yang harus ia dapatkan kini sudah rombeng. Seperti halnya pakaian yang melekat di tubuhnya waktu itu. « Read the rest of this entry »

Negeri Kupu-Kupu dan Sejuta Kunang-Kunang

26 April 2014 § Tinggalkan komentar

Alkisah, di negeri kupu-kupu, terdapat distrik yang selalu mati lampu. Penduduknya taat membayar upeti. Bahkan, tak pernah lupa menyetor minyak dan gas bumi pada perusahaan lampu.

Elena, si kutu buku, geram karena setiap malam tak bisa me,baca buku. Ia mengirim surat berisi keluhan ke perusahaan lampu. Namun, surat-suratnya hanya ditanggapi seperti angin lalu.

Ibu kota negeri kupu-kupu nyaris tak pernah tersentuh gelap. Terang benderan dan penuh gedung bertingkat. Indah dan di sanalah perusahaan lampu berada. Elena medatangi tempat itu, lagi-lagi ia tak didengarkan dan dianggap hanya kutu.

Dalam perjalanan pulang ke distrik, Elena melewati sebuah danau. Ketika itu malam sudah turun, tetapi danau itu terang benderang. Ah, baru ia sadar di sana ada berjuta kunang-kunang. Terbang ke sana kemari dan membuat ia takjub sampai tak sadar hampir dini hari.

Elena pun lari hingga distrik. Bersimbah peluh, ia merasakan desakan dalam hatinya untuk menuju perpustakaan distrik. Ia menggedor pintu penjaga perpustakaan yang mengenalnya dan memaksa meminta kunci. Sepanjang hari, Elena membaca puluhan buku dan menulis catatan.

Persetan dengan mati lampu, ujarnya sambil menggertakkan gigi. Aku akan menciptakan energi alternatif!

Setelah seminggu berlalu, dengan catatan dalam beberapa buku, Elena pun maju. Ia memulai eksperimen untuk mencapai tujuannya dengan diam-diam. Elena menyulam jaring raksasa setelah seharian berada di dalam laboratorium kecilnya. Ia lupa makan, lupa merawat diri. Hingga pada suatu hari, Elena akhirnya menemukan formula untuk energi alternatifnya. Ia berlari keliling kampung, memeluk setiap orang, dan makan begitu banyaknya.

Hari itu pun datang ketika Elena harus pergi ke ibu kota. Di dalam ranselnya terlipat jaring besar dan botol-botol formula. Ia sudah kembali cantik dan menawan, meski jauh lebih kurus. Setengah perjalanan, ia bertemu seorang pemuda yang sedang memancing di danau. Pemuda itu bermata biru dan duduk di dekat keranjang ikan. Tak wangi, tapi punya lesung pipi. Melihat Elena yang keberatan dengan ranselnya, pemuda itu langsung menawarkan bantuan. Bersama-sama mereka menuju kota.

Pekerjaan Elena lebih mudah berkat bantuan si pemuda. Mereka memasang jaring di sekitar gedung perusahaan lampu dan ibu kota. Sementara, si pemuda menyelesaikan jaring terakhir, Elena masuk ke kota dan menebar formula. Setelah itu, ia dan si pemuda menunggu sembari menikmati ikan bakar.

Si pemuda bercerita kalau berasal dari kota. Hari ini ulang tahun adik dan ia berjanji membawakan ikan. Namun, karena Elena membuat hatinya berdesir, si pemuda lebih memilih menghabiskan waktu bersama Elena. Siapa tahu lain waktu mereka tak akan berjumpa.

Elena tertegun mendengar apa yang tertutur.

Usai mengisi perut, Elena mengajak si pemuda kembali masuk ke ibukota. Keduanya terpana di gerbang, menatap betapa gemerlap tempat itu. Begitu memesona dan mengagumkan. Elena merasa tersihir oleh apa yang ditangkap matanya. Terlebih, kini ada si pemuda di sampingnya. Tangan mereka saling genggam dengan mata yang berpendar.

Elena meminta si pemuda membantunya mengemas jaring di seluruh penjuru kota. Mereka kembali ke distrik tanpa harus menempuh jalan yang gelap. Sesampainya Elena di distriknya yang mati lampu, ia langsung membuka jaring. Membiarkan seluruh kunang-kunang di dalam jaring untuk terbang dan menerangi seluruh distrik.

Orang-orang pun bersuka cita. Si pemuda jatuh cinta. Ia dan Elena hidup bahagia. Tanpa Elena sadar jika virus yang mengubah manusia menjadi kunang-kunang terus terbang bersama angin. Mungkin, suatu hari akan tiba di distriknya.

Pencuri Waktu

14 Januari 2014 § 8 Komentar

“Jangan menangis terus, nanti air matamu habis dan kau tak akan bisa melihat kunang-kunang lagi. Kau lihat? Di bawah lampu penerangan itu….”

Aku menyibak tirai jendela. Memandang lurus ke seberang jalan rumah.

“Aku melihatmu,” sahutku dengan pekikan tertahan.

Langkah-langkahku gesit meringkas jarak. Aku menarik pintu tergesa-gesa. Meluncur dalam dinginnya malam yang menjelang pagi itu. Kakiku menyentuh aspal yang membeku, tetapi aku tak peduli lagi. Cuma kamu yang aku tuju.

Kamu merentangkan tangan, memelukku yang menghambur kepadaku. Tubuhku menggigil dalam pelukanmu yang hangat. Akan tetapi, aku bertahan di situ, merengkuhmu seerat yang aku bisa. « Read the rest of this entry »

Penyihir Hujan

3 November 2013 § 1 Komentar

Hujan turun tiap kali pria bertopi pet itu muncul.

Warnanya putih, hitam, atau kelabu. Lalu seperti itulah suasana yang kauterima setelah hujan berhenti.

Aku kira semua hanya ketidaksengajaan. Di seberang flat yang ia tempati, sebuah toko buku tua kujaga. Belum lama ia tinggal di sini. Sendiri. Selalu terlihat seorang diri. Mantelnya hitam. Syal rajut biru tua melingkari lehernya. Sama setiap kali.

Setiap kali pintu flatnya terbuka, hujan turun tak terkira.

Pada waktu itu, pengunjung toko nyaris tak ada. Aku melamun keluar jendela dengan buku tua terbuka di atas meja. Kata pemilik toko, buku itu berbahaya dan berisi mantra. Ah, aku tidak percaya. Bahkan aku tidak mengerti bahasa yang ditulis di dalam sana. « Read the rest of this entry »

Pria Bermata Biru di Balik Gerbang Kayu

28 Oktober 2013 § 8 Komentar

Hujan bertamu lewat jendela. Maka, setiap kali langit bertingkah seperti amuba, aku mendorong daun jendela hingga menempel pada dinding. Angin berpesta, menyapa ranting dan pucuk-pucuk pohon. Membawa daun-daun kering sampai ke ujung kakiku.

Mama bilang, tidak baik membuka jendela saat hujan—mengundang petir. Aku tidak peduli. Di sofa merah marun yang hangat, aku duduk bergelung. Suara hujan dan guntur bisa jadi hiburan paling menyenangkan sepanjang hari. Meja kayu bulat di sebelahku diisi buku dan seteko teh hangat.

Beberapa hari terakhir perhatianku tersita pada pintu kayu di seberang halaman. Serat-serat dan warna pudar menunjukkan betapa kayu itu sudah berumur. Berupa gerbang besar yang menjadi pintu masuk sebuah rumah yang sudah lama tidak ditinggali. Aku melihatnya, terbuka. « Read the rest of this entry »

Cinta

29 September 2013 § 9 Komentar

(sumber gambar: weheartit)

Setiap orang nggak punya cukup waktu untuk mengalami semua hal. Melalui pengalaman orang lainlah, kita diberi kesempatan untuk merasakannya.

**

Empat hari empat malam aku terjebak di kamar kosku, menemani sahabatku, Nadira, meratap. Sebelum tidur dan pagi sesudah bangun tidur adalah jadwalnya menangis. Atau, terkadang bisa saja tanpa kenal waktu ia tersedu sedan seperti kesetanan.

Semua itu gara-gara Rendra. Pria yang baru saja memutuskan hubungan dengannya setelah dua tahun bersama.

Aku kenal dengan Rendra, meski tidak terlalu baik. Aku tahu naik turun kisah asmara mereka berdua. Sejak pertama saling mengenal, hingga saat akhirnya orang tua keduanya tahu dan tidak merestui. Seluruh cerita selalu meluncur dari bibir Nadira tanpa kuminta.

Maka, setiap kali tangisnya meledak, aku duduk di sampingnya. Mendengarnya menyabak tentang manta kekasihnya, mengenai betapa jahat Rendra yang sekarang sudah pamer kemesraan dengan pacar barunya, dan bagaimana Nadira masih begitu cinta. Ia membodoh-bodohi dirinya sendiri atas segala hal yang sudah dilakukannya. Rela melintasi satu benua demi menemui Rendra. Ia menggantungkan mimpi-mimpinnya untuk diraih dengan Rendra. Sekarang, Rendra mengempaskannya bagai ampas kelapa tiada guna. « Read the rest of this entry »

Komposisi Memori

5 Juli 2013 § Tinggalkan komentar

“Dari apa memori dibuat?”

Lyanna melihatnya. Di bawah siraman cahaya matahari. Kursi yang bergoyang sendiri. Sepasang tangan bertautan. Berkilau-kilau. Kemudian berpisah.

Kedua mata Lyanna terbuka. Imaji itu berulang di benaknya. Semua tampak nyata, seakan tersusun dari sebagian mimpi dan sisanya adalah kenangan. Lyanna menghela napas panjang. Menyadari jika masih ada tiga puluh hari tersisa untuknya.

**

Potret-potret itu dijajarkan pada pagar kayu yang masih terlihat kokoh meski sudah termakan cuaca. Langit berselimut kegelapan. Cahaya lampu neon menerangi wajah-wajah dalam foto. Banyak paras milik orang yang sama.

Lyanna mengumpulkan gambar-gambar itu sejak beberapa hari lalu. Dari bumantara yang ia bidik, tidak sengaja sosok itu tertangkap olehnya. Bermenit-menit Lyanna mengamati pemilik wajah di layar kameranya. Lalu senyum mengisi seluruh bibirnya, membuat keelokannya kian muncul. Dia yang jatuh cinta selalu cantik. Lyanna hanya butuh dua puluh menit untuk menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta. Dua puluh menit di dua puluh sembilan hari yang ia punya.

Sekarang, Lyanna masih memiliki sepuluh hari. Ia menempelkan foto terakhir yang diambil sehari sebelumnya. Warna langit yang kelam berubah agak terang. Sebentar lagi rawi muncul dan akan diikuti oleh dia yang ada di dalam potret. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Fairytales category at Hero of The Drama.