Aku Hanya Mau Kamu. Titik.

15 Januari 2012 § 15 Komentar

“Aku hanya mau kamu. Titik.”

“Kenapa harus gue sih?” katanya sebal sambil menutupi kepalanya dengan bantal. “Masih banyak tuh yang lain. Ajak Arga atau David aja. Atau siapa gitu intern di kantor pasti mereka mau.”

“Ayo dong, Mike,” bujuk Aurora seraya menarik-narik lengan pria itu.

“Sejak kapan asisten maksa-maksa bosnya sendiri?”

“Kondangan doang. Sebentar. Ayo dong, Mas Michael Ararya Abimanyu….” Tak ada sahutan. “Aku yang nyetir deh.” Ruangan itu masih hening. “Wine… Aku beliin wine deh.” Aurora terus mencoba merayu. Akan tetapi, pria yang dipanggil Mike itu masih tetap berbaring tanpa kata-kata. “Hmm… Aku beliin merch dari SURU deh.”

Terdengar hela napas panjang. “Penting banget kayaknya kondangannya,” ujar Mike seraya melemparkan bantalnya pada Aurora yang duduk di tepi ranjangnya.

“Mantan tunangan.” Aurora mengatakan itu dengan agak tercekat. Ia masih belum bisa lupa bagaimana pertunangannya berakhir setengah tahun lalu.

“Ehm…. Pantes pagi-pagi begini lo udah dandan.”

Aurora menarik napas panjang dan memandang Michael dengan lembut. “Ayo, Mikey, kamu segera mandi dan aku siapin pakaian buat kamu….”

“Kayaknya gue gak butuh pasangan, kalau lo terus-terusan gue pekerjakan sebagai asisten gue,” katanya sembari menyingkap selimut dan turun dari ranjang.

Aurora tertawa nyaring. “Apa pun deh mau kamu,” ujar Aurora masih terkekeh. Sementara Michael bersiap di kamar mandi, Aurora berjalan ke closet milik Michael.

Aurora sedang merapikan tempat tidur Michael, saat ponsel pria itu berbunyi. Ia meraih ponsel itu dari atas meja nakas, menatap pada ikon telepon masuk dan mendiamkannya. Panggilan itu pun berhenti, tampilan layarnya kini memperlihatkan wallpaper yang dipasang Michael.

“Siapa, Ra?”

“Amelia,” jawab Aurora datar. Ia mengambil pakaian untuk Michael yang diletakkannya di tepi tempat tidur, lalu menyerahkannya pada pria yang baru saja keluar dari kamar mandi itu. “Oh ya, Mike. Aku akan mengajukan resign besok, makanya aku ngajak kamu temenin aku hari ini.”

“Kenapa?” tanya Michael terkejut sambil meraih pakaian dari tangan Aurora.

“Hmm… aku kira kita cukup bekerja sama selama tiga tahun terakhir.”

“Apa karena gue terlalu sering ngasih pekerjaan-pekerjaan tidak jelas? Apa gue terlalu sering ngamuk sama lo ketika menjelang deadline? Melibatkan lo untuk mengurusi hal-hal pribadi gue atau…? Kasih gue alasan….”

Aurora menggelengkan kepalanya. Ia mengamati lekuk wajah Michael. “Aku ingin move on….

“Apa?! Lo kedengeran kayak orang baru patah hati,” ledek Michael sambil tertawa.

“Kalau iya…?” balas Aurora sendu.

“Siapa yang berani bikin asisten gue sedih? Bilang, Ra. Biar gue datengin orangnya. Bisa berantakan nanti hidup dan kerjaan gue kalo gak ada elo.”

“Kupikir aku mencintaimu,” sahut Aurora seraya menatap Michael dalam-dalam. Aurora bergerak mendekat dan memeluk Michael. Kedua tangannya melingkari leher Michael, Aurora menyandarkan kepalanya di dada bahu pria itu.

“….”

Aurora masih bisa melihat jelas ponsel Michael yang digenggamnya. Layarnya menampakkan wallpaper Michael dengan seorang perempuan menawan. Jelas bukan Aurora, tapi Amelia, kekasih Michael sejak sebulan lalu.

“Aku hanya mau kamu, Michael. Hanya untukku. Aku hanya mau kamu. Titik.”

Bogor, 15 Januari 2012

Iklan

Drama

14 Oktober 2011 § Tinggalkan komentar

Sepasang mata itu mengerjap dan aku mengedip. Selanjutnya terdengar suara pintu di tutup dan sepasang mata itu menghilang, sementara pandanganku beralih ke langit-langit kamar ini. Tanganku bergerak mengusap dahiku sendiri, lalu berucap tanpa suara, “Bodoh.”

Bodohnya aku.

Aku ingat betapa aku seringkali kesal dengan adegan film ketika seorang perempuan selingkuh dengan sahabatnya dan ketahuan. What the hell! Bukannya si perempuan dan sahabatnya itu adalah orang terdekat si kekasih, seharusnya mereka bisa sama-sama menjaga perselingkuhan mereka. Tidak perlu merasa tidak enak—semua demi perdamaian mereka dan dunia pastinya.

Aku menarik napas panjang.

Nyatanya menjaga rahasia tak semudah membalikkan telapak tangan. Kecuali rahasia dibawa mati, maka rahasia itu berada dalam kondisi tidak aman.

Apa aku berselingkuh? Tidak.

Kecuali… kalian menganggap ini sebuah perselingkuhan.
« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Metrodrama category at Hero of The Drama.